Perpustakaan dan Budaya Membaca di Pesantren yang Jarang Disorot

Kalau bicara pesantren, yang biasanya dibahas adalah asrama, masjid, lapangan, atau kurikulum. Perpustakaan jarang mendapat sorotan. Padahal di banyak pesantren modern, perpustakaan punya peran yang cukup penting dalam kehidupan santri — meskipun mungkin tidak selalu terlihat dari luar.

Apa peran perpustakaan di pesantren?

Perpustakaan pesantren bukan hanya tempat meminjam buku untuk tugas. Ini ruang yang punya fungsi lebih luas: tempat belajar mandiri di luar jam kelas, tempat mengerjakan riset untuk tugas fathul kutub, tempat melarikan diri sejenak dari keramaian asrama, dan kadang sekadar tempat duduk tenang untuk membaca apa saja yang menarik.

Di pesantren yang menerapkan kurikulum TMI, ada tradisi fathul kutub — riset mandiri di mana santri diminta mencari jawaban atas pertanyaan tertentu dari kitab-kitab referensi di perpustakaan. Tradisi ini secara alami mendorong santri untuk terbiasa mencari informasi dari buku, bukan dari internet. Di era di mana sebagian besar anak mencari jawaban lewat Google, kemampuan ini menjadi cukup langka dan berharga.

Apakah semua santri rajin ke perpustakaan? Tentu tidak. Seperti di sekolah mana pun, ada yang rajin membaca dan ada yang lebih memilih kegiatan lain. Perpustakaan menyediakan kesempatan — tapi memanfaatkannya tetap pilihan masing-masing santri.

Koleksi seperti apa yang tersedia?

Perpustakaan pesantren biasanya memiliki koleksi yang cukup beragam: kitab-kitab klasik dalam bahasa Arab, buku-buku pelajaran umum, novel, ensiklopedia, majalah, dan referensi berbagai bidang. Beberapa pesantren juga punya koleksi dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Apakah koleksinya selengkap perpustakaan kota atau universitas? Tentu tidak. Ini perpustakaan di lingkungan pesantren, dengan anggaran dan ruang yang terbatas. Tapi untuk ukuran lembaga pendidikan yang melayani santri usia remaja, variasinya biasanya sudah cukup memadai untuk mendukung kebutuhan belajar dan membaca rekreatif.

Yang menarik, karena santri tidak punya akses ke internet atau gadget, perpustakaan menjadi satu-satunya sumber informasi di luar kelas selain bertanya langsung ke guru. Ini menciptakan hubungan dengan buku yang lebih intens dibandingkan anak-anak di luar pesantren yang punya banyak sumber alternatif.

Bagaimana budaya membaca tumbuh di pesantren?

Budaya membaca di pesantren tumbuh dari beberapa faktor. Pertama, ketiadaan gadget. Ketika tidak ada layar untuk mengisi waktu luang, buku menjadi salah satu hiburan utama. Banyak santri yang mulai membaca bukan karena disuruh, tapi karena butuh sesuatu untuk mengisi waktu.

Kedua, tradisi akademik pesantren itu sendiri. Kurikulum TMI yang mencakup ilmu agama dan umum membutuhkan banyak referensi. Santri yang ingin memahami pelajaran lebih dalam secara alami terdorong untuk membaca lebih banyak.

Ketiga, pengaruh teman. Ketika ada satu atau dua orang di kamar yang rajin membaca, kadang kebiasaan itu menular. Ada semacam budaya peer learning yang tumbuh organik — santri meminjamkan buku ke teman, mendiskusikan apa yang dibaca, atau sekadar merekomendasikan judul yang menarik.

Apakah budaya ini tumbuh secara sempurna? Tidak. Ada santri yang tetap tidak tertarik membaca meskipun tidak punya gadget. Ada yang lebih memilih olahraga atau kegiatan sosial di waktu luangnya. Dan itu tidak apa-apa — tidak semua orang harus menjadi kutu buku.

Apa dampaknya bagi santri?

Santri yang terbiasa membaca biasanya punya keunggulan dalam hal kosa kata, kemampuan menulis, dan keluasan wawasan. Di pesantren yang menjalankan tradisi penulisan insya — menulis karangan dalam bahasa Arab — dan penulisan mading tiga bahasa, kemampuan membaca menjadi fondasi yang sangat berguna.

Beberapa santri bahkan menemukan minat menulis dari kebiasaan membaca. Ada yang mulai menulis puisi, cerpen, atau artikel untuk mading pesantren. Ada yang akhirnya menekuni jurnalistik sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Perpustakaan menjadi titik awal dari eksplorasi-eksplorasi seperti ini.

Tapi jujur — dampak ini tidak merata untuk semua santri. Yang bisa dikatakan: pesantren menyediakan lingkungan dan kesempatan untuk membaca berkembang. Hasilnya tergantung pada minat dan inisiatif masing-masing individu.

Apa yang masih perlu diperbaiki?

Koleksi buku yang perlu terus diperbarui — buku-buku baru tidak selalu cepat masuk ke perpustakaan pesantren. Ruang perpustakaan yang kadang kurang nyaman atau kurang luas untuk menampung santri yang banyak. Dan program literasi yang lebih terstruktur untuk mendorong santri yang belum tertarik membaca.

Ini area yang banyak pesantren akui masih perlu dikembangkan. Perpustakaan kadang tidak mendapat prioritas yang sama dengan fasilitas lain seperti lapangan olahraga atau laboratorium. Tapi kesadaran tentang pentingnya literasi sudah semakin tumbuh di kalangan pengelola pesantren.

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining di Bogor Barat, memiliki perpustakaan yang melayani santri dengan koleksi kitab klasik, buku pelajaran, dan bahan bacaan umum. Tradisi fathul kutub menjadi salah satu pendorong utama budaya membaca di pesantren ini. Masih banyak yang perlu ditingkatkan — dari kelengkapan koleksi sampai kenyamanan ruang — tapi komitmen untuk menjadikan perpustakaan sebagai bagian penting dari kehidupan pesantren insya Allah terus dijaga.

Bagi yang penasaran, perpustakaan bisa dilihat langsung saat berkunjung ke pesantren. Kunjungan bisa dilakukan kapan saja tanpa janji.

Untuk pertanyaan, hubungi WhatsApp 0812111180. Kadang yang paling jarang disorot justru yang paling berharga.