Lima kali sehari, suara adzan bergema dari menara masjid pesantren dan menjangkau setiap sudut lingkungan — dari asrama paling dekat sampai lapangan paling ujung. Suara itu sudah menjadi penanda waktu yang paling akurat bagi banyak santri. Tapi jarang ada yang memikirkan siapa yang berdiri di atas menara atau di depan mikrofon setiap kali waktu sholat tiba. Petugas adzan di pesantren adalah santri biasa yang menjalankan tugas ini dengan konsistensi yang sering kali tidak dilihat dan tidak diapresiasi oleh orang lain.
Santri yang ditunjuk menjadi muadzin biasanya dipilih berdasarkan kualitas suaranya dan kemampuan membaca lafadz adzan dengan benar sesuai kaidah tajwid. Tapi suara yang bagus saja tidak cukup. Yang paling penting adalah konsistensi — kemampuan hadir di masjid sebelum waktu sholat masuk, setiap hari, lima kali sehari, tanpa ada hari libur. Konsistensi itulah yang membedakan tugas ini dari tugas lain di pesantren.
Pagi hari sebelum subuh adalah momen yang paling menguji. Petugas adzan harus bangun lebih awal dari semua santri. Sementara asrama masih gelap dan semua orang masih tidur, dia sudah berjalan ke masjid sendirian. Udara dingin menyentuh kulit. Mata masih berat. Tapi ketika dia berdiri di depan mikrofon dan suara pertama keluar — Allahu Akbar — kantuk itu langsung hilang. Suaranya harus jernih dan tenang, karena suara itulah yang akan membangunkan ribuan orang dari tidur mereka.
Kita mungkin tidak pernah memikirkan betapa besarnya tanggung jawab itu. Satu orang, satu suara, membangunkan ribuan orang lima kali sehari. Kalau dia terlambat, seluruh jadwal pesantren terganggu. Kalau suaranya tidak jelas, santri yang tidur di asrama terjauh mungkin tidak terbangun. Tekanan itu nyata tapi jarang dibicarakan, karena muadzin yang baik tidak pernah meminta pengakuan atas apa yang dia lakukan.
Proses menjadi muadzin yang konsisten membentuk disiplin yang sangat kuat.
Santri yang terbiasa bangun paling awal dan hadir di masjid paling pertama mengembangkan jam biologis yang tidak pernah berubah. Bertahun-tahun setelah lulus, tubuhnya masih terjaga di jam yang sama — jam ketika dulu dia harus berdiri di depan mikrofon dan mengumandangkan adzan subuh. Kebiasaan itu tidak bisa dihapus oleh apapun, karena sudah tertanam terlalu dalam selama bertahun-tahun pengulangan.
Momen yang paling sering diingat petugas adzan biasanya bukan momen di masjid. Tapi momen ketika seseorang — teman sekamar, adik kelas, atau bahkan ustadz — tiba-tiba berkata, suara adzanmu bagus. Pujian sederhana yang jarang datang tapi dampaknya bertahan sangat lama. Muadzin yang mendengar itu merasa bahwa tugasnya bukan sekadar formalitas — ada orang yang benar-benar mendengarkan, merasakan, dan menghargai suara yang dia keluarkan setiap hari.
Suara adzan di pesantren juga punya makna emosional yang mendalam bagi santri lain. Bukan hanya penanda waktu sholat. Suara itu menjadi bagian dari identitas kehidupan pesantren — ritme yang mengatur segalanya, yang hadir setiap hari tanpa pernah absen. Alumni yang sudah bertahun-tahun lulus sering bercerita bahwa salah satu hal yang paling mereka rindukan dari pesantren adalah suara adzan dari menara itu — suara yang tidak pernah sama dengan adzan di masjid manapun karena memori yang menyertainya sangat personal.
Di Darunnajah 2 Cipining, sholat lima waktu berjamaah di masjid dimulai dengan adzan yang dikumandangkan oleh santri yang terpilih. Tradisi ini sudah berjalan selama puluhan tahun, dan setiap petugas adzan meninggalkan jejaknya lewat suara yang pernah membangunkan dan memanggil ribuan orang.
Konsistensi adalah bentuk ibadah yang paling sunyi. Tidak ada yang menontonnya. Tidak ada yang menghitungnya. Tapi dampaknya terasa oleh semua orang yang bergantung padanya — dan petugas adzan di pesantren adalah salah satu contoh paling nyata dari konsistensi itu.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan spiritual santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.