
Dalam Acara Wisuda Santri
Minggu, 14 Mei 2017
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor
Selamat kepada Darunnajah 2 Cipining atas prestasi yang telah dicapai.
Pesantren Darunnajah lahir dari Pondok Modern Gontor.
PM Darussalam Gontor didirikan oleh 3 orang bersaudara, KH Ahmad Sahal, KH Imam Zarkasyi dan KH Zainudin Fanani. Ketiganya bertekad mendidik anak-anak kaum muslimin. Mereka mewakafkan seluruh harta dan diri mereka fii sabilillah, kecuali rumah yang mereka tempati.
Berkat keikhlasan dan perjuangan yang sungguh-sungguh Gontor bisa berkembang. Bersama Gontor, lahir anak-anaknya Gontor. Yaitu pesantren-pesantren alumni. Salah satunya Darunnajah.
Diantara pesantren alumni yang pertama lahir, ada pesantren Wali Songo Ngabar, ada Pesantren Pabelan, ada Pesantren Darunnajah, dan juga Pesantren Darul Qolam.
Darunnajah didirikan oleh Almarhum Bapak KH Abdul Manaf. Ikhlas hanya untuk Allah SWT. Semua ini bisa berkembang karena bermodalkan tekad dan ikhlas hanya untuk Allah SWT.
Banyak orang berfikir keberhasilan pesantren adalah karena fasilitasnya. Lalu supaya pesantrennya dianggap maju dan modern fasilitasnya dibuat serba wah.
Didirikanlah gedung-gedung mewah. Asramanya super, pakai AC, bukan sekedar tempat tidur, pakai karpet, satu kamar isinya hanya dua orang, pakai meja belajar yang mewah, tiap kamar ada komputer dan lain sebagainya.
Berhasilkah pendidikan pesantren yang seperti itu?
Banyak juga wali murid yang kadang-kadang berfikirnya materialistis, mereka mengutamakan fasilitas yang semacam itu.
Tapi kalau kita memperhatikan kenyataan di lapangan, orang-orang yang menjadi pemimpin di negeri ini justru adalah anak-anak hasil didikan pesantren, yang fasilitasnya sangat sederhana.
Kenapa? Karena memang disinilah mental spiritual dididik. Pesantren kita Gontor dan seluruh jaringannya mendidik mempersiapkan kader yang siap berjuang di masyarakat. Kader yang siap terjun di masyarakat, bukan kader manja yang ingin dimanja oleh masyarakat.
Karena itulah jika Bapak-bapak atau Ibu-ibu bertanya berapa jumlah gaji guru di pesantren Darunnajah, pasti tidak akan mendapatkan jawaban. Karena gajinya mahal.. Sangat tinggi gajinya, gajinya surga. Bukan surga dunia tapi surga di akhirat nanti yang dijanjikan Allah SWT.
Mereka semua tidak mengenal istilah gaji, mereka semua beramal dan berdedikasi. Kami beramal karena Allah untuk keberhasilan umat dan kader-kader umat.
Memang realistis manusia butuh hidup. Kesejahteraan guru itu pondok yang memikirkan. Makan, pendidikan, keluarga, kebutuhan guru, pondok selalu memikirkan.
Tapi guru kami tidak kami didik untuk materialistis. Inilah prinsip pondok-pondok alumni Gontor.
Santri-santri, jangan remehkan arti piring yang kalian dibawa dari kamar ke dapur. Kami bisa saja menyediakan dapur mewah dengan makanan siap saji prasmanan yang setelah selesai piring ditinggal lalu dicucikan.
Pondok sangat bisa menyediakan itu, pondok bukan tidak mampu. Tapi kami ingin kalian belajar dari semua proses itu. Membawa piring ke dapur, kemudian dicuci sendiri, lalu dibawa kembali ke kamar. Itu nilai pendidikannya sangat tinggi.
Kalian di asrama berkumpul bersama teman-teman. Ada Ketua Rayon, ada Qismul Amn, ada Sekretaris, ada Bagian Kebersihan dll, itu semua pendidikan.
Kami mempersiapkan kalian menjadi manajer yang mempunyai kemampuan manajemen yang tinggi semenjak kalian masuk ke pesantren ini.
Jadi bersama-sama di kamar itu jangan diartikan negatif. Memang kalau orang sembrono bisa jadi sumber penyakit kalau dia tidak bersih, karena itulah kami didik santri-santri di kamar bersama-sama agar dapat menjaga kebersihan. An-Nazhofatu Minal Iman.
Oleh karena itu Bapak-bapak/Ibu-ibu saudara-saudara sekalian jangan remehkan arti pesantren. Kesederhanaan nilainya sangat mahal.
Diatas itu semua, keberhasilan pesantren adanya di Kiyai yang sangat ikhlas. Kyai yang ditunjang oleh keluarga sepenuh hati untuk ikhlas mengabdi bagi kader-kader umat ini.
Jadi bukan karena gedungnya sebuah pesantren akan maju, bukan karena fasilitasnya yang super mewah sebuah pesantren akan dicari oleh orang, tapi karena kiyainya.
Banyak orang yang berfikir ingin mendirikan pesantren yang super mewah dan bagus, tapi mereka tidak mengerti bahwa keberhasilan pesantren bukan karena gedungnya, tapi karena nilai-nilai perjuangannya, dan karena pengabdian yang ada di pesantren itu sendiri.
Inilah prinsip-prinsip yang harus dipertahankan oleh pesantren. Karena itu di pesantren kita ada yang namya Panca Jangka, Panca Jiwa. Nilai-nilai itu sangat besar artinya untuk masa depan kalian di masyarakat.
Berkat kesungguhan, kalian semua sekarang berhasil. Jangan bangga dengan keberhasilan yang kalian capai saat ini, kalian sudah belajar “Ala Qodrima ta’tani tanaalu ma tatamannaa” sebesar perhatianmu sebesar itu pula hasil yang akan kalian capai.
Maka ketika kalian keluar dari pesantren ini nanti, anak-anakku sekalian, terus gantungkan cita-cita yang tinggi sambil berusaha dan berdoa kepada Allah SWT.
Berusahalah maksimal untuk mencapai cita-citamu itu, kelak Allah akan kabulkan cita-cita kalian semua. Saya yakin diantara kalian akan ada yang menjadi pemimpin di negeri ini. Amin.
Amin saja tidak cukup, harus diusahakan dengan perjuangan. Maka beraminlah sambil berusaha sejak sekarang. Jika kalian sudah berusaha dan hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapakan, yakinlah pilihan Allah adalah terbaik.
Jangan sekali-kali punya rasa putus asa ketika sebuah harapan belum tercapai, teruslah berusaha pasti Allah akan kabulkan apa yang jadi cita-cita kalian.
Tidak terasa anak-anakku di Darunnajah ada yang sudah 4 tahun, 6 tahun, 12 tahun. Awal masuk Darunnajah masih imut-imut, keci-kecil, sekarang sudah ganteng-ganteng dan cantik-cantik. Ini berkat didikan Bapak KH Jamhari beserta Ibu dan segenap guru-guru, maka berterimakasihlah.
Khairunnasi anfa’uhum linnasi, sebaik-baik manusia adalah yang paling bemanfaat bagi manusia lain. Maka jadilah orang yang selalu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, dalam segala hal.
Jika kalian melaksanakan ini semua, insyaallah di masa depan kalian akan menjadi orang-orang yang sukses. Aamiiin.