Munaqasyah Pertama dan Seni Berdebat dengan Sopan yang Diajarkan Sejak Remaja

Di dunia luar, berdebat sering diasosiasikan dengan pertengkaran — suara tinggi, emosi yang tidak terkontrol, dan keinginan untuk menang dengan cara apa pun. Di pesantren, debat punya wajah yang sama sekali berbeda. Namanya munaqasyah — forum debat akademis yang mengajarkan santri cara mempertahankan argumen tanpa kehilangan adab.

Munaqasyah pertama selalu menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Santri yang ditunjuk sebagai peserta biasanya baru mengetahui topik debat beberapa hari sebelumnya. Waktu persiapan yang singkat memaksa mereka membaca banyak referensi dalam waktu terbatas — dari kitab, dari buku pelajaran, dari catatan ceramah ustadz. Proses persiapan itu sendiri sudah menjadi pelajaran tentang bagaimana merangkum informasi dan memilih argumen yang paling kuat.

Hari pelaksanaan, suasana kelas atau aula berubah menjadi arena intelektual.

Dua tim duduk berhadapan. Moderator — biasanya ustadz atau santri kelas akhir — membuka sesi dengan membacakan topik dan aturan. Penonton duduk di bangku penonton, siap mendengarkan dan kadang ikut berdiskusi di akhir sesi. Ketegangan di ruangan terasa nyata, tapi bukan ketegangan yang menakutkan. Lebih mendekati antisipasi — semua orang ingin tahu argumen apa yang akan keluar.

Pembicara pertama berdiri. Tangannya sedikit gemetar tapi suaranya berusaha tenang.

Argumen pertama disampaikan. Biasanya masih terdengar kaku — seperti membaca teks yang sudah dihafal. Tapi setelah lawan memberikan sanggahan, sesuatu berubah. Santri yang tadi hanya membaca sekarang harus berpikir cepat. Jawaban yang sudah disiapkan tidak selalu cocok dengan sanggahan yang datang. Improvisasi dimulai. Di momen itulah kemampuan berpikir kritis benar-benar diuji.

Aturan paling penting dalam munaqasyah bukan tentang siapa yang paling pintar bicara.

Tapi tentang adab. Santri yang menyerang pribadi lawan langsung ditegur moderator. Nada suara yang terlalu tinggi diminta untuk diturunkan. Argumen yang tidak berdasarkan referensi yang jelas dianggap tidak valid. Semua aturan itu mengajarkan satu hal — bahwa kekuatan argumen tidak pernah terletak pada volume suara, tapi pada kedalaman ilmu di baliknya.

Santri yang baru pertama kali mengikuti munaqasyah sering merasa gagal setelahnya. Argumennya terasa tidak cukup kuat. Sanggahannya telat. Ada poin yang seharusnya bisa dijawab tapi tidak terpikirkan di saat yang tepat. Perasaan itu wajar dan justru menjadi bahan bakar untuk persiapan yang lebih baik di munaqasyah berikutnya.

Kenapa tradisi ini membentuk kemampuan yang bertahan seumur hidup?

Munaqasyah mengajarkan santri untuk memisahkan diri dari argumennya. Ketika sanggahan datang, yang diserang bukan pribadi — tapi argumen. Santri belajar bahwa pendapatnya bisa salah tanpa dirinya menjadi orang yang salah. Pemisahan itu sangat penting dan sangat jarang diajarkan di tempat lain. Orang dewasa yang tidak pernah belajar memisahkan pendapat dari harga diri sering kesulitan menerima kritik. Santri yang terbiasa dengan munaqasyah sudah melatih kemampuan itu sejak usia remaja.

Alumni pesantren yang berkarir di bidang hukum, jurnalistik, atau akademik sering mengakui bahwa fondasi kemampuan argumentasi mereka dibangun di ruang kelas pesantren, jauh sebelum mereka masuk fakultas hukum atau program debat di kampus.

Di Darunnajah 2 Cipining, munaqasyah menjadi bagian dari tradisi akademik yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Santri dilatih berdebat dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, memperkuat kemampuan bahasa sekaligus ketajaman berpikir secara bersamaan.

Seni berdebat yang sebenarnya bukan tentang memenangkan argumen. Tapi tentang menghormati lawan bicara sambil tetap teguh pada apa yang kita yakini berdasarkan ilmu.

Kalau ingin tahu lebih banyak tentang program pendidikan di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.