Dengan mengusung tema Unity In Diversity (Persatuan dalam Perbedaan), kelas akhir (Niha’i) TMI Darunnajah Cipining angkatan ke-XVI yang bernama Al-Muqtasida semalam (16/5/09) menggelar panggung gembira megaspektakuler di lapangan basket Darunnajah. Panggung gembira kali telah disetting secara apik dengan arsitektur sebuah gambar masjid lengkap dengan 2 menaranya berhiaskan lampu-lampu sorot yang dipasang berkeliling panggung. Tepat di tengah-tengahnya dipasang layar putih yang menampilkan secara live acara yang sedang berlangsung di atas panggung.
Bentuk panggung yang dibuat secara bertingkat ini sengaja dibuat secara megah oleh santri niha’i karena saat itu adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk dapat menampilkan kreativitas dan bakat mereka di depan para santri dan warga pesantren Darunnajah Cipining. Sebelum mereka meninggalkan pesantren pada hari Kamis, 21 Mei nanti, mereka ingin menampilkan persembahan terakhir untuk almamater mereka tercinta. Kerja keras, kekompakan, dan semangat terus mereka kobarkan hingga tadi malam penyelenggaraan acara panggung gembira dapat terselenggara dengan sukses.
Sabtu (16/02), tepat pukul 20.00 WIB kedua pembawa acara, Dede Maryadi dan Yusep Supriatna tampil ke atas panggung. Sebelum membuka acara, kedua MC ini menampikan maneuver bahasa Arab dan Inggris di depan warga pesantren yang hadir dalam kesempatan tersebut. Semangat menggebu penuh orasi, mengajak hadirin untuk memuji kepada Dzat Yang Mahakuasa kemudian bershalawat teruntuk baginda Rosulullah, dilanjutkan dengan menyambut para undangan dan hadirin untuk bersama-sama membuka acara dengan membaca surat Al-Fatihah.
Untuk menambah keberkahan dan fadhilah dari acara malam itu, maka lantunan ayat suci AlQur’an pada surat Ali-Imron ayat 103-104, dibacakan secara kolaborasi oleh Dede Wahyu Hidayat dan Rizki Fahrudin menggunakan lantunan suara emas keduanya. Setelah mentafakurkan hati hadirin dengan ayat-ayat suci, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Oh Pondokku dan Mars Darunnajah. Kedua lagi ini adalah lagu yang selalu dinyanyikan dalan forum resmi sebagai bentuk apresiasi dan dedikasi warga pesantren terhadap pondoknya.
Acara selanjutnya adalah sambutan dari ketua panitia, Muhammad Hasan dan Abiyudin bersama-sama dengan ketua angkatan XVI yaitu, Cahyono serta Dajti Kahfi. Sambutan yang disampaikan secara kolaboratif berisi tentang ucapan terima kasih kepada Pimpinan Pessantren dan jajarannya yang telah mendidik mereka selama 6 tahun ini. Tiada terasa waktu 6 tahun telah mereka lewati bersama Bapak Kyai dan asatidz di Darunnajah Cipining, hingga saat yang tak lama lagi, mereka harus meninggalkan pondok tercinta untuk meneruskan pendidikan mereka. Do’a dan restu mereka pinta dari seluruh warga pesantren agar di kemudian hari mereka mendapatkan segala yang dicita-citakan serta menjadi muslim yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.
Tidak lupa, di penghujung sambutan, keempat santri perwakilan kelas niha’i ini memohon keikhlasan semua pihak untuk memaafkan kesalahan-kesalahan mereka selama ini. Dan pada malam itu, mereka berharap kepada para undangan dan hadirin dapat menikmati suguhan terakhir mereka dalam aneka kreasi megaspektakuler 2009.
Tampil untuk sambutan kedua adalah Mudir Darunnajah Cipining, KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc. yang mengawali dengan membeberkan padatnya program kelas niha’i di akhir tahun. “Kelas 6 ini telah melalui berbagai program pesantren dan negara yang terus sambung menyambung, diawali dulu dengan Praktik Dakwah dan Pengembangan Masyarakat (PDPM), pergantian pengurus, Amaliah Tadris, Try Out, UN dan Ujian akhirnya Ujian Niha’I” papar Bapak Kyai.
“Namun, malam ini, mereka telah menyelesaikan semua itu dengan baik dan tertib, untuk itu, saya ucapkan selamat kepada anak-anak kelas 6” lanjut pimpinan pesantren diiringi dengan riuh tepuk tangan hadirin.
Pada kesempatan itu pula, beliau mengamanatkan kepada seluruh kelas 6 yang akan meninggalkan pesantren untuk membuat kesan yang terbaik (khusnul khotimah). Menurut Bapak Kyai, kesan yang baik akan bernilai positif bagi setiap orang, karena jika santri sudah dikesankan dengan kejelekan akan menjadi bumerang bagi dirinya. Santri seperti itu tidak akan pernah nyaman. Bapak Kyai menyontohkan, santri yang berkesan tidak baik akan sungkan untuk bersilaturahmi kembali ke pesantren karena merasa dikenal kejelakannya, hingga akhirnya tidak pernah datang lagi ke pesantren dan terputuslah silaturahminya dengan pesantren. Maka yang rugi adalah santri itu sendiri.
Usai sambutan, acara disempurnakan dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh kepala Biro Pengasuhan, Ustadz Ahmad Rosichin, S.Pd.I. Dalam khusyu’ dan tawadhu’ , Ustadz Rosihin mulai membaca do’a bagi warga Darunnajah tercinta memohon ampunan atas semua kealfaan, kesalamatan dan kebahagiaan. Munajat demi munajat dilantunkan diiringi dengan pengharapan oleh Sang Pengabul Hajat, Allah SWT.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan-penampilan. Pada acara penampilan kali ini, MC digantikan oleh Rusmayunavi dan Adi Menggala. Sebelum memanggil para petugas penampilan, kedua MC yang dikenal kocak ini berhasil mengocok perut hadirin dengan banyolan-banyolan andalan keduanya.
Memasuki penampilan pertama panggung gembira tadi malam adalah kelompok marawis. Dengan seragam serba putih serta ikat kepala juga berwarna putih, kelompok marawis dengan vokal Dede Wahyu Hidayat dan Rizki Fahrudin mempersembahkan 2 buah lagu. Usai menikmati lantunan musik padang pasir tersebut, hadirin dihibur dengan drama komedi berjudul ‘Si Tuli, Si Buta, dan Si Tengkleng’ Drama yang mengisahkan 3 orang yang masing-masing memiliki kekurangan berbeda yaitu Si Tuli, Si Buta, dan Si Tengkleng memberikan hikmah bahwa dengan perbedaan kondisi mereka yang seperti itu dapat melakukan yang terbaik jika ketiganya rela untuk bersatu, bahu-membahu. Inilah yang ingin digambarkan oleh para santri nihai pada tema panggungnya saat itu.
Belum puas dengan marawis dan dramanya, penampilan selanjutnya merupakan aksi medan laga yang mencaba divisualisasikan melalui aksi panggung yaitu pencak silat. Dengan 7 orang personil, mereka mempersembahkan ketangguhan dan keindahan jurus-jurus yang dimiliki oleh Organisasi Seni Beladiri Darunnajah Cipining yang sempat menjuarai dalam beberapa events di luar pesantren. Tidak lupa, sebagai penutup, mereka juga mendemontrasikan fighting.
Untuk mengembalikan ketegangan penonton, MC kembali memanggil grup vocal dengan persembahan 2 buah lagu nasyid. Kemudian dilanjutkan dengan Drama musikal bertema ‘Pak Guru, Maafkan Kesalahan Kami !’ oleh anak-anak teater SKETSA. Drama ini mengisahkan perjuangan seorang guru bernama Pak Bejo yang sangat berdedikasi dalam profesinya meski godaan dan cobaan menerpanya silih berganti.
Selanjutnya, hadirin disegarkan kembali dengan penampilan tari kombinasi di bawah komando Yusep Supriatna dan Arif Hidayatullah. Kagum menyaksikan gerak para santri yang penuh enerjik tersebut, hadirin kembali dihibur dengan grup band kelas niha’i. Ahmad Noor yang menjadi vokalis sekaligus gitar mempersembahkan 3 buah lagu dari D’Masiv, Ungu dan lagu ciptaan sendiri.
Menjelang tengah malam, sebuah penampilan tentang gambaran negeri Indonesia yang tengah terkena badai multikrisis, mencoba ditampilkan dalam bentuk teatrikal. Tema yang diangkat semakin memanas saat menyinggung permasalahan pemilu dan pilpres yang kian santer dalam dunia perpolitikan negeri kita saat ini. Di akhir penampilan, mereka kembali mengibarkan tema yang mereka usung malam itu ’Unity In Deversity’. Betapa persatuan harus tetap dijunjung meski berbagai perbedaan terjadi di tengah-tengah kita.
Akhirnya, rangkaian acara hingga di penghujungnya. Tibalah saatnya lagu perpisahan dari santri kelas Niha’i menutup acara. Iringan lagu yang dinyanyikan dengan segenap rasa yang terdalam menjadi saksi derasnya air mata dari setiap santri Niha’i yang dalam hitungan hari akan meninggalkan Darunnajah Cipining tercinta. Tiada kata yang terucap, namun dekapan erat melalui jabatan tangan dan pelukan, cukuplah menjadi penanda betapa rapuhnya hati manusia saat perpisahan tiba. Hanya do’a dan asa yang dapat kami berikan kepada santri Niha’i, semoga tetap menjadi pribadi yang sejati yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya dalam suka maupun duka. Selamat berjuang!