DNKindergarten, 26/09

Dalam bersikap dan bertingkah laku setiap anak memang banyak meniru pada lingkungannya, mulai dari orangtua, nenek-kakek, om-tante, pengasuh, tetangga, sekolah, guru, teman, bahkan dari tv dan vcd yang ia tonton.

Anak mudah sekali meniru apa yang dia lihat dan menjadikan lingkungan sebagai model kehidupan. Mulai dari ucapan, misalnya kata-kata yang mudah untuk diikuti. Atau, tingkah laku yang dilihat dari tontonan film.

Orangtua pada umumnya menjadi model utama bagi anak. Karena ayah dan ibu adalah dua orang yang berperan dalam pola asuh anak sejak dia hadir ke dunia. 

Bila orangtua terbiasa menggunakan kata-kata kasar atau caci maki saat kesal dengan orang lain, anak juga akn mempelajarinya dan berpikir, “oh, kalau marah atau kesal sama orang, begitu ya caranya.” Sehingga, ketika anak kesal pada temannya, maka dia akan begitu juga. Sebaliknya jika orang tua mengajarkan untuk saling sayang, saling menghormati, tamu datang dihormati, hormat pada orangtua dan kakak, sayang pada adik, bahkan binatang pun disayang. Anak pun akan menirunya. 

Para ahli jiwa berpendapat bahwa pribadi seseorang terbentuk lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungannya, yaitu sekitar 75 persen dan sisanya 25 persen adalah pribadi dasar bawaan dari lahir. Karena itu, tidak heran seseorang akan berkepribadian sesuai dengan apa yang didapat dari lingkungannya terutama orangtua yang mereka temui sejak awal kehidupannya. Orangtua dan keluarga dekat mendominasi pembentukan karakter anak-anak.

Dalam artikel yang berjudul Komunikasi sebagai Urat Nadi Kehidupan, yang menjabarkan kepribadian anak dibentuk oleh lingkungannya dan cara berkomunikasi antara orangtua serta lingkungannya bagi anak-anak terdapat hal-hal berikut. Dorothy Low Nolte dalam bukunya Children Learn What They Live With (Dari Lingkungan Hidupnya Anak-anak belajar).

– Jika anak biasa hidup dicela/dicerca, kelak dia terbiasa menyalahkan orang lain.

– Jika anak biasa hidup dengan diolok-olok, kelak dia terbiasa menjadi pemalu.

– Jika anak biasa hidup dikelilingi perasan iri hati, kelak dia akan terbiasa selalu merasa bersalah.

– Jika anak biasa hidup dicekam ketakutan, kelak dia terbiasa hidup dengan merasa resah dan cemas.

– Jika anak biasa hidup dengan kejujuran, kelak dia terbiasa memilih kebenaran.

– Jika anak terbiasa mengenyam rasa aman damai, kelak dia terbiasa percaya diri.

– Jika anak terbiasa diperlakukan dengan adil, kelak dia terbiasa dengan keadilan.

Dalam peribahasa Indonesia, kita punya banyak yang menggambarkan bagaimana anak-anak meniru, menjiplak (mengopi), semua yang dilakukan orangtuanya, yaitu sebagai berikut.

“Buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya” atau “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” dan masih banyak lagi.

Apa yang ditanamkan di hati anak-anak Anda akan menjadi karakter mereka kelak (Richard De Haan. owner-I-kan-akar-renunganharian @xc.org)

(sita, [email protected])