Perempuan Muslimah memiliki peran yang besar dalam Khidmah terhadap al-Hadits asy-Syarif, dan menjadi salah satu kebanggaan umat Islam, para ulama perempuan ini telah tertulis jasanya pada kitab-kitab para ulama.
Akan tetapi yang sangat disayangkan belum ada satupun kitab khusus yang membahas bab ini. Penulis buku A’lamun Nisa (Para Ulama Perempuan) menuliskan 3000 ulama selama 14 abad.
Diantaranya 750 ulama perempuan dalam bidang hadits, tapi angka ini masih kecil dibandingkan fakta dan statistik yang akan disampaikan setelah ini.
Para Sahabiyyat (Sahabat Nabi Perempuan) yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ada 1550 sahabiyat, menurut kitab al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah karya Imam Ibnu Hajar al-‘Asqallani Rahimahullah.
Para Perempuan yang meriwayatkan hadits ke Kutubussittah (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah) ada 300 Perawi Perempuan, menurut kitab Taqrib at-Tahzib karya Imam Ibnu Hajar.
Imam adz-Dzahabi berkata: “Tidak aku ketahui satupun dari perempuan, yang muttaham (tertuduh berdusta) dan matruk (haditsnya ditinggalkan)”, perkataan ini dinukil pula oleh Ibnu al-‘Ajami dalam kitab Kasyfil Hatsits ‘an man ruwiya bi wadh’il hadits.
Dalam sejarah Islam ada istilah orang-orang yang memalsukan hadits Nabi, yang disebut wadha’in, bahkan para ulama menulis nama-nama mereka dalam satu kitab khusus, tidak ada satupun nama perempuan tertulis dalam daftar hitam ini.

Peran Perempuan Dalam Sanad Hadits Oleh Dr. Abdussami’ Muhammad Al-Anis
Khidmah Perempuan terhadap Hadits Nabi
- Pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Diantara yang talaqqi (belajar) langsung kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hanya sahabat laki-laki, akan tetapi sahabat perempuan juga.
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Datang salah seorang perempuan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dan ia berkata Ya Rasulullah, para laki-laki itu datang membawa haditsmu.
Maka berikanlah kami (para perempuan) salah satu hari dan kami akan datang hingga engkau mengajarkan kepada kami apa yang telah Allah ajarkan kepadamu, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata:
“Berkumpulah pada hari ini di tempat ini (menyebutkan hari dan tempat)”, maka mereka berkumpul dan datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sehingga Rasul mengajarkan kepada mereka apa yang telah Allah ajarkan kepadanya.
Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar bersama Bilal bin Rabah Radhiyallahu ‘Anhu, dan memberikan nasehat kepada sahabat dan sahabiyat tentang keutamaan sedekah.
Kemudian para perempuan langsung memberikan perhiasan-perhiasannya kepada Bilal bin Rabah Radhiyallahu ‘Anhu sebagai sedekah dan ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata: sebaik-baiknya perempuan adalah perempuan Anshar, tidak ada yang melarang mereka untuk malu bertafaqquh fiddin (memperdalam ilmu agama). Para Sahabiyat Anshar bertanya langsung secara detil suatu permasalahan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha juga merupakan salah satu periwayat hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang paling utama.
Bahkan Imam al-Hakim an-Naisaburi mengatakan, seperempat syariah telah disampaikan oleh Sayyidah Aisyah dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Ada buku yang menulis tentang Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, yaitu al-Ijabah lima istadrakathu as-Sayyidah ‘Aisyah ‘ala ash-Shahabah, Imam az-Zuhri berkata “apabila seluruh ilmu Aisyah dibandingkan dengan seluruh ilmu Ummul Mu’minin dan perempuan digabungkan maka ilmu ‘Aisyah lebih utama”.
Mungkin inilah salah satu hikmah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menikahi ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, dimana ia seorang pemudi dan hafizhah, sehingga ia dapat menghafal dan menyampaikan hadits-hadits Nabi Muhammad Shallalahu ‘alaihi wa Sallam.
Jumlah hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di Musnad Imam Ahmad bin Hanbal saja, ada 2400 hadits.
5 jilid terakhir pada Musnad Imam Ahmad merupakan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para Sahabiyyat dan Ummahat al-Mu’minin. Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha wafat 58 Hijriah dan dimakamkan di Baqi’.
- Pada Zaman Tabi’in
Musnidah dan Muhadditsah pada zaman ini, antara lain ‘Amrah binti Abdurrahman al-Anshariyyah al-Madaniyyah, yang merupakan murid dari Sayyidah ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha.
Ibnu al-Madini berkata ‘Amrah merupakan salah satu ‘Alimah (Ulama Perempuan) yang tsiqah (dapat dipercaya), Ibnu Hibban berkata ‘Amrah adalah orang yang paling mengetahui hadits-hadits ‘Aisyah, Imam adz-Dzahabi berkata ia adalah ‘Alimah, Faqihah (Ahli Fiqh), Hujjah, banyak ilmu dan Haditsnya banyak dalam diwan-diwan (buku-buku) Islam. Wafat pada 98 Hijriah.
- Pada Abad ke-3 Hijriah
Musnidah dan Muhadditsah pada zaman ini, antara lain as-Sayyidah al-Mukarramah ash-Shalihah Nafisah binti al-Hasan bin Zaid bin al-Hasan bin Ali Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum, pindah bersama suaminya Ishaq bin Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq dari Madinah ke Mesir.
Merupakan salah satu orang yang shalihah, yang juga meriwayatkan hadits kepada Imam Syafi’i. Selain Sayyidah Nafisah, ada juga Khadijah Ummu Muhammad yang belajar kepada Imam Ahmad bin Hanbal.
- Pada Abad ke-4 Hijriah
Musnidah dan Muhadditsah pada zaman ini, antara lain Amat al-Wahid binti al-Qadhi Abi Abdillah al-Husain al-Mahamili, ia belajar kepada ayahnya dan lain-lainnya.
Dalam biografinya tertulis ‘fadhilah, ‘alimah, yang paling ahli fiqih dalam mazhab Imam asy-Syafi’i, ia juga berfatwa bersama Imam Abu ‘Ali bin Abi Hurairah (salah satu ulama besar dalam fiqih Syafi’i), hafal al-Qur’an, serta ahli dalam faraidh, ilmu hisab, nahwu, dan lain-lain, banyak sedekah, senantiasa bersegera dalam berbuat kebaikan, meriwayatkan serta menulis hadits. Wafat pada 377 Hijriah.
- Pada Abad ke-5 Hijriah
Musnidah dan Muhadditsah pada zaman ini, antara lain asy-Syaikhah al-‘Alimah al-Fadhilah Umm al-Kiram Karimah binti Ahmad al-Marwaziyah, tinggal di Makkah, belajar dengan Abu Haitsam al-Kusymaihani kitab Shahih al-Bukhari dari awal sampai akhir.
Saat ini seluruh riwayat hadits Shahih al-Bukhari kembali dan tersambung kepada Karimah al-Marwaziyah. Wafat pada tahun 463 Hijriah pada usia 100 tahun.
- Pada Abad ke-6 Hijriah
Imam Ibnu ‘Asakir ad-Dimasyqi belajar kepada lebih dari 80 perempuan, salah satunya Musnidah dari Irak, al-‘Alimah al-Muhaditsah Syuhda binti Ahmad al-Katibah, wafat pada 574 Hijriah.
Ia belajar dari para Imam Hadits dari berbagai negeri, dan muridnya juga berjumlah ratusan. Ulama Perempuan lainnya Fatimah binti Abdullah al-Huzdaniyah al-Asbahaniyah, murid dari Ibnu Riza, seluruh sanad Mu’jam al-Kabir dan Mu’jam ash-Shaghir karya ath-Thabrani tersambung kepada Fatimah binti Abdullah.
- Pada Abad ke-7 Hijriah
Para Ulama Perempuan dalam bidang hadits di abad ini banyak sekali. Sejarawan Baghdad, Ibnu Najjar, memiliki guru dalam bidang hadits 3000 syaikh, 400 diantaranya adalah perempuan.
Sedangkan para muhaditsah di Damaskus terdapat 137 ulama perempuan, diantaranya al-Musnidah al-Muhaditsah Zainab binti Makki al-Harrani ash-Shalihiyah al-Hanbaliyah, wafat pada 688 Hijriah pada usia 94 tahun, ahli ibadah, terkenal dengan ‘afifah (senantiasa menjaga diri), membaca wirid, dzikir, tilawah al-Qur’an, istighfar, khusyu’.
Ia belajar kepada Hanbal bin Abdillah ar-Rushafi, Musnad Ahmad bin Hanbal dari awal sampai akhir, Musnad ini dicetak sekarang ini dalam 50 jilid, ia juga belajar Sunan Abu Daud dari awal hingga akhir, Sunan at-Tirmidzi, ia juga memiliki banyak guru.
Kemudian ia mengajarkan hadits di Damaskus lebih dari 60 hadits. Imam Adz-Dzahabi berkata, Zainab binti Makki merupakan orang yang paling tinggi sanadnya dari perempuan di seluruh dunia. Imam Ibnu Taimiyah juga merupakan salah satu murid Zainab binti Makki.
- Pada Abad ke-8 Hijriah
Pada Abad ini juga terdapat banyak Musnidah dan Muhaditsah. Imam Ibnu Hajar al-‘Asqallani dalam kitab ad-Durar al-Kaminah fi A’yan al-Mi’ah ats-Tsaminah mencatat 190 Ulama perempuan, 170 nya dalam bidang hadits.
Menurut buku ‘al-Alimat an-Nisa ad-Dimasyqiyat, para ulama perempuan dalam bidang hadits di Damaskus saja pada abad ini terdapat 130 ulama hadits perempuan.
Diantara Musnidah pada Abad ini adalah Sittu al-Wuzara’ Wazirah binti Umar at-Tanukhiyah ad-Dimasyqiyah al-Hanbaliyah, wafat pada tahun 816 Hijriah pada usia lebih dari 90 tahun.
Terkenal sebagai Syaikhah, ahli agama, zuhud, baik akhlaknya, banyak meriwayatkan hadits lebih dari 10 kali, bahkan diminta untuk datang ke Mesir untuk meriwayatkan Shahih al-Bukhari padahal usianya sudah 90 tahun, dan meriwayatkannya 5 kali.
Majelis pertama di kediaman Naib (Wakil) Penguasa Mesir, dan majelis kedua di kediaman Wakil (Deputi) Penguasa Mesir, majelis ketiganya di Madrasah al-Manshuriyah dihadiri lebih dari 2000 ulama Kairo.
Pada waktu itu Kairo sudah dipenuhi oleh para ulama, kemudian ia kembali ke Syam. Diantara muridnya adalah Imam adz-Dzahabi, Imam Ibnu Abi Hurairah, ash-Shafadi. Salinan Manuskrip Shahih al-Bukhari yang dibaca oleh Sittu al-Wuzarah masih tersimpan di Istanbul, Turki.
- Pada Abad ke-9 Hijriah
Pada Abad ini juga banyak ulama hadits perempuan, Imam as-Sakhawi dalam kitabnya adh-Dhau’ al-Lami’ li Ahli al-Qarn at-Tasi’ terdapat lebih dari 1000 ulama perempuan dalam bidang hadits.
50 diantaranya ada di Damaskus, kemungkinan kebangkitan hadits sudah pindah dari Damaskus ke Kairo karena Sittu al-Wuzara. Diantara Musnidah dan Muhaditsah pada abad ini adalah Fathimah binti Muhammad al-Maqdisiyah ash-Shalihiyah al-Hanbaliyah, wafat pada 803 Hijriah.
Setelah Baitul Maqdis dikuasai oleh Pasukan Salib, keluarga Fathimah binti Muhammad pindah dari Baitul Maqdis ke Damaskus. Fathimah belajar Shahih al-Bukhari dari awal hingga akhir dari Musnid Ibnu Hajjar.
Selain itu ada juga Aisyah al-Maqdisiyah ash-Shalihiyah al-Hanbaliyah, wafat 816 Hijriah. Fathimah dan Aisyah, al-Hafizh Ibnu Hajar meriwayatkan hadits dari keduanya bahkan mengatakan bahwa Aisyah merupakan pemilik sanad tertinggi. Imam as-Sakhawi menyampaikan bahwa Aisyah merupakan Musnidah ad-Dunya.
- Pada Abad ke-10 dan setelahnya
Terjadi penurunan jumlah Musnidah, di Damaskus yang sebelumnya merupakan pusat pengembangan ulama perempuan dalam bidang hadits hanya ada 10 musnidah yang ikutserta dalam meriwayatkan hadits.
- Pada Abad ke-14 dan Awal Abad ke-15
Para perempuan mulai aktif mengembangkan kembali ilmu pengetahuan dalam Khidmah terhadap hadits di pusat-pusat penelitian dan universitas, diantaranya Amatullah binti Syaikh Abdul Ghani ad-Dahlawiyah al-Madaniyah, tinggal di al-Madinah al-Munawwarah, wafat pada 1357 Hijriah.
Putri dari Imam Abdul Ghani ad-Dahlawi, juga ulama dalam bidang Hadits, Musnid ad-Dunya Syaikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa al-Fadani al-Makki meriwayatkan hadits dari Syaikhah Amatullah binti Syaikh Abdul Ghani ad-Dahlawiyah.
Selain itu ada al-‘Alimah al-Musnidah asy-Syaikhah Dr. Athiyyah binti Syaikh Khalil bin Syaikh Husain bin Muhsin al-Anshari. Wafat pada tahun 1438 Hijriah dan dimakamkan di Sharjah, wafatnya beliau menjadikan turunya sanad hadits satu derajat.

Diintisarikan dari Kuliah Umum Dr. Abdussami’ Muhammad al-Anis, Guru besar bidang Ushuluddin, Fakultas Syari’ah dan Studi Islam, Universitas Sharjah, pada al-Muntada al-Islami, Sharjah, Uni Emirat Arab, 10 Oktober 2017. (Sumber : Imam Khoirul Annas)
(DN.COM/almas_khalishah)