Mengulas Sejarah Kepresidenan dengan Berkunjung ke Istana Negara
Menu

Mengulas Sejarah Kepresidenan dengan Berkunjung ke Istana Negara

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Jakarta,  22/01.

Dalam rangka puncak pembelajaran kelas di semester I murid-murid TK Darunnajah sudah berkumpul di lapangan Darunnajah untuk study tour  ke Istana Negara pada Sabtu pagi. Kegiatan ini bertujuan untuk pengenalan sejarah tentang kepresidenan Indonesia kepada anak-anak. Dengan antusias, mereka memulai perjalanan pada pukul 08.00 WIB.

Setelah sampai disana, ternyata Istana Negara sudah sangat ramai karena banyak dikunjungi dari berbagai sekolah lain. Sehingga kami harus mengantri untuk masuk ke dalam Istana Negara. Saat giliran TK  kami, kami mulai berjalan dengan ditemani tour guide. Kami berkeliling halaman dilanjutkan dengan memasuki istana. Di dalamnya terdapat benda-benda bersejarah dan benda pemberian sebagai hadiah dari pejabat-pejabat tinggi yang berkunjung ke istana.  Serta ruangan khusus yang tertata dengan rapi dan bersih. Ruangan-ruangan tersebut digunakan sesuai dengan keperluan khusus. Ada ruangan untuk presiden menerima tamu-tamu negara, ruangan untuk pertemuan para istri pejabat tinggi, dan ruangan utama yang digunakan untuk acara kenegaraan.

Dan berikut ini adalah uraian singkat tentang sejarah istana kepresidenan;

blank

Istana Negara dibangun tahun 1796 untuk kediaman pribadi seorang warga negara Belanda J.A van Braam. Pada tahun 1816 bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda dan digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta kediaman para Gubernur Jendral Belanda. Karenanya pada masa itu istana ini disebut juga sebagai Hotel Gubernur Jendral.

Pada mulanya bangunan yang berarsitektur gaya Yunani kuno itu bertingkat dua, namun pada tahun 1848 bagian atasnya dibongkar, dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang, tanpa perubahan yang berarti. Luas bangunan ini lebih kurang 3.375 meter persegi.

Sesuai dengan fungsi istana ini, pajangan serta hiasannya cenderung memberi suasana sangat resmi. Bahkan kharismatik. Ada dua buah cermin besar peninggalan pemerintah Belanda, disamping hiasan dinding karya pelukis – pelukis besar, seperti Basoeki Abdoellah.

Banyak peristiwa penting yang terjadi di Istana Negara. Diantaranya ialah ketika Jendral de Kock menguraikan rencananya kepada Gubernur Jendral Baron van der Capellen untuk menindas pemberontakan Pangeran Diponegoro dan merumuskan strateginya dalam menghadapi Tuanku Imam Bonjol. Juga saat Gubernur Jendral Johannes van de Bosch menetapkan sistem tanam paksa atau cultuur stelsel. Setelah kemerdekaan, tanggal 25 Maret 1947, di gedung ini terjadi penandatanganan naskah persetujuan Linggarjati. Pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Dr. Van Mook.

Istana Negara berfungsi sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, diantaranya menjadi tempat penyelenggaraan acara – acara yang bersifat kenegaraan, seperti pelantikan pejabat – pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah, dan rapat kerja nasional, pembukaan kongres bersifat nasional dan internasioal, dan tempat jamuan kenegaraan.

Sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih kurang 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Negara sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan Negara. (Istana Kepresidenan RI, Sekretariat Presiden RI,2004)

(sita, ababiel28@yahoo.com)

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait