Pesantren Darunnajah kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan tradisi keilmuan Islam dengan menggelar pelatihan Thibbun Nabawi (pengobatan ala Nabi) pada Minggu (10/5). Kegiatan yang berlangsung di Aula 4 Windu ini diikuti oleh santri kelas 4 dan 5, serta para ustadz dan ustadzah. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan memperdalam pemahaman tentang metode pengobatan yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Thibbun Nabawi atau pengobatan ala Nabi merupakan serangkaian metode penyembuhan yang bersumber dari ajaran Nabi Muhammad SAW. Pengobatan ini mencakup berbagai metode seperti bekam (hijamah), ruqyah syar’iyyah, herbal, dan doa-doa penyembuhan. Berbeda dengan pengobatan konvensional yang berfokus pada fisik, Thibbun Nabawi memandang manusia secara holistik, meliputi aspek fisik, mental, dan spiritual.
Ustadz Sadu Suud selaku pemateri utama membahas secara komprehensif mengenai macam-macam Thibbun Nabawi dan perbedaan antara ruqyah dengan jampi-jampi. “Ruqyah adalah membacakan ayat-ayat suci Al-Quran untuk melepaskan gangguan-gangguan jin dengan kekuatan dan kebesaran Allah SWT sebagai pencipta seluruh makhluk,” jelas beliau. Pembahasan ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 27 yang menyatakan bahwa setan adalah musuh nyata bagi manusia: “Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga.” Serta dalam Surah Al-Jinn ayat 19: “Dan sesungguhnya ketika hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya, mereka (jin-jin) itu berdesakan mengerumuninya.”
Dalam sesi berikutnya, Ustadz Sadu Suud menjelaskan mengenai penyakit ‘Ain (mata hasad) sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dan penyakit hasad yang disinggung dalam Surah Al-Falaq, serta fenomena sihir. Beliau menekankan bahwa semua gangguan tersebut bisa dicegah dengan istiqomah membaca Al-Quran, mendekatkan diri pada Allah, serta rutin membaca dzikir pagi dan petang. “Jika seseorang terkena sihir atau gangguan gaib lainnya, Ruqyah Syar’iyyah adalah salah satu metode pengobatan yang dianjurkan,” tambahnya.
Di akhir sesi, para peserta mendapatkan kesempatan untuk mempelajari teknik pengobatan bekam yang telah dicontohkan sejak zaman Rasulullah SAW. Bekam atau hijamah adalah metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh menggunakan teknik vakum. Pada masa Nabi, bekam dilakukan dengan menggunakan tanduk hewan. “Bekam memiliki berbagai manfaat kesehatan, di antaranya melancarkan peredaran darah, mengurangi nyeri, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh,” jelas Ustadz Sadu.
Pelatihan yang berlangsung selama sehari penuh ini mendapatkan respons positif dari para peserta. Salah satu santri kelas 4, Meutya Zahra, mengungkapkan kekagumannya terhadap kekayaan ilmu pengobatan dalam Islam. “Saya baru menyadari bahwa Islam memiliki sistem pengobatan yang begitu komprehensif. Ini membuka wawasan saya bahwa menjaga kesehatan adalah bagian dari ibadah,” ujarnya. Pihak pesantren berharap pelatihan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkala untuk melestarikan warisan keilmuan Islam sekaligus membekali santri dengan keterampilan praktis yang bermanfaat bagi masyarakat luas.



