Pendidikan Untuk Kejayaan Islam
Menu

Pendidikan Untuk Kejayaan Islam

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Mari kita simak nasihat kehidupan berikut; “Dulu ketika aku masih muda, aku sangat ingin mengubah dunia ini menjadi lebih baik. Tapi setelah sekian waktu aku lalui akhirnya aku sadar bahwa betapa sulitnya mengubah seluruh dunia ini.

Akupun lalu memutuskan untuk mengubah negeriku saja. Lalu aku kembali sadar bahwa aku tidak bisa mengubah negariku begitu saja.

Akupun lalu mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidaklah mudah mengubah kotaku.

Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

Akhirnya aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.”

 

Dari inspirasi ini, betapa kita menyadari bahwa kita tidaklah mampu merubah dunia, namun kita memiliki peluang untuk bisa merubah diri kita sendiri. Lalu pertanyaannya, bagaimana kita merubah diri kita?

Pondasi dan basis utama yang mendasari perubahan adalah pendidikan. Pendidikan mengandung makna penting dalam membangun sosok manusia siapapun saja, kapan pun saja, dan dimana saja berada.

Dalam tataran proses, pendidikan menjadi dasar manusia dalam berfikir, bersikap, dan mengambil solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi. Pendidikan bisa mengantarkan seseorang mencapai progresifitas dalam berbagai hal.

Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, pendidikan ini pulalah menjadi point penting faktor kemenangan NKRI. Jika kita merujuk pada sejarah, kita melihat apa kekurangan dari para pahlawan kita. Sebut saja Pangeran Diponegoro. Beliau dikenal dengan berbagai macam keistimewaan baik bidang agama dan sosial, namun akhirnya harus pula menyerah terhadap Belanda. Begitu pula dengan sosok Si Pitung yang dinilai memiliki kekebalan terhadap peluru. Namun pada akhirnya juga dapat dikalahkan oleh Belanda. Masih banyak lafi para pahlawan Indonesia, yang dalam perjuangannya belum berhasil mengusir penjajah dari muka bumi pertiwi.

Dari peristiwa di atas, tentu kita bisa melihat bahwa kebaikan saja tidak cukup. Karena dalan pepatah Arab dikatakan ‘Al-Haqqu bila nidhomin, yaghlibuhul bathil binidhomin’, Kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan dikalahkan dengan kejahatan atau kebatilan yang terorganisir.

Masih dari cerita sejarah pula, bagaimana awal mula kebangkitan nasional dalam memperoleh kemerdekaan oleh para kaum terpelajar (pendidikan), baik Budi Utomo maupun Jamiat Kheir atau organisasi lain yang serupa. Dari kaum inilah sejarah kemerdekaan diusung hingga pada puncaknya pada proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Kekuatan yang dimiliki oleh para pahlawan kemerdekaan adalah kemampuan mengorganisir, menganalisa dan menyatukan kemampuan bangsa sehingga menjadi kekuatan yang menghancurkan penjajahan. Mereka adalah kaum berpendidikan. Aspek pendidikan memiliki peran penting sebagai faktor kemenangan. Pada masa penjajahan pula, sangat terlihat upaya penjajah untuk membodohkan bangsa ini agar mereka tetap berkuasa.

Melihat saat ini juga, pedidikan di kalangan ummat Islam masih dianggap sebelah mata. Pendidikan mengalami dikotomi dan pemecahan sehingga dalam beberpa hal umat Islam sangat ketinggalan. Pada level teknologi missalnya, justru hal ini sangat berkembang pesat di dunia Barat. Komunikasi dan informasi pun seperti itu.

Umat Islam terlihat pasif. Tidak mampu berkompetisi sehingga banyak kerugian yang diterima ummat. Padahal Islam adalah agama terbaik, rahmatan lil ‘alamin. Tapi mengapa justru di dunia global saat ini, justru dunia mengenal Islam agama teroris. Lagi-lagi ini adalah persoalan ‘Alhaqqu bila nidhomin yaghlibuhul bathil binidhomin.

Maka sudah saatnya Ummat Islam kembali kepada Al-Qur’an dengan menyadari bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu (pendidikan) di antara manusia. Allah akan memberikan kemenangan bagi ummat dari asbab pendidikan ini.

Di tangan kaum muslim, ilmu akan menjadi berkah dan manfaat. Namun di tangan orang-orang dholim, ilmu akan menjadi senjata mematikan. Pendidikan Islam adalah universal meliputi segala aspek baik umum sebagai bekal menjadi kholifah di muka bumi. Maupun agama sebagai tuntunan dan investasi di akhirat kelak.

Pendidikan merupakan media yang paling banyak digunakan oleh misionaris untuk kegiatan kristenisasi. Hal ini mereka wujudkan dengan mendirikan sekolah-sekolah di tengah umat Islam. Supaya rencana kristenisasi melalui media ini berhasil, sekolah-sekolah yang mereka  bangun, biasanya jauh lebih lengkap dibandingkan dengan sekolah-sekolah Islam. Sehingga sarana dan fasilitas yang mereka tawarkan seringkali menarik minat para orang tua muslim untuk menyekolahkan anaknya ke lembaga milik mereka dibandingkan menyekolahkan anaknya ke pesantren.

Di sisi lain, para misionaris sangat gemar menggunakan media pendidikan untuk mengkristenkan kaum muslimin, meskipun harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal. Mr. Nibrouse, Rektor Universitas Bairut Amerika tahun 1948 pernah berkata; “Fakta telah membuktikan, pendidikan adalah sarana paling mahal yang telah diperalat para misionaris Amerika untuk mengkristenkan Suriah dan Libanon”.

Melalui pendidikan para misionaris berharap agar generasi Islam, jauh dari pemahaman keagamaannya. Setiap hari mereka dididik dengan ilmu-ilmu umum, dan kalaupun mereka memberikan mata pelajaran agama, yang mereka ajarkan bukan tentang agama Islam, akan tetapi tentang agama Kristen. Anak-anak muslim yang sekolah di sana, didoktrin dengan ajaran-ajaran al-Kitab (Bibel). Sehingga sebanyak 4000 pelajar Islam yang sekolah di lembaga milik Kristen berpindah agama menjadi kaum kristiani. Oleh karenanya, pada saat RUU sisdiknas yang isinya menguntungkan bagi umat Islam akan disahkan di DPR, mereka menolaknya dengan keras, karena mereka takut akan kehilangan satu cara untuk mengkristenkan umat Islam.

Fakta ini haruslah diwaspadai. Ummat Islam harus bisa membenahi institusi lembaga pendidikan untuk pembinaan ummat. Karena, Hasan Al-Banna mengatakan bahwa pendidikan menjadi sangat penting sebagai faktor yang mendukung keberhasilan.

  1. Iman  yang  tak  tergoyahkan  bahwa  pendidikan  adalah  satu-satunya jalan  untuk  merubah  masyarakat,  membentuk  pemimpin  dan mewujudkan  cita-cita. Pendidikan itu jalannya panjang dan kesulitannya banyak.  Hanya  sedikit  orang  yang  sabar  menempuh  jalannya  yang panjang dan kesulitannya yang banyak, yaitu orang yang berkemauan keras.  Tetapi  Hasan  Al-Banna  yakin  pula  bahwa  pendidikan  itu satu-satunya  jalan  yang  dapat  menyampaikannya  kepada  tujuan  dan tidak  ada  jalan  lain  lagi.  Itulah  jalan  yang  ditempuh  oleh  Nabi  SAW untuk  membentuk  generasi  teladan  yang  diridhai  Allah,  yang  tidak pernah disaksikan bandingannya oleh dunia. Mereka inilah yang melaksanakan pendidikan bagi berbagai bangsa dan mengarahkannya kepada kebenaran dan kebaikan.
  2. Rencana   pendidikan   mempunyai   tujuan   tertentu,   langkah-langkah yang   jelas,   sumber   yang   terang,   bagian-bagian    yang   saling mendukung, dengan sistem beraneka ragam dan ditegakkan atas falsafah yang jelas, digali dari ajaran Islam bukan dari ajaran lainnya.
  3. Suasana kebersamaan  yang positif, yang dibina oleh jamaah. Hal itu akan  membantu  setiap  anggotanya  untuk hidup secara Islam, melalui sugesti (nasihat), contoh teladan, persamaan perasaan dan tindakan. Manusia menjadi lemah bila menyendiri dan menjadi kuat dengan jamaahnya.  Jamaah merupakan  kekuatan  untuk menegakkan  kebaikan dan ketaatan  serta merupakan  perisai terhadap kejahatan  dan maksiat.
  4. Pemimpin   yang  mendidik   dengan  bakat,  ilmu  dan  pengalamannya yang dianugerahkan     kepadanya   kekuatan   iman  yang  luar  biasa, membekas   pada   setiap   hati   orang   yang   berhubungan   dengannya, melimpah  dari  hatinya  ke  hati  orang-orang  di  sekitamya.  Dia  seperti dinamo  yang  dari kekuatannya  hati  mereka  diisi  dengan  “kekuatan” Kata-kata bila   keluar   dari   hati   langsung    masuk   ke   hati   para pendengarnya.

 

Kesimpulan

Dari sistem pendidikan yang baik dan maksimal, diharapkan ummat Islam memiliki kekuatan mengorganisir kekuatan jamaah dan ummah. Sudah seharusnya Islam sebagai satu satunya agama yang benar menjadi peradaban dunia yang merahmati serta mendamaikan kehidupan manusia.

Pada akhirnya, sosok muslim berpendidikan mampu berfungsi sebagai kekuatan menghadapi berbagai ancaman para kaum kafir. Islam adalah kekuatan yang terorganisir dengan akurat dan transcendental sehingga menjadi pemenang atas segala tindak kedzaliman, kemungkaran, dan kejahiliyahan manusia yang selalu diupayakan oleh manusia dahulu, masa kini, maupun yang akan datang.

Memang terasa berat, banyak tantangan, mendapatkan berbagai benturan. Namun yakinlah, bahwa Allah SWT berada di pihak yang benar, dan benar-benar berjihad, berijtihad, serta bermujahadah hanya kepada-Nya. Semoga Islam pada kejayaannya!! (red)

 

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren An-Nur Darunnajah 8 Cidokom Bogor

Pengumuman Kenaikan Kelas Annur Darunnajah 8 Cidokom TA 2019-2020

PENGUMUMAN KENAIKAN KELAS TAHUN PELAJARAN 2019/2020 BISMILLAHRRAHMANIRRAHIM SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR TMI ANNUR DARUNNAJAH 8 CIDOKOM Nomor: 74/TMI-DN8/V/2020 HASIL UJIAN AKUMULATIF SELAMA TAHUN PELAJARAN 2019/2020 PONDOK PESANTREN