Sudah menjadi hal yang umum bahwa tuuan diciptakannnya makhluk adlah untuk beribadah hanya kepada Alalh swt. dan tidak mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun. Sebagaimana Allah berfirman :

وَمَا خَلَقْتَ اَلْجِنَّ وَاْلاِنْسَ اِلَّا لِيَبُدُوْنِ

Artinya :

“ Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia malainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (semata). (QS: Adz Dzariat: 56)

Menurut Imam Ibnu Katsir, bahwa penafsiaran ayat ini selain dari tujuan penciptaan manusia untuk beribadah semata-mata kepada-Nya dan tidak mempersekutukannya, berkaitan pula dengan bahwa Allah akan memberikan ganjaran dan pahala yang sempurna bagi orang-orang yang taat Kepada-Nya serta akan mengadzabnya dengan adzab yang sangat pedih bagi orang-orang yang mendurhakai Allah swt. penjelsan tersebut, mengindikasikan bahwa konsekwensi dari ibadah adalah perintah dan larangan. Sehinga perintah dan larangan ini mejadi standar dalam mengukur sejauh mana ketaatan dan kedurhakaan seorang hamba kepada Allah swt.

Alangkah bahagianya bila seorang hamba mengetahui ilmu tentang perintah-perintah yang Allah berikan kemudian mengamalkannya. Karena Allah akan membukakan pintu rizki dan keberkahan dari langit dan bumi.

Serta alangkah bahagianya pula seorang hamba yang mengetahui larangan-larangan Allah kemudian doa menjauhinnya. Niscaya ia akan dijauhkan dari keburukan, murka dan adzab Allah yang sangat pedih. Hanya saja, termasuk realita yang sangat memprihatinkan, ketika mendengar haramnya sesuatu perbuatan atau perkara, sering kali kita dapati sebagian masyarakat berkomentar “Gitu aja kok haram sih?” Atau “Masa Cuma gini doang gak boleh?!” begitu juga kalo mendengar tentang kewajiban atau perintah, terkadang mereka berkomentar “ih, kok susah banget sih!” atau ucapan-ucapan yang semisalnya. Perkataan sisis semacam ini seharusnya tidak terjadi apabila mereka memiliki sikap dan hcara pandang yang benar terhadap Islam dan Hakikat kehidupan dunia.

Sekiranya mereka mengetahui dan benar-benar menyadari serta mengimani bahwa dunia ini bukan tempat bersenag-senang tetapi tempat ujian dan cobaan niscaya mereka tidak akan melontarkan protes semacam itu. Ketika mendapati hali-hal yang diperintahkan dan dilarang luntuk mereka, bahkan merka menganggap itu semua adalah hal yang wajar.Bukankah Allah swt. telah berfirman

اَلَّذِى خَلَقَ اَلْمَوْتَ وَالْحَيَوةَ لِيَبْلُوَ كُمْ اَخْسَنُ عَمَلًاوَهُوَالْعَزِيْزُ الْغَفُوْرَ

“Dialah yang telah menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya dan Dia maha perkasa lagi Maha Pengampun (QS. (Al-Mulk : 2)

Menurut Syekh Abdurrahman Ibn Nashir as-Sa’di. Adapun orang yang melihat sisi dalam dari dunia serta mengetaui maksud dari eksistensi dunia dan eksisitensi dirinya, maka ia hanya akan mengkonsumsi sebagian dunia yang adapat membantunya mencapai tujuan dari penciptaan dirinya, dan manfaatkan kesempatan sebaik-baiknya pada umurnya yang sangat bernilai. Ia jadikan dunia sebagai tempat persinggahan, bukan kediaman, sebagai bagian segala usahanya untuk mengenal Rabbnya, melaksanakan segala perintahnya serta membaguskan amalan.

Sumber : (Taysir al-Karim Ar-Rahman Hal. 471)

(Tobidin/DJ)