Kenapa generasi muda?
Dari segi kuantitas generasi muda merupakan 60% dari jumlah keseluruhan umat. Sedangkan dari segi kualitas generasi muda merupakan jantung umat yang masih berdetak, kekuatan umat yang masih bergelora, dan baju pelindung umat. Mereka adalah purnama saat gelap gulita. Mereka adalah pedang kala umat dalam keadaan genting. Mereka adalah harta yang tersimpan, persediaan yang berarti, serta tempat menggantungkan cita-cita, kepercayaan, dan harapan umat. Bila Anda melihat dengan mata telanjang ke masa muda, Anda akan melihat bahwa masa muda adalah masa memberikan pengaruh dan dipengaruhi, masa memberi dan berjuang. Saat kita menyiapkan generasi muda berarti kita mengembangkan potensinya, meledakkan kekuatannya, serta menggunakannya untuk membangun dan melawan musuh yang menyerang. Masa muda adalah fase yang sangat membutuhkan arahan, petunjuk, pencerahan, bantuan, dan perhatian. Masa muda adalah fase peletakan batu pondasi. Jika pondasi itu kokoh, maka bangunan yang didirikan di atasnya juga akan kuat dan kokoh. Namun apabila pondasi yang dibangun itu lemah, maka bangungan yang didirikan di atasnya juga akan lemah dan cepat sekali hancur ketika tertiup angin atau terkena percikan air hujan. Jadi, masa muda adalah masa yang menentukan bagi masa-masa setelahnya. Ia adalah fase yang mempunyai pengaruh sangat signifikan terhadap masa depan; baik positif maupun negatif, baik bagus maupun rusak, baik naik maupun turun. Maka tidak heran ketika kita melihat Rasul kita yang mulia memberikan arahan untuk memanfaatkan fase ini dengan baik dalam sabdanya,
اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَباَبَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ ، وَغِناَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ ، وَحَياَتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ ، وَفَراَغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ
Artinya, “Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara; mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, hidupmu sebelum matimu, dan kelapanganmu sebelum sibukmu.”
Kita juga dapati beliau Saw. mengarahkan generasi muda untuk menjaga kesehatan mereka, mempertahankan kekuatan mereka, dan melindungi moral mereka. Sabda beliau Saw.,
ياَ مَعْشَرَ الشَّباَبِ مَنِ اسْتَطاَعَ مِنْكُمُ الْباَءَةَ – المَقْدِرَةَ عَلَى الزَّواَجِ وَالْقِياَمِ بِواَجِباَتِهِ الْحِسِّيَةَ وَالْمَعْنَوِيَّةَ – فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجاَءَ
Artinya, “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya baik yang indrawi maupun yang maknawi, maka menikahlah karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih melindungi kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka berpuasalah karena itu bisa menjadi pelindung baginya dari perbuatan keji dan dosa.”
Nabi Saw. secara khusus memberikan pesan yang mahal kepada generasi muda karena mereka membutuhkannya demi melihat dorongan-dorongan biologis mereka. Generasi muda pada usia dini ini lebih bisa menerima didikan dan arahan. Mereka lebih mau mendengarkan nasehat dan petunjuk. Bila ada orang yang mengajak mereka, mereka akan langsung mengikutinya dan melaksanakan perintahnya. Inilah alasan kami memberikan perhatian kepada generasi muda supaya mereka bisa mencapai target besar mereka dalam kondisi yang terlindungi dari penyimpangan pemikiran, dekadensi moral, serta kelemahan rasio. Bila kita biarkan mereka begitu saja tanpa perhatian, kondisi mereka akan lemah. Mereka akan menyembunyikan karunia mereka. Bahayanya besar hingga bisa menjadi bencana setelah nikmat, menjadi cobaan setelah anugerah, serta menjadi malapetaka setelah karunia.
Saat ini generasi muda kita sedang menghadapi serangan jajahan pemikiran yang ganas. Penjajah mencoba mengguncang keimanan mereka, menggentarkan kaki mereka, dan menghancurkan eksistensi mereka. Kita harus mempersenjatai mereka dengan senjata yang bisa mengenai titik rawan musuh. Saat musuh-musuh kita sudah tidak kuasa memerangi kita melalui militer, mereka beralih memerangi kita melalui pemikiran. Dengan mobilisasi umat, mengerahkan kekuatan mereka, serta menyiapkan generasi mudanya, perang pemikiran akan berakhir seperti perang militer; kekalahan besar dan kegagalan total. Jika mereka membangun tempat-tempat hiburan, kita bangun masjid-masjid. Jika mereka membuat pesta-pesta malam, kita adakan pelajaran-pelajaran malam supaya mereka menjadi ahli ibadah pada malam hari dan pejuang pada siang hari, agar mereka bisa menyenandungkan syair-syair perjuangan sebagai ganti nyanyian yang melenakan, supaya keinginan mereka untuk mati di medan laga lebih banyak daripada keinginan mereka untuk hidup dan cinta kehidupan, supaya mereka bisa membantai musuh-musuh mereka sebagai ganti menghabiskan waktu mereka dengan sia-sia. Begitulah kita hadapi tipudaya musuh-musuh kita dengan tipudaya yang lebih brilian. Kita lawan serangan-serangan mereka dengan perlindungan terbaik bagi generasi muda kita; menjaga akidah dan keaslian mereka.
Kenapa kita perlu menyiapkan generasi muda?
Pertanyaan yang sering dilontarkan di hadapan kita adalah apa tujuan kita memperhatikan pendidikan generasi muda dan mempersiapkan mereka? Apakah kita hanya akan mempersiapkan generasi muda untuk menjadi baik secara personal tanpa bisa memperbaiki orang lain? Apakah kita akan mempersiapkan generasi muda supaya mereka hanya memperhatikan urusannya sendiri tanpa memperhatikan urusan orang lain? Apakah kita akan mempersiapkan generasi muda supaya bisa menjadi figur agama dalam soal budaya dan keilmuan? Apakah kita mendidik generasi muda hanya untuk melaksanakan syiar-syiar Islam seperti shalat, puasa, zakat, dan haji? Apakah kita akan mendidik generasi muda agar menundukkan pandangannya, menjaga kemaluan serta anggota-anggota tubuh yang lain, memanjangkan jenggot? Apakah cukup itu saja?
Satu pertanyaan ini bisa bercabang menjadi beberapa pertanyaan yang saling berkaitan seperti cabang pohon. Para pemikir dan tokoh-tokoh pembaharu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dengan jawaban-jawaban yang cukup memuaskan. Mereka berpendapat bahwa tujuan mempersiapkan generasi muda adalah supaya mereka baik secara personal karena orang yang rusak tidak akan mampu memperbaiki orang lain, kemudian mereka harus menjalankan tugas sebagai agen perubahan. Kita mempersiapkan generasi muda agar mereka bisa menjadi revolusioner kebenaran atas kebatilan, tentara iman yang menghancurkan kekufuran, serta prajurit yang menyerang langsung ke arah musuh. Kita mempersiapkan generasi muda supaya mereka bisa menjaga agama dan negaranya dari aliran-aliran yang rusak dan pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Kita persiapkan generasi muda supaya mereka bisa berjuang dengan teguh dan tidak lemah dalam melawan bid’ah, khurafat, dan aneka ragam kesesatan. Kita persiapkan generasi muda untuk mengentas umat manusia dari gelapnya kekufuran kepada cahaya Islam. Kita persiapkan generasi muda supaya mereka bisa mengusap kesakitan-kesakitan umat manusia dengan tangannya yang kuat serta menciptakan nuansa yang suci, aman, dan bahagia dalam kehidupan. Kita persiapkan generasi muda supaya mereka bisa mencabik-cabik tentara kebatilan dengan pedang kebenaran, serta mencerai-beraikan gelapnya kebodohan dengan cahaya ilmu. Kita persiapkan generasi muda supaya bisa menggiring umatnya dengan kekuatan tekad ke tempat yang sesuai di atas muka bumi ini. Kita persiapkan lengan-lengan generasi muda untuk membawa bendera dan dakwah Islam. Kita persiapkan akal mereka untuk membawa pemikiran dan budaya Islam. Kita persiapkan jiwa mereka untuk membawa petunjuk serta kemurnian Islam.
Insya Allah generasi muda mampu melakukan semua itu jika mereka mendapatkan perhatian penuh, arahan yang bagus, serta pengawasan yang selalu mengikuti langkah mereka dan menghilangkan rintangan dari jalan mereka. Kita ihat banyak aliran menangkap generasi muda dan memangku mereka secara kolektif. Mereka mempersiapkan generasi muda tersebut dengan sungguh-sungguh supaya mereka bisa menjalankan tugas mengajak kepada aliran-aliran tersebut dan membelanya. Untuk mewujudkannya mereka menyusun langkah-langkah yang sangat efektif, mempasukani dengan kekuatan-kekuatan yang besar, mengucurkan dana yang sangat besar untuk menjamin agar ia tetap menjadi kuat dengan tekad yang senantiasa menggelora. Generasi muda harus memahami kenyataan ini. Mereka harus menyadari sasaran jangka panjang itu. Kenyataan ini harus selalu menjadi renungan yang selalu menemani mereka saat bangun, saat tidur, maupun saat berjalan di antara manusia. Hati mereka sudah terikat dengannya.
Mereka telah mendoktrin kamu andaikan kamu menyadarinya
Maka renungkanlah dirimu jangan biarkan tumbuh terlantar
Generasi muda topik utama umat
Jika Anda ingin mengetahui hakikat umat, jangan bertanya tentang kandungan emasnya, peraknya, minyak buminya, atau pendapatan perkapitanya. Akan tetapi, lihatlah generasi mudanya. Apabila Anda melihat mereka taat beragama, berpegang teguh pada nilai-nilai luhur, sibuk dengan hal-hal yang berguna, serta menggenggam tali kesempurnaan dan keutamaan, ketahuilah bahwa umat tersebut adalah umat yang tidak bisa dianggap remeh, derajatnya tinggi, bangunannya kokoh, dan benderanya berkibar tinggi, tak bisa disentuh oleh musuh dan tak dikehendaki oleh orang yang kuat.
Jika Anda melihat generasi muda moralnya rendah, sibuk dengan hal-hal yang remeh, dan jatuh pada hal-hal yang hina seperti lalat yang jatuh di bangkai, ketahuilah bahwa umat tersebut adalah umat yang bangunannya lemah, sendi-sendinya terpisah, tekadnya lembek, cepat sekali hancur di hadapan musuhnya, hingga musuhnya bisa merampas barang-barang berharganya, meremehkan kesuciannya, menghina kemuliaannya, serta mendistorsi sejarah dan kebudayaannya. Itu adalah kenyataan yang sangat jelas. Pergantian masa hanya akan semakin menambah kejelasannya. Karena itu merupakan hasil pengalaman umat-umat terdahulu, kejadian-kejadian sejarah, dan hukum alam.
Generasi muda adalah topik utama umat. Ia berbicara dengan bahasa keadaan, menerjemahkan akhir dari kehidupannya. Berkat pertolongan Allah umat dengan generasi mudanya bisa menjaga agama dan tanahnya, mengeluarkan harta simpanannya, serta memanfaatkan sumber daya dan komoditinya. Hanya saja itu tergantung pada pendidikan generasi muda, perhatian terhadap mereka, dan menjaga mereka dari segala bahaya yang mengancam moral dan akidah mereka. Itu tergantung pada ketetapan iman di dalam hati mereka. Itu tergantung pada pengembangan jiwa, hati, kemauan, dan pikiran mereka. Itulah pengembangan yang dituntut. Kita juga seharusnya memberikan perhatian lebih padanya melebihi yang lain seperti pengembangan sumber daya alam, karena sumber daya alam dioperasikan untuk manusia. Dengan demikian ia adalah poros penggilingan. Perhatian terhadapnya harus berada di depan semua apa yang sekarang kita perhatikan. Dan beda antara pengembangan yang didorong oleh kebutuhan dan pengembangan yang sejalan dengan kebutuhan.
Semoga kita sepakat bahwa kebutuhan mendesak kita adalah mengembangkan generasi muda kita supaya menjadi pendepan umat, bisa berbicara dengan bahasanya, serta mampu membela kelompoknya. Ketika Anda menjumpai orang yang tenggelam juga kelaparan memohon pertolongan agar tidak tenggelam dan tidak kelaparan, logika akal, kebijakan, dan kebutuhan akan menuntut Anda menyelamatkannya terlebih dahulu kemudian Anda baru mencari makanan untuknya. Jika Anda tidak melakukan seperti ini, Anda jauh sekali dari benar dan melakukan tindakan yang salah. Apa komentar kami jika Anda meninggalkannya diombang-ambingkan ombak yang menelannya, sedangkan Anda pergi mencari makanan untuknya? Itu adalah pengembangan yang beberapa tingkatan lebih tinggi dan jauh lebih maju dari perkembangan materil. Karena membangun jiwa tidak seperti mendirikan bangunan, membangun ruhani tidak seperti mendirikan lembaga. Ini membutuhkan metode yang brilian dan kerja keras yang intensif; bisa mendekatkan yang jauh, memudahkan yang sulit, menjadikan perkataan sebagai aktifitas, dan imajinasi menjadi realita.
Kami tidak meneyepelekan pentingnya pengembangan materi yang tergambar dalam kebangkitan dalam bidang ekonomi, pertanian, dan lain-lain. Namun yang kami kritiki adalah terlalu menyibukkan diri dengan sisi materi hingga melupakan pengembangan rohani dan pendidikan agama. Maka alangkah baiknya kalau dua pengembangan ini berjalan bersama-sama dengan beriringan; yang kedua tidak mendahului yang pertama.
Fokus pada generasi muda
Islam tidak hanya memperhatikan generasi muda saat mereka beranjak menjadi pemuda. Islam juga memperhatikan mereka saat mereka masih berupa sperma di tulang sulbi ayah mereka dan tulang dada ibu mereka. Itu semua terbukti ketika Islam mengajak:
- memilih istri dan berusaha mencari istri dari keturunan orang tua yang mulia dan lingkungan pertumbuhan yang baik, karena ketika seseorang hendak menabur benih, ia akan memilih tanah yang bagus dengan harapan akan tumbuh dengan baik atas izin Tuhannya. Persoalan istri ini lebih besar karena berhubungan dengan reproduksi manusia. Sedangkan yang pertama berhubungan dengan produksi pertanian. Antara kedua produksi ini ada perbedaan yang sangat lebar. Tidak heran jika Islam mengajak untuk bersikap teliti dalam memilih istri, menyeleksinya, memperhatikan etika dan agamanya sehingga keserasian bisa lebih sempurna, rasa cinta bisa bertambah, dan mengarungi kehidupan suami-istri dengan tenang hingga bisa menyambut anak-anak dengan lemah lembut dan kasih sayang hingga mereka bisa tumbuh dalam naungannya serta bisa mengantarkan mereka ke masyarakat sebagai pria-pria yang wanita-wanita yang alami.
- di antara etika pergaulan suami-istri adalah suami menyebut nama Allah Swt. dan memerintahkan istrinya untuk mengikuti etika ini demi mengikuti sunah Nabi Saw.,
لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذاَ أَتَى أَهْلَهُ قاَلَ: بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْناَ الشَّيْطاَنَ وَجَنِّبِ الشَّيْطاَنَ ماَ رَزَقْتَناَ فَقَضَى بَيْنَهُماَ وَلَدٌ لَمْ يَضُرُّهُ الشَّيْطاَنُ أَبَداً
Artinya, “Andaikata salah seorang dari kalian saat mendatangi istrinya mengucapkan, ‘Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rizkikan kepada kami.’ Kemudian Dia menakdirkan anak di antara keduanya, maka setan tidak akan bisa memberikan bahaya kepadanya.”
Begitulah kedua orang tua mendoakan anak mereka sebelum anak tersebut dilahirkan, bahkan sebelum anak tersebut tercipta, hingga saat ia datang ke kehidupan dunia, ia akan tumbuh dengan baik dan jauh dari godaan setan.
- Ketika bayi lahir, kita mengumandangkan azan di telinga kanannya, mengecapkan lumatan kurma di mulutnya, mendoakannya dengan keberkahan, kemudian mengakikahkannya saat bayi berumur 7 hari, serta memilihkan nama yang bagus untuknya. Semua ini adalah ajaran-ajaran yang baik dan saling membantu dalam membentuk awal yang baik bagi kehidupan yang akan datang yang penuh dengan kemuliaan, kebaikan, konsistensi, dan kebahagiaan.
- Menjaga fitrah anak dari segala hal yang mengancamnya dan memperkeruh kesuciannya. Rasulullah Saw. melarang menyusukan anak pada perempuan yang dungu hingga kedunguannya tidak menular melalui air susunya ke diri si anak yang cerdas. Susuan itu bisa mengkontaminasinya dengan sesuatu yang mencemari kebaikannya dan menyerang wataknya.
- Rasul Saw. memerintahkan kita memberi makanan yang halal kepada anak. Daging yang tumbuh dari makanan yang halal akan menjadikan anak mencintai hal-hal yang halal. Begitu juga halnya apabila daging anak itu tumbuh dari makanan yang haram, ia akan menyukai sesuatu yang haram. Dalam kasus ini tampak jelas terdapat banyak kebaikan pada yang pertama. Sedangkan pada bagian kedua terdapat keburukan yang nyata.
- Ketika anak mencapai usia 7 tahun, kita perintahkan mereka melaksanakan shalat. Jika mereka konsisten melaksanakannya, itu bagus. Namun apabila mereka tidak konsisten, kita pukul mereka ketika berusia 10 tahun. Kita juga harus memisahkan tempat tidur mereka hingga mereka tidak melihat sesuatu yang bersifat seksualitas pada usia dini. Secara nalar mereka belum mampu mencernanya. Itu bisa mempengaruhi moral mereka dan membuat perilaku mereka menyimpang. Di antara hikmah dan rahmat Allah adalah bahwa manusia tidak mencapai usia baligh kecuali pada saat umur mereka sudah cukup dewasa. Pada saat itu akalnya sudah tumbuh dan bisa memahami segala sesuatu, mampu menahan keinginannya sampai batas tertentu, dan bisa menahan dorongan syahwatnya.
- Islam membekali generasi muda pada usia dini dengan pengetahuan tentang seksualitas yang sesuai dengan usia mereka dan cocok untuk menjadi pondasi bagi pengetahuan seksualitas yang sempurna. Kita mengajari mereka shalat, mengenalkan mereka etika buang air, hal-hal yang membatalkan wudhu, dan seterusnya. Pengetahuan tentang seksualitas harus diajarkan kepada anak-anak, karena itu bisa memberikan arahan pada perilaku mereka, kecenderungan mereka, serta menjaga langkah-langkah mereka dari penyimpangan.
Pujian dan Sanjungan
Apabila generasi muda loyalitas kepada agamanya murni, berpegang teguh padanya, mendakwahkannya, serta berjuang di jalannya, ia berhak mendapatkan cap kemuliaan dan kebanggaan di dadanya. Allah Swt. memberikan sanjungan kepada para pemuda penghuni gua yang lari membawa agama mereka dan berlindung di gua demi menjaga akidah mereka dan mengharapkan rahmat dari Tuhan mereka. Firman Allah Swt.,
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
Artinya, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (QS al-Kahfi : 13).
Allah Swt. mengabadikan sikap mereka di dalam al-Quran dengan bahasa Arab yang membacanya bernilai ibadah. Allah Azza wa Jalla memuji sikap Ibrahim as. yang berdiri tegak meneriakkan kalimat Tauhid di hadapan kaumnya, para penyembah berhala. Di hadapan teriakannya yang keras dan kuat hati kaumnya lepas, berhala-berhala mereka pun jatuh dan hancur. Firman Allah Swt.,
قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
Artinya, “Mereka berkata, ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.’” (QS al-Anbiya’ : 60).
Rasul kita yang agung memuji pemuda yang taat beragama dan tumbuh dalam ketaatan kepada Tuhannya. Beliau Saw. mengelompokkan pemuda tersebut dengan para hakim yang adil, saudara yang saling mencintai, orang kaya yang bersedekah, dan tujuh golongan lainnya yang mendapat naungan dari Allah Swt. pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Kita juga dapati bahwa beliau Saw. mempercayakan jabatan tertinggi dan tanggung jawab terpenting kepada pemuda. Beliau Saw. mempercayakan kepada Ali ra. saat masih dalam usia belia untuk tidur di tempat tidur beliau pada malam dimana 70 pemuda Quraisy mengepung rumah beliau menunggu saat fajar supaya mereka bisa serempak membunuh Rasul Saw. Saat itu beliau Saw. menyuruh Ali ra. tidur di tempat tidurnya untuk mengelabui mereka. Rasul Saw. pun bisa lolos hingga menjadi awal hijrah Nabi Saw. yang penuh berkah. Setelah kejadian itu Ali bercerita tentang tidurnya di tempat tidur Nabi Saw., “Demi Allah, aku belum pernah tidur senyenyak malam itu.” Nabi Saw. mempercayakan tugas dakwah di Madinah kepada Mush’ab bin Umair. Dia seorang pemuda yang masih belia. Dia melakukan tugasnya dengan sangat baik. Berkat taufik dan kesuksesannya hampir seluruh penduduk Madinah masuk Islam di tangannya. Pada perang Uhud Nabi Saw. menguatkan pendapat generasi muda daripada pendapat orang-orang tua. Beliau menghadapi musuh di luar Madinah. Beliau Saw. juga menyerahkan kepemimpinan pasukan yang menuju Syam kepada Usamah bin Zaid ra. padahal dia berusia dua puluhan tahun, sedangkan di dalam pasukannya terdapat sahabat-sahabat besar. Begitulah Nabi Saw. memperhitungkan generasi muda sebagai pasukan jihad dan pegawai yang aktif. Beliau Saw. juga mempercayakan tanggung jawab paling penting dan kedudukan paling tinggi kepada mereka.
Para pendahulu kita juga mengikuti langkah Nabi Saw. dalam mempersiapkan generasi muda, mempercayai mereka, dan memberikan tugas-tugas penting kepada mereka. Abu Bakar ra. memberikan kepercayaan kepada Zaid bin Tsabit ra. untuk mengumpulkan al-Quran al-Karim setelah beliau memuji etikanya bahwasanya dia adalah pemuda yang konsisten. Suatu hal yang penting untuk memimpin kelompok pilihan. Itu terjadi pada periode keemasan umat. Pada masa kini seyogyanya umat memperhatikan persoalan generasi muda dengan memberikan motivasi kepada mereka untuk selalu berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama dan moral yang kuat. Juga, dengan menghilangkan segala rintangan yang menghalagi jalan dalam mempersiapkan mereka. Mungkin yang lebih baik adalah dengan mempercayakan beberapa posisi dan tanggung jawab kepada mereka dengan memberikan kesesuaian-kesesuaian yang membuat mereka bergerak dengan bebas dan merdeka. Itulah salah satu bentuk dalam mempersiapkan mereka, menumbuhkan kemampuan mereka, mengeluarkan potensi mereka yang masih tersembunyi; Yaitu dengan memberikan mereka kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang tua, mengambil manfaat dari kebaikan mereka, serta meniru pengalaman mereka. Dengan begitu kekuatan pemuda dan kebijaksanaan orang tua akan bersatu dan membuahkan pendapat yang bijak dan perbuatan yang sesuai. Jika tidak, semua persoalan tersebut akan menjadi seperti yang dikatakan seorang penyair bijak,
Segala hal, peristiwa adalah akhirnya
Tanpa adanya orang tua, kau lihat cacat di antaranya
Generasi muda dan imitasi
Pakar sosial berkata, “Manusia hidup modern dengan lingkungannya.” Artinya, manusia tidak akan bisa mencicipi aroma kehidupan, kecuali ia hidup di tengah-tengah kelompok masyarakat. Dan selama ada sekelompok orang, pasti akan terjadi saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya dan saling mengikuti antara satu dengan lainnya. Imitasi (meniru) adalah salah satu metode pembelajaran dan transfer pengetahuan, khususnya bagi mereka yang masih di usia belia. Realitanya adalah bahwa teknologi modern dan cepatnya komunikasi menjadikan seluruh alam sebagai satu keluarga; satu dengan lainnya saling terikat bagaikan anggota tubuh. Ini bukanlah malapetaka, tapi ada manfaat di dalamnya. Namun bahaya bisa saja terjadi apabila kedekatan berubah menjadi percampuran dan berdampingan berubah menjadi peluruhan yang bisa menyebabkan manusia kehilangan identitas dan tradisinya. Kita tidak melarang angin budaya meniup kita. Akan tetapi kita tidak rela angin tersebut menjadi angin kencang yang mencabut akar kebudayaan kita.
Seringkali kita jumpai banyak generasi muda kita membuang jauh adat-adat kita yang mulia dan tradisi-tradisi kita yang murni dengan beralih mengikuti orang-orang Barat pada banyak dimensi kehidupan. Mereka tidak hanya mengikuti, tapi juga mengajak orang lain untuk mengikuti mereka. Mereka menganggap bahwa segala yang datang dari Barat pasti benar dan menirunya adalah sebuah kemajuan, sedangkan berpaling darinya adalah keterbelakangan.
Kita akui bahwa tidak semua yang berasal dari Barat itu buruk, ada juga sisi-sisi baiknya. Kita harus menganalisanya, menerangkannya, dan menyeleksinya. Kita tidak boleh menjadi pengigau di hadapannya. Apa yang sesuai dengan agama dan moral kita, kita ambil. Ambillah hikmah dari manapun ia keluar. Sedangkan apa yang bertentangan dengan agama kita, kita lembar jauh-jauh. Akan tetapi generasi muda kita – semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka – mengikuti orang-orang Barat pada sisi-sisi yang kelam dan meninggalkan sisi-sisi yang terang. Perumpamaan mereka – seperti yang dikatakan oleh syaikh Muhammad al-Ghazali hafizhahullah – bagaikan orang yang terkena TBC melihat orang berpostur besar sedang merokok. Ia hanya tertarik pada cara dia merokok. Dia pun mengikutinya hingga menjadi lemah dan binasa.
Pendidikan Islam mesti dapat menjamin untuk memberikan penerangan kepada generasi muda kita tentang keburukan-keburukan peradaban Barat hingga tidak tertipu oleh hiasan-hiasannya yang menipu dan model-modelnya yang kosong. Dan pada waktu yang sama pendidikan Islam juga mendorong mereka untuk berpegang teguh pada moral Islam yang luhur dan tradisi-tradisi negeri kita yang original demi menjaga warisan leluhur dan membanggakannya. Dengan berpegang teguh pada moral tersebut mereka tidak butuh lainnya. Mereka akan terlindungi dari bahaya peradaban Barat. Pendidikan bisa menjaga mereka dari penyimpangan pemikiran dan dekadensi moral. Tampak jelas bagi mereka pengaruh besar peradaban Islam bagi kemajuan Eropa. Kebangkitan Eropa saat ini adalah berkat dorongan kuat tangan Islam. Andaikata bukan karena kerja keras kaum Muslimin, kebangkitan Eropa pasti telat beberapa abad. Karya-karya Ibnu Sina dan para ilmuwan muslim lainnya dipelajari di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-18 masehi. Para ilmuwan muslim dulu pernah menjadi dosen-dosen Eropa pada semua bidang yang populer. Orang-orang Barat berhutang pada mereka dalam bidang keilmuan. Para ilmuwan Eropa mengakui keunggulan kaum Muslimin ini. Keunggulan ini disaksikan oleh para musuh. Tapi kita tidak butuh kesaksian mereka. Kami menyebutkannya karena kami melihat kaum kita tidak mengetahui apa yang diketahui oleh orang lain dan mengingkari apa yang diakui oleh orang lain. Ini semua dimaksudkan agar mereka menyambut peradaban Islam, menyibukkan diri dengannya, serta menambahinya dengan segala yang bisa membuat tinggi pagar-pagarnya dan menutup kedengkian mereka.
Kewajiban orang tua
Anak merupakan nikmat. Menyukurinya bisa dilakukan dengan memeliharanya dengan baik. Pembinaan yang sempurna bisa terjadi dengan adanya kerja sama antara kedua orang tua dan pihak sekolah untuk mewujudkan pendidikan yang lurus, arahan yang baik, dan pengawasan yang ketat.
Demi mengharap hasil yang luar biasa saya menyebutkan beberapa arahan untuk direnungkan dan diamalkan:
- memperhatikan pendidikan akidah/keimanan; Yaitu dengan memperkuat keimanan kepada Allah Swt., Rasul-Nya, dan Hari Akhir pada diri anak. Kita tanamkan akidah yang lurus supaya bisa menjadi sumber bagi perilaku mulia dan pergaulan yang jujur. Akidah merupakan perahu penyelamat dan benteng pengaman. Di dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. berpesan kepada putra pamannya Abdullah bin Abbas ra. ketika dia membonceng di belakang beliau, sabda beliau, “Wahai bocah, saya akan mengajarimu beberapa kata; jagalah Allah, Allah akan menjagamu; jagalah Allah, engkau akan dapati Dia menujumu..”
Di antara amal yang bisa memperkuat dan memperdalam akar akidah adalah shalat pada waktunya dengan berjamaah, membaca al-Quran, berzikir kepada Allah Swt., membaca sejarah Nabi Saw., kisah para sahabat yang agung, dan para ulama salaf. Juga, kita harus selalu mengawasinya supaya anak tidak menyimpang dari yang baik. Kita tidak boleh mencampurinya dengan bid’ah dan khurafat.
- Mendahulukan ajaran yang murni dan pengetahuan yang benar sesuai dengan perkembangan akalnya agar sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini dimaksudkan agar bisa membuahkan hasil yang baik; Yaitu tumbuhnya kemampuan, luasnya wawasan, dan lurusnya perilaku. Kita tidak cukup hanya dengan memberikan itu padanya. Kita juga harus mengawasi setiap pengaruh yang ditimbulkan dari ajaran-ajaran ini dalam membentuk pemikiran dan tindakannya. Kita harus mengawasinya seperti dokter yang mengawasi orang sakit hingga penyakit tersebut lenyap dan menjadi sehat, atau seperti petani yang mengawasi ladangnya hingga terlihat buahnya.
- Memastikan anak berkawan dengan teman yang baik. Anak muda mudah sekali terpengaruh oleh teman-temannya. Ia ingin selalu bisa serasi dengan mereka dan tidak berbeda dengan mereka. Jika ia anak baik, ia akan cocok dengan anak-anak baik, berperilaku seperti perilaku mereka, dan berakhlak seperti akhlak mereka. Jika ia anak yang jahat, masalahnya sudah jelas dan hasilnya sangat jelas. Termasuk hikmah kenabian adalah sabda beliau Saw. yang diriwayatkan oleh Abu Musa al-Asy’ari ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda,
إِنَّماَ مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصاَّلِحِ وَجَلِيْسِ السُّوْءِ كَحاَمِلِ الْمِسْكِ وَناَفِخِ الْكِيْرِ ، فَحاَمِلُ الْمِسْكِ إِماَّ أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِماَّ أَنْ تَبْتاَعَ مِنْهُ وَإِماَّ أَنْ تَجِدَ رِيْحاً طَيِّبَةً ، وَناَفِخُ الْكِيْرِ إِماَّ أَنْ يُحْرِقَ ثِياَبَكَ وَإِماَّ أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحاً مُنْتِنَةً ( مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ )
Artinya, “Sesungguhnya perumpamaan teman dekat yang baik dan teman dekat yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seorang penjual minyak wangi terkadang mengoleskan wanginya kepada kamu dan terkadang kamu membelinya sebagian atau kamu dapat mencium semerbak harumnya minyak wangi itu. sementara tukang pandai besi adakalanya ia membakar pakaian kamu ataupun kamu akan mencium baunya yang tidak sedap.” (Muttafaq ‘Alaih).
Membiarkan generasi muda pergi kapan saja dan bersama siapa saja yang dikehendaki tanpa pengawasan ayah, ibu, atau wali, bukanlah pendidikan yang baik, bukan pula melaksanakan tanggung jawab atau memelihara amanat.
- Mengatur waktu anak-anak dan program belajar mereka dengan menumbuhkan rasa menghargai waktu pada diri mereka dan memberikan pengertian pada mereka bahwa waktu adalah kehidupan. Terlewatnya waktu tanpa guna lebih berat daripada lewatnya ruh. Dengan demikian mereka akan menjaga waktu dengan sungguh-sungguh seperti orang pelit yang menjaga hartanya, juga bagaikan pengecut yang menjaga nyawanya. Mereka akan memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang berguna. Kita ketahui bahwa dalam dunia pendidikan harus ada waktu untuk hiburan karena semua yang berjalan secara monoton dapat menyebabkan kebosanan. Sedangkan apabila hati sudah tumpul, ia akan buta. Hiburan sebentar bisa memperbaharui semangat, memperkuat kemauan, dan membuka mata hati. Media-media hiburan yang bebas, Anda lebih mengetahuinya.
- Kita harus bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita, karena mereka meniru orang tua mereka. Mereka tumbuh seperti yang dibiasakan oleh orang tua mereka. Jika itu baik, mereka akan menjadi baik. Namun, jika itu jelek, mereka akan menjadi jelek. Mata mereka paling sering melihat orang tua mereka. Citra orang tua mereka akan tercetak di layar memori mereka. Kita harus berusaha menjadikan citra tersebut tergambar dengan tinta istiqamah dan berpakaian takwa. Mereka lebih terpengaruh dengan apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar, sebab tindakan lebih kuat daripada perkataan. Jika kedua hal ini bergabung, keduanya bisa berefek seperti sihir pada diri anak. Keduanya bisa menarik hati dengan sangat mudah.
Anak-anak muda tumbuh di antara kita
Seperti kebiasaan yang diajarkan ayahnya
Ulama dan generasi muda
Banyak bahaya sedang mengancam generasi muda kita. Supaya kita waspada terhadap bahaya ini, kita harus mempersiapkan diri dan menabuh genderang. Pertanyaannya adalah siapakah yang akan menabuh genderang? Jawabannya adalah ulama. Di tangan merekalah tanggung jawab untuk memobilisasi umat dan menyelamatkan mereka? Jika bukan mereka, siapa lagi? Ulama adalah dokter yang memeriksa penyakit dan memberikan obat, kemudian mengawasinya hingga penyakit tersebut sirna dan tergantikan oleh kesehatan. Setiap penyakit yang dibiarkan pasti akan bisa membinasakan orang yang sakit. Tidak ada jalan lain kecuali ulama melaksanakan kewajiban mereka sesuai dengan kerelaan hati mereka dan keridhaan Tuhan mereka. Mereka bertanggung jawab menjaga generasi muda umat. Jika tidak, mereka akan bertanggung jawab di hadapan sejarah. Apalagi tanggung jawab besar di hadapan Allah Azza wa Jalla yang membuat perjanjian kuat dengan ulama dalam setiap agama untuk menerangkan kebenaran dan tidak menyembunyikannya. Firman Allah Swt.,
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ ….
Artinya, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” (QS Ali Imran : 187).
Firman Allah Swt.,
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ (١٥٩)إِلا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (١٦٠)
Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS al-Baqarah : 159 – 160)
Syaikh Abdullah bin Ahmad Qadiri berbicara tentang kewajiban ulama terhadap generasi muda,
Wahai ulama umat,
Generasi muda kalian dalam kegelapan
Mereka telah menyimpang dari Islam mereka
Dan tenggelam dalam dosa-dosa mereka
Dan cita-cita agung mereka adalah
Memenuhi syahwat mereka
Para musuh menggiring mereka
Kepada kekufuran dan kedurhakaan
Hingga mereka menjadi penolong
Bagi orang yang terang-terang kufur
Mereka telah kehilangan kepribadian,
Kemuliaan, dan keberanian
Sedangkan kalian berada dalam kelalaian,
Wahai ulama umat
Kenapa kalian tidak bangkit
Dan tidak melawan kemalasan
Dari luar yang menyerang generasi
Dengan menunjukkan jalan kepada mereka
Bukankah di dalam al-Quran
Dan sunah-sunah yang baik
Telah datang ancaman kepada kita
Yang sangat keras dan besar
Bagi setiap orang yang menyembunyikan
Dan tidak menerangkan ilmu
Renungkanlah, wahai ulama
Bahaya besar yang menyerang
Segala yang tidak baik
Terangkanlah kepada generasi muda[1]
Para ulama wajib memperhatikan perintah Allah Swt., merapatkan barisan mereka, serta meniti jalan jihad dan perbaikan. Mereka mesti memerangi kebatilan dengan langkah yang tepat dan kekuatan yang fokus. Mereka harus memeranginya dengan tekad yang tidak kenal lemah dan lesu, perjuangan menuju perubahan Islam yang dikehendaki, dan memenangkan tujuan yang telah ditentukan dan disepakati; yaitu mewujudkan perintah Allah Azza wa Jalla sebagai konsep yang nyata, metodologi yang diikuti, perilaku yang dibiasakan, undang-undang yang berlaku, serta menjadi negara yang selalu menjaga keamanannya dan berusaha menyebarkan keamanan tersebut di tengah-tengah umat manusia. Dengan demikian kita tumbuhkan nuansa yang baik bagi generasi muda kita untuk tumbuh dengan sempurna, hingga mereka bisa memberikan banyak kebaikan yang penuh berkah dan buah yang matang kepada umat manusia. Itulah kewajiban ulama yang tidak boleh dilalaikan atau diremehkan. Itulah kewajiban yang harus dilakukan saat itu juga, tidak ada istirahat setelahnya.
Kitab : at-Tarbiyah al-Islamiyah li asy-Syabab
Penulis : Abdurrahman Balha Ali
Penerbit : Majalah Universitas Islam Madinah al-Munawarah