
Puluhan santri berangkat pagi itu, Senin, 31 Agustus 2026, menuju MTs Negeri 2 Leuwisadeng, Bogor. Mereka membawa harapan mengangkat nama almamater dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Kabupaten/Kota Bogor. Ajang yang diselenggarakan Kementerian Agama ini diikuti 1.932 peserta dari berbagai madrasah se-Bogor. Bagi santri yang akrab dengan kitab kuning, dua hari ke depan menjadi medan pembuktian baru lewat soal matematika, sains, dan ilmu sosial.
Kompetisi berlangsung dua hari, Senin hingga Selasa, 31 Agustus–1 September 2026. Pesantren Darunnajah 2 Cipining mengirimkan utusan dari empat jenjang lembaga, mulai MTs, MA, SPM Ulya, hingga SPM Wustho, untuk berlaga di tiga bidang inti yakni Matematika Terintegrasi, IPA Terintegrasi, dan IPS Terintegrasi, ditambah cabang Riset, Kimia, Fisika, Biologi, Geografi, dan Ekonomi di jenjang yang lebih tinggi. Berikut utusan yang diberangkatkan:
Jenjang MTs
- IPA: M. Fathan Arfandi (3B), Aisyah Maulida Utomo (3D), Shyla Nurul (3B)
- IPS: Dirgham Arjuna (3C), Ezzat El Wazira (3D), Zahra Al Farhan (3C)
- Matematika: Pais Purnalubawi (3D), Adifa Naira (2A), Alsa Atiqah (2A)
- Riset: Rafi Raditya (3D), De Fio Oktafiano (3D), M. Azzam Athoriq (3B)
Jenjang MA
- Geografi: Fathul Mubin, Salimatul Jamilah
- Matematika: Muhammad Syeika Rakhasa, Queenara Latifa Putri Ardiyanto
- Ekonomi: Arsya Yasabih Agung, Kaila Shafira Putri
- Riset Tim 1: Muhamad Fahri Al Fauzan, Muhammad Azki Isma, Razin Azka Murtadho
- Riset Tim 2: Almira Dewi Azalia, Chera Qaireen Alqistina, Avelandra Hasna Avira
Jenjang SPM Ulya
- Kimia: Hafidzhah Yoegie Isnani, Annisa Raniah
- Fisika: Fiany Syarifa, Fairus Azzahra
- Matematika: Nur Ibrahim Akbar, Muhammad Rafa El Ghozy, Muhammad Raffael
- Biologi: Muhammad Mush’ab, Attar Fathurrahman
Jenjang SPM Wustho
- IPA: Miqo Fachrizi (3A), Ainiyah Azmi (3A)
- IPS: Radhika M.S. (3A), Nuri Laila (3A)
- Matematika: Sayid Husein (3A), Aflaha Fatha (3A)


Harapan yang digantungkan dari keikutsertaan ini cukup sederhana namun mendalam: santri terpilih dapat menyerap ilmu sebanyak mungkin dari materi yang diujikan. Sebab, tiga bidang yang paling banyak diujikan pada OMI kali ini, Matematika, IPA, dan IPS Terintegrasi, menuntut santri membuktikan bahwa penguasaan ilmu agama dan bahasa Arab selama ini berjalan beriringan dengan kemampuan di bidang ilmu umum.
Persiapan menuju kompetisi ini bukan tanpa hambatan. Tantangan terbesar justru datang dari lawan tanding yang berasal dari sekolah umum maupun pesantren lain, yang porsi belajar ilmu umumnya relatif lebih besar. Kondisi ini menuntut kerja ekstra dari pembina, mengingat sebagian besar santri, kecuali dari jalur non-asrama dan SMK, lebih banyak bergelut dengan ilmu agama dalam keseharian mereka.


Meski begitu, jalannya kompetisi dilaporkan berjalan lancar dan terkondisi dengan baik. Antusiasme santri terlihat sejak keberangkatan hingga pelaksanaan lomba, dan respons dari seluruh pihak yang terlibat pun positif serta aktif mendukung jalannya acara. Semangat inilah yang menjadi modal utama santri saat menghadapi soal-soal ilmu umum yang tidak biasa mereka temui di kelas diniyah.
Ajang ini menyimpan makna filosofis yang cukup dalam bagi dunia pesantren. Islam mengajarkan bahwa menuntut ilmu tidak mengenal sekat antara agama dan dunia, sebab keduanya sama-sama jalan menuju kemaslahatan. Santri yang piawai membaca kitab kuning sekaligus mampu bersaing dalam matematika dan sains adalah wujud nyata dari keseimbangan itu, sebuah cita-cita lama pesantren yang terus diperjuangkan dari generasi ke generasi.
Ke depan, Pesantren berencana meningkatkan mutu pembelajaran materi umum dan membuka kembali ekstrakurikuler Sains yang sempat vakum. Langkah ini diharapkan mempermudah kaderisasi santri berprestasi untuk kompetisi-kompetisi serupa di masa mendatang. Dukungan dari seluruh elemen pesantren, mulai dari pembina hingga wali santri, menjadi kunci agar semangat belajar ilmu umum ini terus tumbuh berdampingan dengan pendalaman ilmu agama.
Kiprah para santri di OMI 2026 ini layak menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu adalah perjalanan tanpa batas. Publik, khususnya keluarga besar pesantren, dapat turut mendoakan dan mendukung langkah para santri yang tengah berjuang mengharumkan nama almamater di kancah Kabupaten Bogor.