Muraaja'ah 'Aammah: Ujian Dalam Ujian Muraaja'ah 'Aammah: Ujian Dalam Ujian

Muraaja’ah ‘Aammah: Ujian Dalam Ujian

Bejak bestari pernah mengatakan : “Setiap permulaan itu sulit”, every beginning is difficult, kullu bidaayatin sha’batun. Maka, jangan menunggu inspirasi untuk memulai, karena dengan dimulai maka (justru) akan timbul inspirasi.

Suasana Santriwati Ikuti Public Discussion

Nampaknya, falsafah di atas cocok untuk menggambarkan salah-satu program besar Revitalisasi TMI, yakni Muraaja’ah ‘Aammah (Ulangan Umum) sebagai reorientasi dan reposisi Ujian Tengah Semester (UTS).

Biasanya satu pekan jelang pelaksanaan ujian maka segala aktivitas ekstrakurikuler akan distop, guna mengondisikan para santri lebih fokus dan serius menghadapi ujian. Telah masyhur dan terngiang di telinga slogan ‘Utrukuu maa siwaa addars!”.

Kini, dengan pemahaman baru, pelaksanaan Muraaja’ah ‘Aammah ini harus berlangsung dengan berbagai aktivitas yang mesti (juga) run well. Diharapkan dengan kebijakan ini, para santri terutama santri baru, yang baru saja masuk bergabung di pesantren dan sedang menikmati suasana ‘al ma’hadu laa yanaamu abadan’ terus on fire dalam menjalani aktivitas di asrama.

Ya, para santri di awal tahun sudah mulai disibukkan dengan berbagai rangkaian kegiatan, antara lain: Apel Tahunan, Pekan Olahraga Seni & Pramuka (PORSEKA), Perkemahan Khutbatul ‘Arsy (Perkhutshy), Kuliah Kepesantrenan, kemudian dilanjutkan dengan aneka ekstrakurikuler harian, pekanan dan bulanan seperti latihan muhadhoroh (pidato), pramuka, bela diri, seni musik, aneka olahraga, jurnalistik, literasi dan sebagainya, maka jika harus ditutup kegiatan-kegiatan tersebut, sangat dimungkinkan mereka akan kaget (kagok) dan berpotensi tidak betah di pesantren, karena sedang mulai nyaman ‘at home’ di pesantren dan seru-serunya berkegiatan di kawah candradimuka langsung terhentikan kegiatannya.

Namun jangan khawatir, untuk tetap memberikan porsi persiapan ujian, maka program belajar malam terbimbing (Ta’allum Muwajjah) kembali digalakkan dengan lebih rapi dan kondusif. Para wali kelas dan atau guru pengajar senantiasa stand by membersamai belajar santri.

Adapun para santri harus berbagi waktu, fokus dan fikiran bahkan tenaga antara ujian dan kegiatan, maka inilah yang dimaksud dengan judul tulisan: Ujian Dalam Ujian. Mereka dituntut untuk melatih diri dengan manajemen waktu, skala prioritas, kolaborasi, konsolidasi, komunikasi, dan yang tidak kalah penting adalah membiasakan ‘dharbul ‘ashaafiir bilhajar waahid’ melempar banyak burung dengan satu batu, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Pada tahap ini, santri ‘dipaksa untuk terbiasa’ mengoperasikan multiple intelligences agar mereka terdidik menjadi generasi luar biasa.

Bahkan, secara teknis di kelas, di luar jadwal Muraaja’ah ‘Aammah maka Proses Belajar Mengajar (PBM) juga tetap berjalan sebagaimana mestinya. Jika semua kegiatan distop kemudian santri fokus ‘hanya’ untuk ujian, tentu sudah biasa. Namun, dengan berbagai kesibukan santri bisa tetap sukses ujian, tentu luar biasa. (Wardan/Mr. MiM).