“NGABUBURIT” RUAR BIASA DENGAN OTAK KANAN

Kehadiran Kapten Sar –nama akrab salah seorang wali santri yang berprofesi sebagai motivator dan trainer ‘Brain Power’– ke pesantren Darunnajah Cipining Sabtu sore (5/9/09) disambut baik oleh pimpinan redaktur Warta Darunnajah (Wardan). Sekalian sharing tentang aktivitas dan rutinitas yang dilakukan keduanya, pada kesempatan pertemuan tersebut keduanya tercetus untuk ngabuburit mengelilingi pesantren sembari mencari inspirasi dan memotret kegiatan santri menjelang berbuka puasa.

Santriwati Sedang Menelepon Dengan Alam Bawah Sadar
Santriwati Sedang Menelepon Dengan Alam Bawah Sadar

Pertama yang dikunjungi adalah asrama santri putri. Di kawasan bawah—begitulah istilah popular warga pesantren menyebut lokasi santri putri yang memang areanya berada di dataran rendah—keduanya mendapati aneka kegiatan sedang berlangsung disana. Dengan berkelompok di depan kamar masing-masing, ada yang sedang ta’lim dengan membaca buku atau kitab keislaman, ada pula yang tengah asyik bertadarrus Al-Qur’an.

Melihat pemandangan itu, Kapten Sar menangkap kesempatan untuk sedikit memberikan motivasi kepada santriwati. Maka, keduanya menuju asrama santri baru yang terletak di deretan kamar 26 hingga 30 tersebut.

Dengan sebuah pengantar dari Ustadz Muhammad Musta’in yang memperkenalkan sekilas identitas dan tujuan kehadiran Kapten, para santri antusias mengikuti acara ‘ngbuburit dadakan’ itu. Mendapat kesempatan untuk mengisi waktu, Kapten mulai dengan menyamakan persepsi tentang potensi otak kanan bagi pencapaian prestasi seseorang.

Dalam tutorialnya, beliau mengibaratkan keberhasilan para tokoh dunia yang berhasil meraih obsesinya dan mampu membuat perubahan dunia seperti Thomas Alfa Edison, Albert Einstein, dan masih banyak tokoh lain yang dalam keberhasilannya karena memanfaatkan potensi otak kanan. “Mereka bukanlah orang-orang yang cerdas, karena sekolah saja tidak tamat, namun mereka sanggup mengoptimalkan otak kanan yang kekuatannya sebanding dengan 1 milyar komputer lebih” tandasnya.

Selanjutnya, beliau mengenalkan 4 gelombang dalam pikiran manusia yang meliputi Beta, Alpa, Teta, dan Delta. Menurut beliau, gelombang Teta memiliki potensi untuk melejitkan daya imajinatif yang menjadi dasar bagi obsesi seseorang.

Kapten Sar Berdemo Di Depan Santri Putra
Kapten Sar Berdemo Di Depan Santri Putra

Lebih jauh Kapten menjelaskan bahwa kekuatan imajinatif ini dapat digunakan untuk meraih prestasi belajar, mengingat yang dihadapi saat itu adalah para santri yang tengah belajar. Maka santri, sesuai harapan beliau agar dapat memvisualisasikan keinginannya dalam tulisan baik di buku maupun di media lain yang dapat dilihat. Beliau mencontohkan, agar para santri menuliskan nilai A atau 100 untuk materi yang sulit seperti Matematika.

Kemudian setiap kali memiliki waktu untuk berkontemplasi dan introspeksi seperti di tengah khusu’nya bertahajud atau saat terjaga dari tidur, beliau menyarankan agar sugesti positif tersebut selalu didengungkan dan di-save dalam box remembering (rekaman-red) masing-masing. Maka hal itu akan menjadi  self motivation yang menggerakkan alam bawah sadar untuk mencapai target yang telah divisualisaikan tersebut.

Menutup sesi ‘ngabuburit’ ruar biasa dengan otak kanan yang tengah di kampanyekan oleh Kapten Sar di seluruh nusantara beberapa saat terakhir ini, beliau melengkapi presentasi singkat itu dengan demo hipnotis yang digerakkan oleh gelombang Teta. Dari ketiga santriwati yang menjadi percontohan, mereka digerakkan alam bawah sadarnya oleh kata-kata Kapten sehingga mampu mengalahkan alam kesadarannya. Ini menunjukkan, ketika seseorang telah menyimpan energi dan sugesti positif dengan berpikir positif, maka alam bawahnya akan mengantarkannya kepada obsesinya tersebut meski terkadang dirasa tidak mugkin oleh pikiran sadarnya.

Antusiasme santri semakin meningkat enyaksikan pertunjukan ini. Terlihat dari seiring berjalannya acara, para santriwati kian memadati tempat berlangsungnya kegiatan. Bahkan para pengurus meminta agar pelatihan serupa dapat diadakan kembali dengan durasi dan volume yang lebih kondusif.

Usai acara, Kapten dan Ustadz Musta’in menuju asrama putra. Melihat ada peluang kedua kali, Kapten kembali presentasi ‘kekuatan otak kanan’ di depan santri putra. Demonstrasi hipnotis dengan sugesti positif juga diperagakan sehingga membuat kekaguman para santri muncul. Namun, Karena waktu jua yang turut membatasi, akhirnya adzan Maghrib memberikan sinyal bahwa waktu berbuka puasa telah tiba. (Billah)