Di pesantren, layar bukan sesuatu yang bisa diakses kapan saja. Tidak ada ponsel pribadi. Tidak ada televisi di kamar asrama. Akses ke hiburan visual sangat terbatas, dan justru keterbatasan itulah yang membuat momen nonton bareng — ketika akhirnya diizinkan — menjadi salah satu kegiatan yang paling ditunggu dan paling dikenang oleh santri.
Nonton bareng di pesantren biasanya hanya terjadi di momen-momen tertentu. Hari besar nasional. Peringatan keagamaan. Akhir semester sebagai hadiah setelah ujian selesai. Atau kadang di saat ada pertandingan sepak bola nasional yang memang ingin ditonton seluruh pesantren. Frekuensi yang jarang itulah yang membuat setiap momen nonton bareng terasa sangat istimewa.
Persiapan biasanya sudah dimulai dari sore hari. Layar putih besar dibentangkan di aula atau halaman terbuka. Proyektor dipasang dan diuji. Kabel-kabel disambungkan oleh santri pengurus multimedia yang sudah terbiasa mengurus teknis acara. Kursi atau tikar digelar di area penonton. Santri yang mendengar kabar bahwa malam ini ada nonton bareng langsung bersemangat — suasana asrama berubah, ada energi yang berbeda dari malam-malam biasa.
Malam tiba, dan ratusan santri duduk bersama menghadap satu layar yang sama. Lampu dipadamkan. Suara proyektor mendengung pelan. Lalu gambar pertama muncul di layar, dan seluruh area penonton berubah menjadi bioskop dadakan yang suasananya jauh lebih hidup dari bioskop manapun.
Reaksi penonton pesantren selalu lebih ekspresif dari penonton bioskop di luar. Adegan lucu disambut dengan tawa yang meledak dari ratusan mulut secara bersamaan — suara yang keras dan tulus. Adegan tegang membuat seluruh area hening, hanya terdengar hembusan napas tertahan. Adegan mengharukan kadang diikuti oleh suara seseorang yang pura-pura batuk untuk menutupi fakta bahwa matanya basah. Reaksi kolektif itu menciptakan pengalaman menonton yang sama sekali berbeda dari menonton sendirian di kamar.
Film atau tayangan yang diputar biasanya sudah diseleksi oleh pengurus pesantren. Film dokumenter tentang sejarah Islam, film inspiratif tentang perjuangan hidup, atau pertandingan olahraga yang memang layak ditonton bersama. Konten yang dipilih selalu punya nilai — bukan sekadar hiburan kosong, tapi sesuatu yang bisa menjadi bahan obrolan dan refleksi di hari-hari berikutnya.
Momen setelah film selesai sering sama serunya dengan filmnya sendiri. Santri berjalan kembali ke asrama sambil berdiskusi. Siapa karakter yang paling mereka sukai. Bagian mana yang paling berkesan. Apa pelajaran yang bisa diambil. Diskusi itu kadang berlanjut sampai lampu kamar dimatikan, dan menjadi bahan obrolan lagi keesokan harinya di kantin.
Nonton bareng juga mengajarkan sesuatu yang tidak tertulis di kurikulum manapun. Kita belajar menikmati sesuatu bersama-sama, bereaksi bersama-sama, dan memproses apa yang kita lihat melalui percakapan dengan orang lain. Di zaman di mana menonton sudah menjadi aktivitas sangat individual — layar kecil, headphone, sendiri di kamar — kemampuan menikmati hiburan secara kolektif adalah sesuatu yang semakin langka dan semakin berharga.
Di Darunnajah 2 Cipining, kegiatan nonton bareng menjadi salah satu momen rekreasi yang diberikan kepada santri di waktu-waktu tertentu. Momennya jarang, tapi justru karena jarang itulah setiap kali terjadi selalu menjadi kenangan yang disimpan lama.
Kadang hal yang paling kita nikmati bukan yang tersedia setiap saat. Justru yang langka — yang harus ditunggu, yang datangnya tidak bisa diprediksi — yang akhirnya paling membekas.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.