Pondok Pesantren Darunnajah Cipining adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap da’wah ilamiyah, selain juga pada bidang-bidang sosial kemasyarakatan lainnya. Sehingga para santri diharapkan mampu menjadi kader-kader ulama ala’amiliin wa asshoolihiin yang mampu menyebarkan¬† risalah islamiyah ke berbagai lapisan masyarakat luas, serta memiliki responsibiliti sosial yang tinggi, maka proses pembelajaran pun tidak hanya kelas dan labolatorium yang menjadi centra pendidikan. Safari da’wahlah salah satu media santri secara langsung menimba ilmu yang tidak hanya sekedar teori.

Img00068

Maka selama 3 hari, tepat dipenghujung tahun 2009, dari 28 Desember hingga 30 Desember 2009 santri menyatu lebur dengan masyarakat tentunya dengan merelakan 3 hari dari 1 minggu libur semester mereka yang tentunya berkurang.¬† Namun pengorbanan tersebut terbayar dengan banyak hal yang lebih berharga tentunya selama di lokasi masing-masing. Dimulai dari hari pertama mereka datang di lokasi masing-masing, mereka akan disibukkan dengan kegiatan silaturahmi ke berbagai lapisan masyarakat, di mulai dari aparat Desa, Ahlul Bait, RT, RW setempat, ketua DKM (Dewan Kerja Masjid), Tokoh-tokoh masyarakat setempat, ketua TPA, PAUD, dan alim ‘ulama setempat, serta tidak ketinggalan ketua Majlis Ta’lim dan Remaja Masjid setempat. Tidak hanya sampai di situ, santripun harus ikut berbaur dalam aneka macam kegiatan sosial kemasyarakatan lain, seperti membantu mengajar ngaji siswa-siswi TPA atau PAUD, bahkan tidak heran lagi kalau mereka untuk setiap kelompoknya bisa membantu 3 samapai 5 TPA sekaligus. Santripun harus pandai memanaj waktu mereka, karena mereka juga tetap harus menjalankan ibadah-ibadah wajib seperti jama’ah lima waktu yang diselingi dengan ta’lim atau tadzkiroh adab-adab harian.Anak Didik TPAibu majlis ta'lim

Pastinya pengalaman setiap kafilah akan berbeda satu sama lain, sebut saja di Majlis Ta’lim ibu-ibu, yang lansung mendaulat mereka untuk memimpin sholawat dan bahkan ada Majlis Ta’lim ibu-ibu yang nekad untuk diajari Bahasa Arab, begitu juga dengan kafilah dengan Amiroh Khairunnisa yang berlokasi di Cigudeg Bogor, yang diajak lebur dalam tahlilan keluarga, bahkan kefilah 15 dengan Amiroh Nurfadillah yang bahkan diajak lebur dalam acara Santunan Sosial Anak Yatim yang tepat di Bulan Muharram tersebut, dan merekalah salah satu tim sukses kelancaran acara tersebut.

Anak-anak TPATidak sedikit nasihat yang mereka dapatkan dari berbagai elemen masyarakat, seperti misalnya mereka harus istiqomah di jalan Allah, meningkatkan kualitas dan kunatitas belajar mereka sekembalinya ke Pondok, menjadi suri tauladan dari sisi akhlak, tidak memutuskan hubungan silaturahmi justru aktif menjalin silaturahmi, tidak sombong terhadap ilmu yang dimiliki saat ini. Dan masyarakatpun sedikit banyak kecewa dengan kegiatan kali ini, karena dari saran-saran yang masuk, masyarakat menyarankan safari da’wah tidak hanya tiga hari, tapi minimal 5 hari, jangan pas hari libur sekolah, dan setiap tahunnya bahkan kalau bisa tiap bulan wilayah mereka aktif dikunjungi santri untuk bersafari da’wah kembali.

Jika di tinjau, sebenarnya cukup lumayan santri mengadapi kendala dalam kegiatan ini yang terbesar adalah hambatan alam dan geografis, yaitu hujan yang terus mengguyur setaip waktunya. Namun bukan berarti hambatan tersebut mematikan kegiatan mereka sama sekali, bahkan kafilah 10 harus rela mandi hanya sekali dalam sehari, mengingat sedang mengalami kesulitan air, dalam kondisi hujan dan becek santri tetap membaur dengan Remaja Masjid setempat sekedar untuk sharing, latihan qosidah dan marawis. Hambatanpun terbalas juga dengan uluran tangan masyarakat setempat yang menawarkan bantuan, contohnya kafilah 1 yang berlokasi di Ciledug Tangerang, keberadaan alumni-alumni Darunnajah di rasa sangat membantu. Kafilah 3 yang berlokasi di Bintaro harus terharu ketika salah seorang peserta didik mereka membuat lagu khusus ciptaannya karena enggan ditinggal santri. Kafilah 6 yang berlokasi di Citayam Depok juga harus ikhlas ketika tempat mereka bermalam harus berbagi dengan anak-anak kecil peserta didik karena maksa minta menginap juga dengan mereka di Ma’lis Ta’lim dengan membawa bantal masing-masing. Dan unik lagi kelompok 4 yang ketika bersilaturahmi ke rumah ketua DKM malah ujung-ujungnya di tawari Rumahnya sendiri untuk tempat tinggal mereka selama safari da’wah, dan telisik punya telisik, ternyata istri dari ketua DKM adalah teman sekolah dari HJ. Siti Rahmah semasa di Pesantren Darunnajah Jakarta dulu, istri dari Pimpinan Pesantren Darunnajah Cipining, KH.Jamhari Abdul Jalal Lc.

Img00089

Kelompok 7/kafilah 7 harus berurusan dengan preman-preman setempat ketika mereka lalu lalang untuk beraktifitas yang kebetulan berlokasi di Ciawi Bogor, bahkan kelompok 9 harus mengeluarkan seluruh kemempuan berbahasa arab dan Inggris mereka karena ketua Majlis Ta’lim mendaulat mereka memperkenalkan diri dengan bahasa arab dan Inggris. Mungkin jika diceritakan semua tidak cukup kata dan tulisan untuk menguntainya, karena kesan mendalam dari masiang-masing santri dan masyarakat yang menjadi oleh-oleh tersendiri ketika mereka harus pulang kembali ke Pondok, dan terlebih adalah apa yang di harapkan dan dicita-citakan pondok tercapai bahwa kelak santri Darunnajah menjadi manusia yang bermanfaat untuk lingkungannya. Amiii, (Ela Hulaso).