Pendidikan Akhlak, Intelektual, dan Skills

blank

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Anda masih ingat novel Laskar Pelangi yang karena fenomenal kemudian difilmkan? Yupz, novel best seller garapan Andrea Hirata. Sebuah kisah novel yang sangat menarik perhatian terutama oleh dunia pendidikan di Indonesia. Potret sebuah pendidikan pada sekolah yang sederhana, jauh dari kemewahan dan ukiran prestasi yang bergengsi, tapi pendidikan yang tercermin bukan hanya memberikan ilmu pengetahuan belaka, melainkan sarat akan pembinaan perilaku dan karakter, sehingga tumbuh sebuah kreativitas yang bukan karena fasilitas.

Masjid Darunnajah Cipining

Pada dewasa ini, cermin pendidikan menempati sisi berbeda di mata masyarakat. Sebagian orang tua justru bangga serta memimpikan mendapatkan investasi dari pendidikan anak-anaknya. Meraka berharap anak-anak mereka tersebut mendapatkan keuntungan pada masa depannya yang bersifat materi serta finansial. Sekurang-kurangnya menempati strata sosial terpandang dan mempunyai harkat dan martabat karena jabatan atau selainnya.

Masyarakat bangsa ini mungkin lupa, atau terpesona akan pendidikan metoda barat, sehingga tidak diliriknya pendidikan yang telah dirintis para pendahulu kita, Seperti Ki Hadjar Dewantara, Kyai Haji Ahmad Dahlan, serta para tokoh pendidikan lain yang berhasil melahirkan manusia-manusia besar pada zamannya. Bukan karena hartanya. Bukan karena kemewahannya. Namun karena prestasi dan amal baiknya dalam berbagai hal. Beliau-beliau ini telah mencoba merintis pendidikan yang mengajarkan akan budaya timur, sepert budi pekerti, etika, sopan santun pada anak bangsa negeri ini. Mereka memahami, pendidikan adalah karakter itu sendiri.

Saat ini, banyak kita temui terutama pada sekolah unggulan. Mereka merasa bangga dan unggul bukan karenanya karakter, mental, dan moral, tapi hanya sebatas budaya yang budaya tersebut diambil dari Barat. Mengaku berkualitas karena menggunakan bahasa asing. Bahkan berharap dibedakan dengan sekolah-sekolah lain karena lebih internasional.

Sekolah-sekolah model ini telah terperangkap dalam gengsi. Upaya mensejajarkan diri dengan melupakan identitas dan makna pendidikan itu sendiri. Ditambah pula dengan persepsi masyarakat yang telah terpengaruh terhadap konsumerisme dan matrialisme yang menuntut anak-anaknya mampu bersaing dalam sisi ini. Masyarakat menuntut sekolah memberikan masa depan kehidupan anak yang berkecukupan. Masalah agama dan akhlak bisa dinomorduakan.

Bila kita sedikit saja melirik pendidikan di Jepang, pendidikan tidak hanya dapat menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga tetap diberikan pendidikan budi pekerti dan pengetahuan budaya mereka. Sehingga mereka tetap mencintai dan juga mengerti asal mereka dengan budaya nenek moyangnya. Karena pendidikan tidak hanya mengedepankan kecerdasan Intelektual tetapi juga Kecerdasan moral, spiritual dan emosional.

Masyarakat seharusnya menyadari, bahwa sistem pendidikan di Negara kita cenderung hanya menyiapkan para siswa untuk masuk ke jenjang selanjutnya lalu perguruan tinggi atau hanya untuk mereka yang memang mempunyai bakat pada potensi akademik (ukuran IQ tinggi) saja.

lihat saja pada bobot mata pelajaran yang diarahkan kepada pengembangan dimensi akademik siswa yang sering hanya diukur dengan kemampuan logika-matematika dan abstraksi (kemampuan bahasa, menghafal, abstraksi atau ukuran IQ). Padahal ada banyak potensi lainnya yang perlu dikembangkan, karena berdasarkan teori Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk, potensi akademik hanyalah sebagian saja dari potensi-potensi lainnya.

Sekolah memiliki tanggung jawab strategis guna meningkatkan seluruh kecerdasan dasar setiap anak. Secara garis besar kecerdasan tersebut seharusnya meliputi 3 ranah utama, yaitu 1) pendidikan akhlak, 2) pendidikan intelektual, dan 3) pendidikan skills.

Pendidikan Akhlak

Kata akhlak berasal dari bahasa Arab yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat. Jika dalam bahasa sehari-hari akhlak terkait dengan adab sopan santun, susila, dan tingkah laku. Dalam bahasa Yunani, akhlak disebut dengan kata ethicos atau ethos, artinya adab kebiasaan, perasaan batin atau kecenderungan hati untuk melakukan sesuatu.

Pendidikan akhlak sanagt dibutuhkan dan diperlukan di zaman sekarang ini. Karena budaya yang baik bersumber dari manusia-masusia yang sarat dengan akhlak yang baik. Pendidikan akhlak diharapkan dapat membantu permasalahan bangsa terutama kaum muda. Dengan berbekal akhlak, seseorang akan mengetahui dan mampu memilah serta memilij perbuatan baik dan buruk. Menempatkan sesuatu pada tempatnya dan berlaku memanusiakan manusia dengan hubungan yang mulia.

Al-Ghazali mengatakan bahwa sumber-sumber akhlak di antaranya adalah Al-Qur’an, sunnah nabi, dan akal fikiran. Sedangkan Abul A’la Maududi berpendapat bahwa sumber-sumber akhlak tersebut antara lain, pertama: bimbingan Tuhan, yaitu Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad. Kedua: pengalaman, ratio dan intuisi manusia sebagai sumber tambahan.

Pendidikan akhlak hendaknya tidak terpisah dari semua materi pelajaran. Karena secara mendasar bahwa tujuan pendidikan akhlak adalah untuk menyiapkan manusia agar memiliki sikap dan perilaku terpuji, baik ditinjau dari segi agama, masyarakat, dan budaya.

Bahkan, dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional  menyatakan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia sutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Rosulullah Muhammad SAW manusia pilihan yang Akhlaknya dipuji oleh Allah: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak (berkarakter) mulia nan agung. (QS al-Qalam:4), serta manusia yang diutus untuk mendidik akhlak manusia sebagaimana bunyi hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan (mendidik) akhlak manusia.

 

Pendidikan Intelektual

Pada sisi ini, pendidikan seharusnya menjadi proses bertambahnya keilmuan seseorang. Biasanya istilah yang digunakan adalah IQ . Tidak dipungkiri, IQ menjadi tendensi utama pendidikan pada sebagian besar sistem pendidikan kita. Sebagai standarisasi, murid yang memiliki nilai akademik baik, maka dikatakan pintar atau cerdas.

Learning to know adalah proses pembelajaran yang memungkinkan murid dapat menghayati dan akhirnya mampu merasakan serta menerapkan cara memperoleh ilmu pengetahuan.  Yaitu suatu proses yang memungkinkan tertanamnya sikap ilmiah, sikap ingin tahu kemudian rasa untuk mencari jawaban atas masalah yang dihadapi secara ilmiah.

Intelektual menurut  David Wechsler adalah inteligensi yaitu kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.

Pendidikan Skills

Implementasi  skills  dalam  pembelajaran  di  sekolah  kini  menjadi  dimensi penting dalam proses pendidikan di Indonesia untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) pembangunan yang bermutu guna menjawab tantangan globalisasi yang keberadaannya tidak mungkin terhindarkan untuk tetap dapat bertahan dalam persaingan kehidupan di masa-masa mendatang.  Pendidikan skills memberikan  bekal bagi  peserta didik untuk menghadapi dan memecahkan problema hidup, baik sebagai pribadi yang mandiri, warga masyarakat maupun sebagai warga negara.

Pendidikan skills mengorientasikan siswa untuk memiliki kemampuan dan modal dasar agar dapat hidup mandiri dan survive di lingkungannya. Pendidikan life skills   diperlukan   dan   mendesak   untuk   diterapkan   di   Indonesia   karena   muatan kurikulum di Indonesia cenderung memperkuat kemampuan teoritis-akademik (academic skills). Pelbagai kebutuhan dan persoalan empirik lingkungan tempat siswa tumbuh kurang diperhatikan. Hal ini menyebabkan siswa kurang mampu mengaplikasikan kemampuan belajarnya dengan kebutuhan dunia kerja dan persoalan yang terjadi dalam masyarakatnya.

Kecakapan hidup (skills) biasanya terkait dengan bidang pekerjaan (occupational), atau bidang kejuruan (vocational) yang ditekuni atau  akan dimasuki. Kecakapan    hidup    seperti    juga    disebut    dengan    kompetensi    teknis    ( technical competencies)   yang   sangat   bervariasi,   tergantung   kepada   bidang   kejuruan   dan pekerjaan yang akan ditekuni. Namun demikian masih ada, kecakapan yang bersifat umum, yaitu bersikap dan berlaku produktif (to be a productive people). Artinya, apapun bidang  kejuruan  atau  pekerjaan yang  dipelajari, bersikap dan berperilaku  produktif harus dikembangkan.

Kesimpulan

Memperhatikan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pendidikan sangat mempengaruhi hasil yaitu siswa atau murid. Sehingga menjadi penting bahwa pendidikan di Indonesia hendaknya mengacu pada 3 hal, yaitu siswa bertambah baik (pendidikan akhlak), siswa bertambah pintar (pendidikan intelektual), dan siswa bertambah kreatif (pendidikan skills). (red)

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang Banten

Ujian lisan menguji mental santri

Tidak hanya sekedar menghafal pelajaran namun santri juga di tuntut agar dapat mempunyai mental untuk mengutarakan pendapat serta ilmunya agar kelak bisa di amalkan dan

blank
Pondok Pesantren An-Nur Darunnajah 8 Cidokom Bogor

Kegiatan Fathu Kutub Santri Akhir TMI

Cidokom Post – Sejak Sabtu (24/10) Pondok Pesantren Anur Darunnajah 8 mengadakan kegiatan tahunan Fathu Kutub untuk santri akhir TMI. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula