Persahabatan Lintas Pulau yang Hanya Bisa Terjadi di Pesantren

Di salah satu kamar asrama pesantren, enam anak tidur berdekatan setiap malam. Satu dari Aceh, satu dari Kalimantan Barat, satu dari Jakarta, satu dari Nusa Tenggara, satu dari Sulawesi, dan satu lagi dari kampung kecil di Jawa Tengah. Mereka tidak saling mengenal sebelumnya. Bahkan logat bicara mereka saja berbeda-beda. Tapi enam bulan kemudian, mereka bisa saling memahami isyarat masing-masing tanpa perlu membuka mulut.

Apa yang terjadi ketika anak dari berbagai penjuru Indonesia hidup seatap?

Di hari-hari pertama, yang paling terasa adalah perbedaan. Logat yang belum biasa di telinga. Kebiasaan makan yang tidak sama. Cara menyapa yang berbeda dari satu daerah ke daerah lain. Ada yang terbiasa makan pedas luar biasa, ada yang sama sekali tidak tahan cabai. Ada yang bicaranya cepat dan lantang, ada yang pelan dan penuh jeda.

Perbedaan-perbedaan kecil itu bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Justru dari situlah rasa ingin tahu mulai tumbuh.

Pertanyaan-pertanyaan ringan mengisi percakapan santri baru di minggu-minggu awal. Itu bahasa apa. Di kampungmu ada apa. Coba ajarin aku ngomong pakai bahasamu. Tanpa disadari, pertanyaan-pertanyaan itu menjadi pintu masuk persahabatan yang tidak mengenal batas peta.

Seberapa cepat perbedaan itu berubah menjadi keakraban?

Lebih cepat dari yang siapa pun bayangkan. Satu pekan tidur di kamar yang sama, antri kamar mandi bersama, makan dari nampan yang sama — semua itu mempercepat proses yang di luar pesantren mungkin butuh waktu bertahun-tahun.

Di pesantren, tidak ada label. Tidak ada kelompok berdasarkan asal daerah. Sistem penempatan kamar memang dirancang supaya satu kamar berisi santri dari berbagai provinsi, agar pergaulan tidak terbatas pada lingkaran yang sudah dikenal.

Hasilnya terasa di hal-hal kecil. Ada yang mengajarkan lagu daerahnya kepada teman sekamar dan sekarang seluruh kamar hafal menyanyikannya. Ada yang membawakan makanan khas daerah setiap kali pulang liburan, sampai teman-temannya ikut merindukan masakan dari tempat yang belum pernah mereka kunjungi. Ada yang bertukar cerita tentang kampung halaman saat lampu asrama sudah dipadamkan — dan cerita-cerita itu mengubah cara mereka melihat Indonesia.

Apa yang sebenarnya terbentuk dari keberagaman ini?

Empati. Itu kata yang paling tepat.

Ketika seorang santri dari kota besar mendengar cerita temannya yang rumahnya harus menyeberangi sungai dulu sebelum sampai ke jalan raya, perspektifnya tentang dunia langsung melebar. Bukan dari menonton dokumenter atau membaca berita, tapi dari mendengar langsung — dari teman yang setiap malam tidur di sampingnya.

Pesantren dengan motto “Berdiri Di Atas Dan Untuk Semua Golongan” memang dirancang sebagai tempat berkumpulnya anak-anak dari berbagai latar belakang. Bukan hanya berbeda daerah, tapi berbeda kondisi ekonomi, berbeda suku, berbeda kebiasaan. Kesamaan mereka hanya satu: mereka sama-sama santri yang menjalani hari-hari yang sama.

Dan kesamaan itu ternyata lebih dari cukup untuk membangun ikatan.

Bahasa menjadi jembatan yang menarik. Santri yang belajar bahasa Arab dan Inggris secara bilingual menemukan bahwa bahasa asing justru menjadi bahasa netral di antara mereka. Tidak ada yang lebih unggul karena logat daerahnya lebih halus atau lebih lancar. Di bahasa asing, semua memulai dari titik yang sama. Kesetaraan itu menghapus sekat yang di tempat lain mungkin butuh usaha besar untuk dihilangkan.

Apakah persahabatan ini bertahan setelah keluar dari pesantren?

Ini bagian yang sering membuat alumni terdiam sejenak ketika ditanya.

Persahabatan yang terbentuk di asrama pesantren punya daya tahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan karena ada sumpah atau perjanjian tertulis, tapi karena ikatan itu dibangun dari pengalaman yang sangat personal — bangun sahur bersama saat Ramadhan, saling membangunkan untuk tahajud di malam-malam biasa, saling menguatkan di saat rindu rumah terasa paling berat.

Pengalaman seperti itu tidak mudah tergantikan.

Alumni pesantren yang sudah terpencar ke berbagai kota dan negara tetap menjaga koneksi ini dengan cara yang natural. Mereka hadir di momen penting satu sama lain meski jarak memisahkan. Mereka saling membantu ketika salah satu membutuhkan koneksi di kota yang belum dikenal. Jaringan yang terbentuk dari kehidupan asrama ini luas, beragam, dan tulus — karena fondasinya bukan kepentingan, tapi kebersamaan yang tidak bisa direkayasa.

Mengapa persahabatan seperti ini sulit ditemukan di tempat lain?

Di sekolah umum, anak pulang ke rumah masing-masing setiap sore. Interaksi terbatas pada jam belajar. Kelompok pertemanan cenderung terbentuk berdasarkan kedekatan tempat tinggal atau kesamaan latar belakang. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi sangat jarang menghasilkan ikatan yang menembus batas pulau dan budaya.

Di pesantren, batas-batas itu dihapus sejak hari pertama. Anak dari keluarga pedagang kecil di pelosok Flores duduk semeja dengan anak dari keluarga profesional di Jakarta. Mereka makan makanan yang sama, memakai seragam yang sama, mengikuti jadwal yang sama, sholat berjamaah di shaf yang sama. Kesetaraan ini bukan slogan — ini kenyataan yang dijalani setiap hari selama bertahun-tahun.

Anak-anak yang masuk dengan hanya mengenal satu budaya, keluar dengan membawa pemahaman tentang puluhan budaya. Mereka tahu cara bercanda yang pas untuk teman dari Batak dan cara menyapa yang cocok untuk teman dari Sunda. Kecerdasan sosial semacam ini tidak diajarkan di kelas mana pun — ia tumbuh dari hidup berdampingan dengan orang-orang yang berbeda.

Di Pesantren Darunnajah 2 Cipining, santri dari seluruh Indonesia berkumpul dan menjalani hari-hari yang membentuk mereka menjadi manusia dengan cara pandang yang lebih luas. Keberagaman di sini bukan program tambahan atau acara setahun sekali — melainkan udara yang dihirup setiap hari, setiap saat.

Salah satu hal yang paling sering dikatakan alumni saat bertemu kembali adalah betapa kecilnya dunia terasa ketika kita punya teman di hampir setiap provinsi. Dunia yang tadinya hanya sebesar kampung halaman, tiba-tiba membentang seluas Nusantara — dan semua bermula dari kamar asrama yang tidak terlalu besar, tapi cukup luas untuk menampung cerita dari berbagai penjuru negeri.

Buat yang ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri dan bagaimana keberagaman ini membentuk karakter anak, bisa langsung ngobrol lewat WhatsApp 0812111180. Setiap cerita keluarga selalu disambut dengan hangat.