Mengobati Penyakit Kejiwaan dengan Puasa: Tempramen Tinggi dan Bengis
Menu

Mengobati Penyakit Kejiwaan dengan Puasa: Tempramen Tinggi dan Bengis

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Orang yang berpuasa lazimnya terbiasa menahan diri dan mengontrol emosinya. Kontrol itu berjalan pada saat emosi meluap sehingga ia tetap tenang dan dalam kesadaran penuh. Sebesar apa pun gangguan yang mencoba memancing emosinya, ia akan tetap berusaha konsekuen dengan control dirinya, demi mendapatkan ganjaran dari Allah swt dan takut bila amal ibadah yang diharapkan menjadi wadah mendekatkan diri kepada Allah menjadi sia-sia.

Orang berpuasa sadar benar bahwa kemarahan akan membuatnya kehilangan kesadaran dan lepas control terhadap emosinya. Selanjutnya akan berpotensi besar untuk melakukan kesalahan dan kesilapan yang berakibat pada rusaknya amal ibadah. Oleh Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan kepada kita akan pentingnya menahan dan mengontrol diri pada saat emosi kita terpancing untuk meluap. Rasulullah saw bersabda, “Jangan Marah.” Beliau saw juga bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dengan bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai dirinya pada saat marah.” (HR Al-Bukhari)

Hal itu dipertegas lagi melalui sabda beliau saw bagi mereka yang sedang berpuasa:

“Jika salah seorang diantara kalian sedang berpuasa, hendaklah ia tidak (berkata atau berbuat) yang keji dan berteriak-teriak. Bahkan jika ada orang yang mencaci dan ingin membunuhnya, hendaklah ia mengatakan, ‘saya sedang berpuasa’.” (HR Al-Bukhari)

Ucapan “saya sedang berpuasa” adalah peringatan kepada diri sendiri bahwa saatnya untuk mengontrol diri dan tidak keluar dari batasan akhlak yang seharusnya dipraktekkan bagi yang berpuasa. Pada waktu yang sama, sebagai peringatan agar merespon sikap buruk dengan cara yang baik.

Hal itu juga peringatan bagi orang lain khususnya yang memancing amarah dan mengeluarkannya dari kondisi normal. Dengan demikian, diharapkan peringatan itu mampu membuatnya takut kepada Allah, berhenti menyakiti atau memancing kemarahan dan merasa malu karena telah mengganggu orang yang sedang berpuasa. Padahal, jika dia tahu bahwa orang yang sedang berpuasa bisa saja memberi pelajaran padanya dua kali lipat, namun ia tidak melakukan hal itu dikarenakan puasanya.

depan Pesantren (7)Dr. Muhammad Mahmud Abdul Kadie menulis dalam makalahnya tentang “Puasa-Chemical” atau Puasa ditinjau dari sisi kimia dan “Keajaiban Pituitary”.

Puasa yang benar adalah ajakan kepada kemuliaan akhlak dan menghindarkan diri dari berbagai kesalahan. Lebih dari itu puasa adalah cara terbaik untuk pelenturan jiwa dan mental. Seorang mukmin yang berpuasa selalu memiliki akhlak pemaaf, dan termasuk orang-orang yang menahan amarahnya, memaafkan kesalahan orang dan mampu mengontrol emosinya.

Marah, benci, dan dengki kepada orang lain dapat merusak seseorang. Penjelasannya sebagai berikut;

Ketika Marah, benci atau dengki terhadap orang lain merasuki anda, maka setan berhasil menguasai anggota tubuh pribadi anda. Sehingga anda pun berubah layaknya setan dalam tindaktanduk dan emosi anda.

Pesan Marah, benci serta dengki tadi berpindah ke sisi-sisi otak bagian atas dan diterima pusat-pusat kimia di otak, lalu berinteraksi dengannya. Pesan tadi kemudian dibawa lagi dengan proses kimia yang amat ajaib ke organ yang disebut Hypotalus. Dari sana, pesan dibawa ke kelenjar pituitary yang bertugas menyemprotkan hormon-hormon utama kedalam darah (yang membawa semua perintah ke kelenjar-kelenjar hormone dalam tubuh dan bertugas menstimulasi pengeluaran hormon).

Pada saat kemarahan memuncak, kelenjar adrenal mengeluarkan hormone-hormonnya berdasarkan perintah yang diterima dari kelenjar pituitary. Kelenjar ini pun mengeluarkan kelenjar adrenalin, kelenjar cortisone, dan hormon-hormon lain yang dapat merusak proses kimia tubuh dan memporak-porandakan jaringan-jaringan tubuh. Tubuh menjadi mudah terserang penyakit seperti Angina Pectoris (kejang jantung), Arteriosclerosis (penyempitan pembuluh nadi/pengerasan nadi), diabetes, peningkatan kolesterol, dan tekanan darah tinggi. [WARDAN/@abuadara]

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Semarak Idul Adha, IKPDN Yordania Qurban Secara Kolektif

Syariat islam membolehkan berkurban secara kolektif, atau dengan cara pengumpulan dana dari beberapa orang. Diriwayatkan hadis dari sahabat Jabir RA, bahwasanya, “Nabi memerintahkan kepada kami