Ada satu hal yang sejak dulu diajarkan di pesantren tanpa perlu banyak dijelaskan: guru yang mengajar sambil menghitung-hitung imbalan akan kehilangan sesuatu yang tak terlihat. Gajinya mungkin tetap cair dan kelasnya tetap berjalan, tetapi berkahnya perlahan menguap. Santri bisa merasakannya. Ilmu yang disampaikan oleh hati yang sibuk menagih jarang sampai ke hati yang mendengar.
Karena itu para kyai kita dulu begitu menjaga keikhlasan. Mereka meneladani para nabi, yang semuanya menyampaikan kalimat yang sama kepada kaumnya:
وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Dan aku tidak meminta upah kepadamu atas seruan ini; upahku hanyalah dari Tuhan semesta alam.”
(QS. Asy-Syu’arā’ [26]: 109)
Kalimat ini diucapkan Nabi Nuh, lalu diulang oleh Hud, Salih, Lut, dan Syu’aib dalam surah yang sama. Seolah Al-Qur’an ingin menegaskan bahwa inilah watak semua pembawa kebenaran. Di pondok, kita mengenalnya sebagai jiwa pertama dari Panca Jiwa: keikhlasan, sepi ing pamrih, rame ing gawe.
Tapi mari jujur. Ikhlas bukan berarti tidak butuh makan. Guru boleh menerima nafkah, bahkan layak menerimanya. Yang menurunkan derajat adalah ketika materi berubah menjadi syarat, ketika pengabdian berhenti begitu imbalan terlambat. Di situ yang hilang bukan uang, melainkan makna.
Nah, di sinilah cerita ini punya sisi lain yang jarang diucapkan.
Kalau guru yang menuntut materi dinilai rendah, pimpinan yang membiarkan guru-gurunya kekurangan sesungguhnya tidak lebih tinggi. Ada godaan halus bagi siapa pun yang memimpin: menikmati keikhlasan orang lain sambil lupa menunaikan amanahnya sendiri. Kata “ikhlas” lalu dipakai sebagai selimut untuk menutupi kelalaian. Guru diminta sabar, sementara dapurnya tidak pernah ditanya.
Rasulullah ﷺ memberi peringatan yang sangat keras tentang ini:
مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ، احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ
“Siapa yang diserahi Allah sebagian urusan kaum muslimin, lalu ia menutup diri dari kebutuhan, kesulitan, dan kefakiran mereka, maka Allah akan menutup diri dari kebutuhan, kesulitan, dan kefakirannya.”
(HR. Abu Dawud; diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dengan makna serupa)
Hadits ini cukup membuat siapa pun yang memegang amanah tidak bisa tidur nyenyak. Kita semua butuh Allah. Maka jangan sampai kita menjadi orang yang menutup pintu dari kebutuhan mereka yang telah mengabdikan hidupnya bersama kita.
Jadi sebenarnya ini bukan dua persoalan, melainkan satu akhlak yang dilihat dari dua arah. Guru menjaga hatinya agar tidak menagih. Pimpinan menjaga amanahnya agar tidak perlu ditagih. Pesantren berdiri kokoh justru di pertemuan dua kesadaran itu.
Masalah mulai muncul ketika posisinya tertukar: guru sibuk menghitung hak, pimpinan sibuk menghitung keikhlasan orang lain. Kalau itu terjadi, yang runtuh bukan hanya kesejahteraan, tetapi juga kepercayaan. Dan pesantren tanpa kepercayaan hanyalah bangunan yang kebetulan berisi orang-orang.
Barangkali ini yang perlu kita bawa pulang, siapa pun kita di pesantren ini, pengajar, pengasuh, pengurus, atau pimpinan:
Ikhlas adalah pekerjaan hati kita sendiri. Mencukupi adalah pekerjaan tangan kita untuk orang lain. Jangan menuntut ikhlas dari orang lain, dan jangan menunda hak yang ada di tangan kita.
Semoga Allah menjaga keikhlasan para guru kita, dan menjaga amanah para pemimpinnya
Ditulis Oleh: KH. Hadiyanto Arief, S.H., M.Bs.
