Menu

Orang Pinter Kalo Gak Bener Jadinya Keblinger

Orang Pinter Kalo Gak Bener Jadinya Keblinger

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Hari-hari ini terdapat info viral yang harus dijadikan bahan refleksi diri atau muhasabah nafsi karena seperti dinyatakan sang bijak bestari bahwa bencana atau musibah yang menimpa satu kaum hendaknya menjadi pelajaran dan penyadaran bagi kaum lainnya. مصائب قوم عند قوم فوائد

Orang Pinter Kalo Gak Bener Jadinya Keblinger
Orang Pinter Kalo Gak Bener Jadinya Keblinger

Berita viral itu berasal dari Inggris yang menginfokan adanya seorang mahasiswa doktoral di sebuah perguruan tinggi di sana yang berasal dari negeri +62 terciduk aparat keamanan setempat terkait pelanggaran perilaku seks menyimpang yang dulu pernah diderita oleh kaum Sodom. Korbannya berjumlah fantastis karena mencapai angka ratusan.

Dari sisi intelegensi pelaku termasuk yang bagus karena bisa lulus dari perguruan terkenal dan favorit yang notabene banyak melahirkan tokoh nasional. Bahkan menurut info BBC, dia menyandang 3 gelar master sekaligus.

Namun justru disitulah letak pertanyaannya: mengapa kecerdasan secara akal fikiran (IQ) tidak berbanding lurus dengan kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spitual atau religiusitas (SQ)?.

Pertanyaan menggelitik ini membawa memori dan pemahaman saya terbang ke sebuah kata-kata yang sangat familiar di kalangan umat Islam terutama kaum santri: Barang siapa bertambah pengetahuannya tetapi tidak bertambah petunjuk (agamanya) justru akan semakin jauh dari (keridhaaan) Allah SWT, من ازداد علما ولم يزدد هدى فلم يزدد من الله إلا بعدا

Terlebih lagi bahwa yang bersangkutan belum mendapatkan petunjuk agama Islam alias masih non muslim maka semakin jelaslah urgensi petunjuk agama Islam yang sempurna dan paripurna ini dalam membimbing kehidupan manusia yang membahagiakan di dunia dan akherat.

Lantas pertanyaannya adalah ilmu pengetahuan yang bagaimana yang terbaik bagi manusia (muslim)?, jawabannya adalah yang menjadikannya semakin takut kepada Allah SWT seperti dinyatakan dalam Al Qur’an hanya orang-orang yang berilmu yang akan takut kepada Allah SWT:
(وَمِنَ ٱلنَّاسِ وَٱلدَّوَاۤبِّ وَٱلۡأَنۡعَـٰمِ مُخۡتَلِفٌ أَلۡوَ ٰ⁠نُهُۥ كَذَ ٰ⁠لِكَۗ إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِیزٌ غَفُورٌ)
[Surat Fathir 28]

Ibnu ‘Athailah As Samarkandiy dalam magnum opusnya Al Hikam menyatakan bahwa sebaik-baik ilmu pengetahuan adalah yang menjadikan empunya semakin takut kepada Allah SWT:
خير العلم ماكانت الخشية معه
Takut kepada Allah SWT justru akan semakin mendekatkan kepadaNYA karena tidak sama dengan takut kepada orang gila, binatang buas atau benda tajam yang akan semakin menjauhinya.

Jadi, ketika seseorang sudah mencapai tingkat keilmuan yang cukup dihormati sebagai Sarjana, Master, Doktor bahkan Profesor maka menjadi semakin lebih penting untuk self esteem (menilai diri sendiri) apakah dia semakin dekat dengan Allah SWT atau tidak. Jika jawabannya tidak maka perlu waspada karena bisa tersesat (keblinger). Na’ûdzu billâhi min dzâlik.

(WARDAN/Mr. MIM & Mbafer)

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Serunya Diskusi Bidayatul Mujtahid Bersama Syaikh Dr. Shawki

Untuk meningkatkan kualitas mahasiswanya, Sekolah TInggi Agama Islam (STAI) Darunnajah mengadakan diskusi mingguan “Kajian Bidayatul Mujtahid”. Kegiatan yang berlangsung setiap hari Selasa ini menghadirkan pembicara