Mari kita simak nasihat kehidupan berikut; “Dulu ketika aku masih muda, aku sangat ingin mengubah dunia ini menjadi lebih baik. Tapi setelah sekian waktu aku lalui akhirnya aku sadar bahwa betapa sulitnya mengubah seluruh dunia ini.
Akupun lalu memutuskan untuk mengubah negeriku saja. Lalu aku kembali sadar bahwa aku tidak bisa mengubah negariku begitu saja.
Akupun lalu mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidaklah mudah mengubah kotaku.
Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.
Akhirnya aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.”
Dari inspirasi ini, betapa kita menyadari bahwa kita tidaklah mampu merubah dunia, namun kita memiliki peluang untuk bisa merubah diri kita sendiri. Lalu pertanyaannya, bagaimana kita merubah diri kita?
Pondasi dan basis utama yang mendasari perubahan adalah pendidikan. Pendidikan mengandung makna penting dalam membangun sosok manusia siapapun saja, kapan pun saja, dan dimana saja berada.
Dalam tataran proses, pendidikan menjadi dasar manusia dalam berfikir, bersikap, dan mengambil solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi. Pendidikan bisa mengantarkan seseorang mencapai progresifitas dalam berbagai hal.
Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, pendidikan ini pulalah menjadi point penting faktor kemenangan NKRI. Jika kita merujuk pada sejarah, kita melihat apa kekurangan dari para pahlawan kita. Sebut saja Pangeran Diponegoro. Beliau dikenal dengan berbagai macam keistimewaan baik bidang agama dan sosial, namun akhirnya harus pula menyerah terhadap Belanda. Begitu pula dengan sosok Si Pitung yang dinilai memiliki kekebalan terhadap peluru. Namun pada akhirnya juga dapat dikalahkan oleh Belanda. Masih banyak lafi para pahlawan Indonesia, yang dalam perjuangannya belum berhasil mengusir penjajah dari muka bumi pertiwi.
Dari peristiwa di atas, tentu kita bisa melihat bahwa kebaikan saja tidak cukup. Karena dalan pepatah Arab dikatakan ‘Al-Haqqu bila nidhomin, yaghlibuhul bathil binidhomin’, Kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan dikalahkan dengan kejahatan atau kebatilan yang terorganisir.
Masih dari cerita sejarah pula, bagaimana awal mula kebangkitan nasional dalam memperoleh kemerdekaan oleh para kaum terpelajar (pendidikan), baik Budi Utomo maupun Jamiat Kheir atau organisasi lain yang serupa. Dari kaum inilah sejarah kemerdekaan diusung hingga pada puncaknya pada proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945.
Kekuatan yang dimiliki oleh para pahlawan kemerdekaan adalah kemampuan mengorganisir, menganalisa dan menyatukan kemampuan bangsa sehingga menjadi kekuatan yang menghancurkan penjajahan. Mereka adalah kaum berpendidikan. Aspek pendidikan memiliki peran penting sebagai faktor kemenangan. Pada masa penjajahan pula, sangat terlihat upaya penjajah untuk membodohkan bangsa ini agar mereka tetap berkuasa.
Melihat saat ini juga, pedidikan di kalangan ummat Islam masih dianggap sebelah mata. Pendidikan mengalami dikotomi dan pemecahan sehingga dalam beberpa hal umat Islam sangat ketinggalan. Pada level teknologi missalnya, justru hal ini sangat berkembang pesat di dunia Barat. Komunikasi dan informasi pun seperti itu.
Umat Islam terlihat pasif. Tidak mampu berkompetisi sehingga banyak kerugian yang diterima ummat. Padahal Islam adalah agama terbaik, rahmatan lil ‘alamin. Tapi mengapa justru di dunia global saat ini, justru dunia mengenal Islam agama teroris. Lagi-lagi ini adalah persoalan ‘Alhaqqu bila nidhomin yaghlibuhul bathil binidhomin.
Maka sudah saatnya Ummat Islam kembali kepada Al-Qur’an dengan menyadari bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu (pendidikan) di antara manusia. Allah akan memberikan kemenangan bagi ummat dari asbab pendidikan ini.
Di tangan kaum muslim, ilmu akan menjadi berkah dan manfaat. Namun di tangan orang-orang dholim, ilmu akan menjadi senjata mematikan. Pendidikan Islam adalah universal meliputi segala aspek baik umum sebagai bekal menjadi kholifah di muka bumi. Maupun agama sebagai tuntunan dan investasi di akhirat kelak.
Pendidikan merupakan media yang paling banyak digunakan oleh misionaris untuk kegiatan kristenisasi. Hal ini mereka wujudkan dengan mendirikan sekolah-sekolah di tengah umat Islam. Supaya rencana kristenisasi melalui media ini berhasil, sekolah-sekolah yang mereka bangun, biasanya jauh lebih lengkap dibandingkan dengan sekolah-sekolah Islam. Sehingga sarana dan fasilitas yang mereka tawarkan seringkali menarik minat para orang tua muslim untuk menyekolahkan anaknya ke lembaga milik mereka dibandingkan menyekolahkan anaknya ke pesantren.
Di sisi lain, para misionaris sangat gemar menggunakan media pendidikan untuk mengkristenkan kaum muslimin, meskipun harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal. Mr. Nibrouse, Rektor Universitas Bairut Amerika tahun 1948 pernah berkata; “Fakta telah membuktikan, pendidikan adalah sarana paling mahal yang telah diperalat para misionaris Amerika untuk mengkristenkan Suriah dan Libanon”.
Melalui pendidikan para misionaris berharap agar generasi Islam, jauh dari pemahaman keagamaannya. Setiap hari mereka dididik dengan ilmu-ilmu umum, dan kalaupun mereka memberikan mata pelajaran agama, yang mereka ajarkan bukan tentang agama Islam, akan tetapi tentang agama Kristen. Anak-anak muslim yang sekolah di sana, didoktrin dengan ajaran-ajaran al-Kitab (Bibel). Sehingga sebanyak 4000 pelajar Islam yang sekolah di lembaga milik Kristen berpindah agama menjadi kaum kristiani. Oleh karenanya, pada saat RUU sisdiknas yang isinya menguntungkan bagi umat Islam akan disahkan di DPR, mereka menolaknya dengan keras, karena mereka takut akan kehilangan satu cara untuk mengkristenkan umat Islam.
Fakta ini haruslah diwaspadai. Ummat Islam harus bisa membenahi institusi lembaga pendidikan untuk pembinaan ummat. Karena, Hasan Al-Banna mengatakan bahwa pendidikan menjadi sangat penting sebagai faktor yang mendukung keberhasilan.
- Iman yang tak tergoyahkan bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk merubah masyarakat, membentuk pemimpin dan mewujudkan cita-cita. Pendidikan itu jalannya panjang dan kesulitannya banyak. Hanya sedikit orang yang sabar menempuh jalannya yang panjang dan kesulitannya yang banyak, yaitu orang yang berkemauan keras. Tetapi Hasan Al-Banna yakin pula bahwa pendidikan itu satu-satunya jalan yang dapat menyampaikannya kepada tujuan dan tidak ada jalan lain lagi. Itulah jalan yang ditempuh oleh Nabi SAW untuk membentuk generasi teladan yang diridhai Allah, yang tidak pernah disaksikan bandingannya oleh dunia. Mereka inilah yang melaksanakan pendidikan bagi berbagai bangsa dan mengarahkannya kepada kebenaran dan kebaikan.
- Rencana pendidikan mempunyai tujuan tertentu, langkah-langkah yang jelas, sumber yang terang, bagian-bagian yang saling mendukung, dengan sistem beraneka ragam dan ditegakkan atas falsafah yang jelas, digali dari ajaran Islam bukan dari ajaran lainnya.
- Suasana kebersamaan yang positif, yang dibina oleh jamaah. Hal itu akan membantu setiap anggotanya untuk hidup secara Islam, melalui sugesti (nasihat), contoh teladan, persamaan perasaan dan tindakan. Manusia menjadi lemah bila menyendiri dan menjadi kuat dengan jamaahnya. Jamaah merupakan kekuatan untuk menegakkan kebaikan dan ketaatan serta merupakan perisai terhadap kejahatan dan maksiat.
- Pemimpin yang mendidik dengan bakat, ilmu dan pengalamannya yang dianugerahkan kepadanya kekuatan iman yang luar biasa, membekas pada setiap hati orang yang berhubungan dengannya, melimpah dari hatinya ke hati orang-orang di sekitamya. Dia seperti dinamo yang dari kekuatannya hati mereka diisi dengan “kekuatan” Kata-kata bila keluar dari hati langsung masuk ke hati para pendengarnya.
Kesimpulan
Dari sistem pendidikan yang baik dan maksimal, diharapkan ummat Islam memiliki kekuatan mengorganisir kekuatan jamaah dan ummah. Sudah seharusnya Islam sebagai satu satunya agama yang benar menjadi peradaban dunia yang merahmati serta mendamaikan kehidupan manusia.
Pada akhirnya, sosok muslim berpendidikan mampu berfungsi sebagai kekuatan menghadapi berbagai ancaman para kaum kafir. Islam adalah kekuatan yang terorganisir dengan akurat dan transcendental sehingga menjadi pemenang atas segala tindak kedzaliman, kemungkaran, dan kejahiliyahan manusia yang selalu diupayakan oleh manusia dahulu, masa kini, maupun yang akan datang.
Memang terasa berat, banyak tantangan, mendapatkan berbagai benturan. Namun yakinlah, bahwa Allah SWT berada di pihak yang benar, dan benar-benar berjihad, berijtihad, serta bermujahadah hanya kepada-Nya. Semoga Islam pada kejayaannya!! (red)




