Setelah kurang lebih 2 pekan para santri disibukkan dengan belajar menghadapi Ujian Mid Semester Genap, kini pengurus OSDC (Organisasi Santri Darunnajah Cipining) Pi mengadakan acara nonton bareng guna memberikan sedikit ruang hiburan yang penuh inspiratif dan pastinya dapat kembali memotivasi para santri setelah lelah berkutat dengan ujiani. Acara nonton bareng ini ditanggung jawabi langsung oleh Pengurus Bagian Pengajaran OSDC Masa Bhakti 2013-2014.
Jum’at(27/03/14) Seluruh santriwati yakni kelas VII, VIII, X dan XI dikumpulkan di Lap. Basket Kampus 1 guna menghadiri dan berpartisipasi dalam acara Nonton Bersama tepatnya selepas Shalat Isya Berjama’ah di Masjid. Adapun kegiatan kelas IX MTs dan XII MA saat itu adalah Belajar bersama mengingat mereka sedang dihadapkan dengan UAMBN (Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional) dan juga Ujian Lisan Niha’i.
Film yang diputar adalah sebuah tayangan inspiratif dan berbau edukatif karna untuk menentukan film yang akan diputar perlu persetujuan langsung dari Ka. Biro Pengasuhan dan Pembimbing Bagian Pengajaran yang mana Film tersebut akan difilter dan dilihat kembali dari berbagai sisi.
Setelah berhasil menyaring banyaknya film menarik dan edukatiif akhirnya Film yang ditayangkan berjudul “Semesta Mendukung”. Sebuah film yang terinspirasi dari kisah nyata semangat tim olimpiade sains Indonesia sebagai juara umum olimpiade fisika di Singapura.
Sinopsis Film Semesta Mendukung:
Semesta Mendukung merupakan film ketujuh yang diproduksi oleh Mizan Productions setelah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Garuda di Dadaku, Emak Ingin Naik Haji, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, dan Rindu Purnama. Semua film Mizan Productions disambut baik oleh penonton dan mendapat penghargaan di beberapa ajang festival film. Film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta mendapat tujuh Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 2010 dan 2 Piala di Indonesian Movie Award 2011 yang baru saja digelar beberapa waktu lalu.
Dibesut oleh John De Rantau, film ini menceritakan tentang Arif, seorang anak yang sangat mencintai fisika dan berasal dari dusun di Pamekasan, Madura. Jauh dari gemerlap kota dan fasilitas yang memadai sekaligus kesulitan ekonomi yang dialaminya, tidak memadamkan kecintaannya pada dunia sains khususnya fisika. Beruntung ia mempunyai guru seperti Ibu Tari, seorang perempuan Minang yang karena dedikasinya terhadap dunia pendidikan rela “terdampar” di Madura untuk menemukan intan-intan pecinta ilmu sains. Di luar kecerdasannya, Arif tetaplah seorang anak yang merindukan sang ibu yang lama pergi. Sang ibu yang akhirnya harus dicarinya hingga ke Singapura.
Di balik pesan kuatnya sebagai penyemangat bagi anak kurang mampu untuk giat menempuh pendidikan demi cita-cita, seMESTA menduKUNG juga hadir laiknya sebagai film dengan kritik sosial. Padang garam di Madura menjadi titik tolak dari kritik tersebut. Sebagian besar penduduk Indonesia tahu betapa terkenalnya Madura sebagai pemasok garam terbesar di negeri ini. Namun, kini banyak yang berubah.
Situasi yang tak menentu membuat sebagian besar di antara penggarap ladang garam memutuskan banting setir sebagai petani. “Yang membuat miris dan sekaligus menjadi cara kita untuk memotret kondisi sosial terkini di Madura adalah bahwa tak mudah mengubah mata pencaharian para penggarap ladang garam di sana. Ini kami perlihatkan kepada penonton dalam sebuah cerita yang mudah-mudahan bisa menggugah simpati sekaligus memberi inspirasi, “ tutur Gangsar Sukrisno selaku co-producer.
Bergerak dari padang garam ke rimba beton di belantara Jakarta dan Singapura. Betapa kontrasnya kehidupan dan betapa kuasa semesta bisa mengubah semuanya dalam waktu yang tak lama. Maka Arif yang terbiasa dengan bau harum garam harus berhadapan dengan rimba beton. Semuanya dipotret dengan baik oleh H. German G. Mintapradja yang berada di belakang kamera selaku director of photography.
Kehidupan modern berpadu dengan nuansa tradisional juga ditampilkan dalam film ini. Pertunjukan karapan sapi yang riuh dengan detail demi detail yang menarik juga dieksplorasi dan akan menjadi pemandangan menakjubkan sekaligus tambahan informasi bagi penonton yang sebelumnya mungkin masih asing. Nuansa drama dan komedi juga berbaur dengan baik. Pencarian Arif akan sang ibu berpotensi memancing haru berpadu dengan seekor sapi bernama Justin Bibir yang akan membuat penonton terbahak.
Terlihat sekali para santri sangat antusias menonton film tersebut pastinya ditemani dengan beberapa bazar makanan yang membuat agenda Nonton Bareng lebih seru dan terasa nikmat.
“Acara ini dilaksanakan guna memberikan hiburan kepada santriwati dan juga mendorong kembali semangat para santri dalam hal belajar maupun mengikuti kegiatan yang ada di pesantren. Karna agenda ini merupakan salah satu Program Kerja Bagian Pengajaran dalam beberapa waktu tertentu pastinya kami seluruh ustadzah sangat mensupport dan mendukung berlangsungnya Nonton Bareng ini. Semoga agenda ini bukan hanya memberikan tayangan hiburan nan inspiratif melainkan dapat bermanfaat dan memberikan pengalaman yang berharga bagi seluruh santriwati” Ujar Usth. Shofiatul Mamdhuhah selaku Pembimbing Bagian Pengajaran OSDC Pi 2014.
(WARDAN/Annisa)