Catatan kecil-kecilan
Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan yang menjadikan seorang Kyai sebagai figur sentral dalam sistem pendidikannya. Sebagai seorang pemimpin sekaligus teladan Kyai selalu menasihati guru maupun santri-santrinya. Dalam tulisan pendek ini saya bermaksud mengungkapkan kembali pesan guruku, KH. Mahrus Amin.1 Secara umum ada dua pesan guru saya yang sangat mengakar dalam diri saya. Pertama, beliau mengatakan bahwa pesantren merupakan tempat penempaan diri atau meminjam bahasa beliau ‘’tempat para santri digembleng’’. Di pesantren santri-santri dididik dan dibina serta dibentuk secara fisik maupun secara spiritual sehingga melihirkan generasi-generasi yang mampu memperjuangkan agama, bangsa dan negaranya. Beliau mengibaratkan seseorang yang belajar di pesantren seperti kita menanam sesuatu, sesuatu yang kita tanam itu harus selalu diperhatikan, disiram dengan air yang cukup, ditanam di tempat yang aman sehingga tidak dijangkau binatang dan juga tidak terkena virus-virus yang bisa merusak tanaman tersebut. Seorang santri yang sedang menempuh pendidikan di pesantren pun demikian harus selalu diperhatikan apa yang menjadi santapannya sehari- hari baik berupa santapan jasmani maupun rohani. Sehingga tumbuh menjadi manusia berkarakter yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Saya pun berkeyakinan bahwa seorang guru tidak mungkin menghidangkan kepada muridnya hidangan yang bercun atau kasarnya seorang guru tidak mungkin meracuni muridnya. Maka setiap hidangan itu harus disantap dengan lahap tanpa pilah pilih nasi saja, atau sayur saja atau lauknya saja, tidak. Itu santapan terbaik yang guru hidangkan. Kedua, beliau mengatakan bahwa seorang santri tidak hanya seperti nabi saja tapi lebih dari pada itu seorang santri harus menjadi seperti rasul. Seorang nabi menurut beliau mendapatkan wahyu dari Allah tetapi apa yang dia dapatkan hanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan seorang rasul mendapatkan wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada umatnya. Apa yang beliau katakan sangan benar karena diera globalisasi ini generasi muda telah banyak tepengaruh oleh budaya barat yang matrealistis. Budaya yang sangat mendewakan materi, materi sebagai tolak ukur kehidupan. Sehingga membuat generasi muda islam lupa dan jauh dari agama islam yang luhur.Maka kebutuhan kepada orang-orang yang mampu menyampaikan kembali pesan-pesan suci para nabi dan rasul mutlak diperlukan. Pesantren sebagai subuah lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan sejak petama kali kemunculannya di nusantara ini selalu berusaha ikut berperan serta dalam mengatasi masalah-masalah yang berkembang di masyarakat dengan cara membentuk dan mencetak manusia-manusia unggul. Dengan bermodalkan ilmu yang diperoleh di pesantren dan ditopang dengan kekuatan iman, maka pesantren diharapkan dapat berbuat lebih melalui para alumni-alumninya.2
______________________________________
1.Pimpinan pondok pesantren Darunnajah Jakarta
2.Nasrul Ali. Artikel. Majelis ilmu
