Mengenal Lebih Dalam Perlombaan M2IQ
Menu

Mengenal Lebih Dalam Perlombaan M2IQ

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Apa sih M2IQ?

M2IQ adalah singkatan dari Perlombaan Menulis Makalah Ilmiyah Al-Qur’an yang merupakan salah satu cabang perlombaan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an). Perlombaan ini sangatlah berbeda dengan cabang atau mata lomba lainnya karna waktu yang lumayan cukup lama serta tata cara mengikuti perlombaan sangatlah variatif. Perlombaan ini sangatlah menantang, selain para peserta harus menuangkan ide-idenya dalam tulisan serta mencari sebuah kalimat pendukung dari Al-Qur’an. Cara untuk mengetiknyapun tidak menggunakan mesin otomatis atau komputer seperti zaman yang telah modern ini. Pasalnya setiap peserta harus menuliskan karya ilmiahnya melalui mesin ketik kuno yang cukup menyita banyak waktu dan butuh ketelitian yang tinggi.

Seperti biasa, perlombaan ini akan memakan waktu kurang lebih 2 hari lamanya. Yakni hari pertama adalah penulisan karya yang kurang lebih memakan waktu 8 jam lamanya, dan keesokan harinya disusul dengan presentasi makalah ilmiyah tersebut di depan seluruh peserta dan juga dewan juri. Tak hanya itu, setelah menyampaikan opini dan presentasi, para peserta akan diberikan beberapa pertanyaan oleh dewan hakim sebagai bentuk ujian agar bisa melihat para peserta yang jelas dan tegas dalam menjawab atau sebaliknya.

Selain itu, para peserta hanya diperbolehkan membawa buku referensi maupun Al-Qur’an untuk mendukung hasil karyanya tersebut. Para peserta juga harus mengumpulkan handphone nya kepada dewan hakim serta menulis karyanya secara murni tanpa bantuan dari orang lain ataupun sebagainya.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para peserta daalm mengikuti perlombaan ini. Contohnya seperti kerapihan tulisan, korelasi antara tema serta judul yang diusung, penulisan referensi, kekayaan akan referensi buku atau kutipan Al-Qur’an, standar minimal halaman serta kesimpulan. Semua ini digabungkan menjadi satu kesatuan yang memiliki korelasi serta membentuk sebuah karya ilmiah yang baru dan indah untuk dibaca.

Berikut ini merupakan sebuah paparan serta pengalaman dari salah seorang Ustadz yang bernama Irvan asal Bogor seputar perlombaan M2IQ. Ust. Irvan juga sempat memenangkan beberapa kejuaraan Tingkat Kabupaten. adapun tulisan seputar pengalaman mengikuti perlombaan tersebut adalah:

MEMBIAKKAN IDE, MENJINAKKAN KATA-KATA

Berbagi Pengalaman Menulis di Cabang M2IQ MTQ Kabupaten Bogor

Dituangkan Oleh:

Irvan Zaryab Awaluddin

(Juara I M2KQ Kab.Bogor tahun 2009, 2010,  2011)

 

Prakata

M2IQ adalah akronim dari Menulis Makalah Ilmiah Al-Qur’an. Dahulu, nama lahirnya bukan M2IQ, tapi M2KQ (Menulis Makalah Kandungan Al-Qur’an). Perubahan  nama  M2KQ ke M2IQ sendiri baru dimulai saat MTQ Provinsi Jawa Barat tahun 2011. Cabang menulis ini adalah cabang baru di kancah per-MTQ-an, sang inventor cabang ini adalah Prof. Dr. Asep Saepul Muhtadi, guru besar UIN Bandung. Menurutnya, menulis itu keuntungannya jangka panjang, hasil tulisan bisa diwariskan ke anak cucu, berbeda dengan cabang lain yang hanya bisa dinikmati di saat MTQ saja, karya M2IQ justru bisa dinikmati sampai kapanpun. Karena manfaatnya yang besar ini, LPTQ pusat tak kuasa menolak untuk membuat cabang menulis ini di setiap gelaran MTQ.

Saat ini, menurut saya, cabang M2IQ adalah cabang yang paling bergengsi di antara cabang-cabang lomba yang lain. Pertama, cabang M2IQ itu hanya bisa diikuti oleh mereka yang memiliki kemampuan menulis (perlu digaris bawahi, orang yang bisa nulis itu sedikit lho..). Pernah dalam suatu perlombaan, cabang M2IQ hanya diisi 6 orang peserta, 4 orang laki-laki dan 2 orang perempuan (artinya semua peserta dapat piala), ini bukti kecil bahwa kemampuan menulis itu tidak dimiliki banyak orang.

Kedua, M2IQ mengambil waktu paling lama di cabang MTQ, di hari pertama, peserta M2IQ menulis makalah di satu ruangan khusus selama enam jam  atau bahkan lebih, biasanya dari pukul 08:00 s.d 15:00 WIB. Di hari kedua peserta diminta mempresentasikan makalahnya di depan dewan hakim, para peserta dan para penonton. Jadi, kalau lah kita mau hitung, M2IQ memakan waktu kurang lebih 10 jam dalam dua hari. Silahkan Anda cek mana ada cabang MTQ yang memakan waktu selama ini, cabang Kaligrafi pun, saya yakin, tidak selama itu. Ketiga, peserta cabang M2IQ itu yang paling ‘aneh’ di antara para peserta MTQ, Anda akan melihat para peserta M2IQ itu banyak sekali barang bawaannya, mulai dari mesin tik, buku-buku yang dibawa dengan tas besar atau kantong plastik (persis orang mau mengungsi, hanya saja mereka tak bawa kasur hehe..). Intinya dari ketiga alasan itu, saya ingin mengatakan bahwa cabang M2IQ itu adalah cabang perlombaan yang unik  dan bonafid.

Melalui tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman, khususnya bagi Anda yang baru ingin mengikuti perlombaan ini. Atau juga bagi Anda yang sudah pernah mengikuti perlombaan M2IQ tapi belum pernah menjadi juara. Karenanya, saya berharap tulisan ini akan memberi tahu para pembaca mengenai apa dan bagaimana M2IQ itu.

Sekelumit Tentang Menulis

Tahukah Anda, menulis sejatinya adalah suatu proses panjang. Menulis bukan ilmu satu malam, yang bisa dipelajari dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam), tidak, menulis tidak begitu. Menulis, saya ulangi, memerlukan proses yang tidak singkat, perlu tahunan bahkan puluhan tahun untuk terampil membingkai ide dengan untaian kata-kata yang nikmat dibaca. Menulis itu bisa disejajarkan dengan seni lukis, seni musik, atau seni tari. Saya yakin tidak ada orang yang mahir berlatih memetik gitar dalam satu malam kemudian sekonyong-konyong ia tampil memukau di depan banyak orang, kalaupun ada, itu pasti hanya di alam mimpi, bukan di alam nyata.

Menulis itu senada dengan pepatah yang berbunyi ala bisa karena biasa. Kita hanya perlu membiasakan diri untuk menulis jika kita ingin menjadi penulis, kita hanya perlu sering memegang gitar jika kita ingin jadi gitaris, kita pun hanya perlu membiasakan diri menggerakan badan dengan luwes jika kita ingin menjadi penari. Ya, jadi semuanya hanya faktor kebiasaan atau pembiasaan. Anda pasti kenal Michael Jordan, konon dalam sehari ia berlatih 1.000 kali shoot untuk memasukkan bola basket ke dalam keranjang. Jangan heran jika ia bisa menjadi legenda Bola Basket sampai saat ini. Karena Jordan menjadikan basket sebagai kebiasaannya.

Maka, jika Anda merasa belum bisa menulis dengan bagus, Anda harus bijak melihat kebiasaan diri Anda sendiri. Berapa jam dalam sehari yang Anda habiskan untuk menulis? Sudah berapa banyak tulisan yang Anda buat? Jika jawaban Anda belum atau sesekali, maka jangan pernah membandingkan Anda dengan para penulis hebat, jangan pula menyalahkan diri sebagai orang yang tidak berbakat menulis. Saya rasa memiliki keyakinan yang kuat itu modal awal dari setiap penulis. Yakinlah Anda bisa menulis seperti para penulis idaman Anda. Karena jika sejak awal Anda yakin Anda mempunyai keyakinan tidak bisa menulis, percayalah, selamanya Anda tidak akan pernah bisa menulis.

Memiliki keyakinan yang kuat belum sempurna jika Anda tidak mengiringinya dengan rutinitas membaca buku. Ya rutinitas, sesuatu yang dilakukan dengan konstan dan kontinyu, bukan sesekali. Karena dengan membaca Anda dapat memperoleh modal utama untuk menulis, jika Anda tidak membaca buku apapun, lalu apa yang akan Anda tulis?

Jadikanlah membaca sebagai hobi, bukan aktivitas selingan. Dengan banyak membaca, perbendaharaan wawasan Anda akan semakin luas, dan bahasa Anda pun akan semakin kaya, semakin jinak dan semakin tertutur dengan baik.

 

M2IQ Sebagai Ajang Berlatih

Bagi beberapa orang, termasuk saya, mengikuti perlombaan itu bisa memecut motivasi. Mengasah naluri menulis pun demikian, saat pertama kali saya diminta mengikuti cabang M2IQ (waktu itu M2KQ) di tahun 2005, saya tidak tahu harus melakukan apa di perlombaan ini. Bahkan kabar bahwa perlombaannya menggunakan mesin ketik pun baru saya dapatkan sehari sebelum lomba dimulai.

Pertama kali saya menjadi peserta M2KQ, waktu itu di kecamatan Ciomas, saya hanya berbekal kebiasaan menulis makalah untuk kepentingan tugas di kampus atau di forum studi saja, itu pun tidak bagus, sangat pas-pasan. Karena itu, saat diminta menulis makalah ilmiah al-Qur’an, gaya bahasa yang saya gunakan ya seperti essay, karena hanya itu yang saya bisa. Saya masih ingat waktu itu saya hanya bisa membuat makalah tidak lebih dari lima halaman (padahal aturannya min.7 halaman). Apakah waktunya yang sedikit sehingga saya tidak bisa menulis sejumlah itu? Tidak, waktunya cukup, enam jam. Tapi sesungguhnya merangkai kata-kata, sambil berfikir, sambil membuka-buka buku sementara kita pun harus menuangkan ide di atas mesin ketik, ternyata bukan pekerjaan mudah, sulit sekali. Sampai-sampai, waktu itu, jemari tangan saya memerah, bahkan jari tengah saya bengkak, oh betapa menyiksanya.

Saat presentasi di keesokan harinya, saya mendapat giliran terakhir. Yang paling saya ingat, dan akan selalu saya ingat, adalah komentar pedas dari para dewan hakim, khususnya dari Ir. Nurustadi. Saat itu, beliau bilang bahwa makalah saya persis seperti teks khutbah Jum’at, tidak bermutu, kaku dan tidak enak dibaca. Bisakah Anda bayangkan perasaan saya waktu itu?

Tapi dengan kritik pedas itu, saya tak menyimpan amarah, justru kritik itulah yang membangkitkan semangat saya untuk selalu berupaya menulis dengan baik. Terimakasih Pak Nur!

Tahun depannya saya kembali mengikuti lomba yang sama, saat itu MTQ digelar di kecamatan Cibinong. Belajar dari kesalahan tahun kemarin, format makalah sudah saya persiapkan jauh-jauh hari. Saya masih ingat, saat itu makalah saya mengangkat persoalan eko-teologi di dalam al-Qur’an. Tulisan saya dijejali dengan bahasa-bahasa filosofis yang kurang akrab didengar, seperti istilah-istilah berikut: perestroika, eksposisi, negasi, narasi, dialektika, diskursus bahkan sampai kata indigenisasi atau parhesia. Semua itu saya campur adukkan seperti gado-gado dalam tulisan saya. Saat pengumuman juara, ternyata saya hanya berada di posisi harapan tiga, posisi paling akhir di deretan juara.

Belakangan saya baru faham, menulis ilmiah-populer itu tidak berarti harus ketat, rigid dan melulu bertengger di menara gading, tapi ia harus membumi, bahasanya mengalir seperti sungai, kata-katanya harus cair seperti air, kalimat-kalimatnya bisa difahami banyak orang, kata-kata ilmiah sesekali boleh disisipkan (tapi tidak mendominasi), dan tulisannya bisa menjelaskan hal yang rumit dengan kata-kata yang singkat dan padat. Belakangan saya juga baru faham, meski berambisi untuk menjadi juara itu suatu keniscayaan, namun ambisi itu tidak boleh mengalahkan kebesaran hati, kalah-menang jangan membuat kita tersungkur atau sombong. Jadikan semuanya pelajaran untuk memotivasi kita untuk menulis lebih baik lagi.

Selang dua tahun kemudian saya baru mengikuti lomba lagi. Di tahun ini, saya patut bersyukur, di kali ketiga mengikuti perlombaan M2KQ, saya berhasil meraih juara dua. Belum juara satu karena tulisan saya belum memenuhi syarat ilmiah-populer. Barulah di tahun berikutnya, yaitu tahun 2009 saya berhasil meraih juara satu. Dan terus berturut-turut selama tiga kali saya mempertahankan gelar ini sampai tahun 2011 kemarin. Di tahun 2012 saya “pensiun” dini, dewan hakim meminta saya untuk tidak menjadi peserta lagi.

Tips dan Trik M2IQ

Bagi Anda yang baru mengikuti perlombaan ini, atau Anda yang pernah mengikutinya tapi belum tahu seluk beluknya, silahkan simak uraian di bawah:

  1. Senjata Utamamu adalah ide

Senjata yang paling utama dalam medan M2IQ adalah ide atau gagasan. Gagasan ini harus Anda tuangkan menjadi tema makalah, lalu jadi judul makalah, kemudian mengurai lewat sub judul sampai penutup. Ide yang anda miliki tidak harus selalu orisinil (artinya hak paten gagasan itu tidak harus berada di tangan Anda), ide orang lain pun boleh, tapi Anda harus pandai meramunya dengan ide-ide yang lain sehingga ide yang Anda hadirkan benar-benar unik. Mari kita ambil contoh, tahun kemarin ada makalah yang mengangkat tentang upaya pengentasan kemiskinan lewat microfinance. Ide ini bukan ide orisinil penulis makalah, tapi teori Muhammad Yunus, ekonom India yang berhasil lewat Grameen Bank-nya. Tulisannya tidak melulu membahas Muhammad Yunus, ia cukup mengambil ide-ide besarnya, lalu ide itu dibenturkan dengan teori kapitalisme, diadukan dengan fakta kemiskinan dan gagalnya strategi-strategi pengentasan kemiskinan yang pernah dibuat. Kemudian mengeksplorasi ayat atau hadist yang membahas tentang kemiskinan. Dengan kreativitas menulis ini, penulisnya berhasil memperoleh juara II.

  1. Ilmiah-Populer

Ilmiah berarti ditulis dengan kaidah bahasa yang benar, sarat dengan teori dan perbincangan gagasan. Dan populer berarti idenya tidak jadul, tapi up to date, kekinian, segar dan bernas. Jangan sekali-kali Anda mengambil tema tentang sejarah, seperti sejarah pembukuan al-Qur’an di zaman Ustman bin Affan, sejarah kerajaan Islam di Demak, atau sejarah ekonomi Islam, bisa saja tulisan Anda ilmiah, tapi kan tidak populer, jika begitu makalah Anda hanya akan dibaca judulnya saja, selebihnya makalah Anda hanya akan disimpan di bawah ranjang dewan hakim. Ambillah tema, misalnya, mengenai kemiskinan, korupsi, lingkungan hidup, pendidikan, akhlak remaja, politik Islam, supremasi hukum dan lain sebagainya, tema-tema itu masih selalu segar dan populer, karena masalah kemiskinan atau korupsi itu masih belum selesai ditangani.

Judul yang populer belum sempurna jika Anda belum menyajikannya dengan ilmiah, dialogkan ragam pemikiran yang Anda peroleh dari buku-buku, kontestasikan gagasan Anda dengan pemikiran mereka, dan jangan lupa, karena ini M2IQ, Anda wajib mengutip atau mengeksplorasi ayat-ayat al-Qur’an atau hadist, kalau perlu melihat kitab tafsir dan mengutip pendapat ulama.

Kategori ilmiah juga bisa dilihat dari sistematika dan kaidah penulisan makalah. Anda harus tahu aturan kaidah menulis yang benar. Seperti menulis sesuai kaidah EYD, footnote, end note, in note, daftar pustaka, bahasa asing, tanda baca, diksi, mengutip paragraf langsung dan menulis terjemahan ayat. Ini penting karena masuk dalam penilaian.

  1. Buatlah Kerangka Makalah

Saya terbiasa membuat kerangka tulisan terlebih dahulu. Ini penting, karena jika tidak dipersiapkan alur makalahnya, tulisan akan lari ke mana-mana, tak ada penunjuk jalan. Buatlah kerangka makalah dari judul, pendahuluan, pembahasan, sub-bab, sampai penutup dan daftar pustaka. Masalah apakah tulisan Anda di tengah perjalanan itu sedikit belok biarkan saja, nanti juga akan balik lagi.

  1. Perhatikan Bahasa Makalah

“Salah satu bukti bahwa suatu makalah itu bagus, kalau dibacanya enak, diselingi dengan bahasa unik yang khas dan terkadang kita dibuat nyengir sendiri oleh tulisan itu” kalimat itu yang saya tangkap dari Ir. Nurustadi, saat membina saya ke MTQ Provinsi Jabar. Menurut saya, tulisan itu harus berkarakter, atraktif, lugas dan segar. Jika tulisan Anda dijejali bahasa-bahasa ilmiah kaku (baca: aneh), maka tulisan Anda tidak akan mampu membuat orang betah untuk membacanya sampai habis.

Jika Anda ingin tahu bahasa tulisan yang bagus, Anda harus sering-sering membaca kolom opini dan artikel di berbagai media massa. Silahkan bandingkan Catatan Pinggir nya Goenawan Muhammad di Majalah Tempo, atau artikel Asma Nadia di Republika, dengan tulisan Yudi Latif atau Azyumardi Azra di Kompas atau Republika. Dari situ anda akan tahu bahwa gaya bahasa itu punya karakter masing-masing, tergantung penulisnya. Mas Goen dan Asma Nadia punya bahasa yang ‘nyastra’, meskipun tulisan mereka tidak sedang membahas sastra. Beda dengan Yudi Latif, yang tuisannya padat dan berisi, atau Azyumardi, yang tulisannya penuh dengan data dan rujukan ahli. Karena itu, saran saya, pakailah bahasa makalah yang sesuai dengan kecenderungan Anda, intuisi Anda, naluri Anda dan otak kanan Anda. Dengan cara penulisan itu, bahasa yang akan muncul dalam makalah Anda pun akan terasa “Anda banget”.

  1. Jangan Menyepelekan Hal Teknis

Beberapa peserta yang acap kali saya lihat di setiap perlombaan adalah mereka yang tidak siap dengan hal-hal teknis. Akhirnya waktu menulis mereka habiskan untuk mengurus hal-hal teknis. Apa saja hal-hal teknis itu? Ini dia:

  1. Mesin ketik+pita, pakailah mesin ketik yang masih berfungsi dengan baik, ceklah setiap hurufnya (kecil atau besar), siapa tahu ada huruf yang tidak berfungsi. Bawalah pita cadangan, dan pelajari juga cara mengganti pita mesin ketik yang cepat dan tepat tanpa mengotori tangan anda. Karena itu sebelum lomba dimulai cobalah Anda mengetik barang satu atau dua halaman, hitung waktunya, saya yakin bagi Anda yang baru memakai mesin ketik ini, Anda bisa menghabiskan waktu 20 menit sampai 30 menit untuk dua halaman! Coba saja.
  2. Buku, bawalah buku-buku yang menurut Anda bisa dirujuk sebagi referensi, jangan membawa terlalu banyak, karena akan membuat Anda kesulitan nanti. Hemat saya, sebelum lomba ada baiknya Anda bubuhi tanda, paragraf mana saja yang akan Anda kutip nanti. Jika perlu bawalah al-Qur’an terjemah, karena Anda diwajibkan mengutip ayat al-Qur’an, hemat saya bawa al-Qur’an terjemah yang kecil saja bukan yang besar.
  3. Spidol, pulpen, tipe-ex, penggaris (ATK), barang-barang kecil ini kelihatannya remeh, tapi sebenarnya sangat penting. Biasanya saya memakai spidol dan penggaris untuk memberikan garis margin kertas yang nanti saya taruh di bawah kertas ketikan. Jadi batasan marginnya terlihat dengan bayangan dari kertas margin yang saya buat menggunakan spidol itu. Pulpen dipakai untuk menulis al-Qur’an atau menebalkan huruf-huruf yang kurang nyata. Tipe-ex digunakan untuk menghapus kalimat/kata yang keliru, saya sering menemukan peserta yang makalahnya penuh dengan tipe-ex, hal itu terjadi karena ia tidak terbiasa menulis dengan mesin ketik sehingga selalu membuatnya salah pencet. Atau bisa juga karena kesalahan-kesalahan yang lain, yang lumrah ditemui saat menulis.
  4. Kertas kosong, kertas ini dipakai sebagai kertas margin, yaitu kertas yang digunakan untuk acuan margin tulisan (atas: 4 cm, kanan: 4 cm, kiri: 3 cm, bawah: 3 cm). Gunakan spidol dan penggaris untuk membuat kertas margin. Sebenarnya tidak ada larangan Anda telah menyiapkan kertas margin sebelum memasuki ruangan lomba, namun berdasarkan pengamalam, terkadang jenis kertas yang kita siapkan dengan yang disiapkan panitia itu berbeda. Kita menyiapkan kertas margin ukuran Kwarto, tapi di ruangan ternyata kertasnya adalah A4 atau Folio. Sebagai antisipasi bawa saja ukuran kertas A4 sekitar 5 lembar.
  1. Latihlah cara presentasi Anda

Di hari kedua lomba, Anda akan diminta untuk mempresentasikan makalah di hadapan juri. Anda akan diberikan waktu sekitar 10 menit untuk mempresentasikan makalah Anda. Ingat mempresentasikan, bukan membacakan makalah. Kesalahan terbesar dari para peserta adalah presentasinya cenderung membaca makalah. Karena itu, saya terbiasa membuat mind map/peta fikiran, sebelum saya presentasi. Dengan menggunakan mind map saya bisa menyampaikan isi makalah dengan runut, sistematis dan berisi. Gaya presentasi setiap peserta berbeda-beda, ada yang memakai gaya seperti pidato, ada yang berapi-api, ada yang datar-datar saja, ada yang sangat serius. Jika Anda punya gaya sendiri untuk presentasi, silahkan digunakan, itu lebih bagus, asalkan harus menarik dan mengena ke jantung tema makalah Anda. Setelah presentasi, setiap dewan hakim (jumlahnya ada 4-5 orang) akan bertanya kepada Anda tentang isi makalah. Setiap juri akan mengajukan pertanyaan sesuai dengan bidangnya, ada yang mempertanyakan tentang ayat-ayat al-Qur’an, ada yang mempertanyakan tentang logika bahasa tutur makalah Anda, bahkan pertanyaan di luar tema pun bisa muncul. Di sini Anda benar-benar harus siap ditanya apapun, jangan minder apalagi ngedrop, toh presentasi hanya memiliki kuota 20% dari nilai keseluruhan.

  1. Fokus dan Menyenangkan

Saat lomba berjalan, biasanya suasana berubah menjadi menegangkan. Beberapa peserta yang terlalu serius biasanya tulisannya pun tidak bagus, ide utamanya meloncat-loncat tak beraturan. Yang harus Anda ingat adalah, meski proses menulis itu menuntut keseriusan dan pemikiran yang fokus, tapi Anda tetap harus berada dalam suasana yang menyenangkan. Untuk menciptakan suasana itu, biasanya sesekali saya bercanda dengan peserta lain, atau keluar ruangan untuk menghirup udara, membasuh muka atau sms-an.

  1. Indikator yang Dinilai Dewan Hakim

Berikut ini saya tuliskan beberapa indikator yang dinilai dewan hakim, format ini saya salin dari buku Pedoman MTQ 2010:

  1. 1. Penilaian Bidang Bobot Materi (nilai total max.40)

Indikator yang dinilai adalah:

  • Relevansi judul dengan tema besar (max.8)
  • Bobot dan kebaruan gagasan (max.8)
  • Eksplorasi kandungan al-Qur’an (max.8)
  • Keluasan wawasan (max.8)
  • Kekayaan referensi (max.8)
  1. 2. Penilaian Bidang Kaidah dan Gaya Bahasa (nilai total max.30)

Indikator yang dinilai adalah:

  • Ketepatan tata bahasa (max.8)
  • Ketepatan tanda baca (max.8)
  • Ketepatan ragam bahasa (max.8)
  • Pilihan kata (diksi) dan ungkapan (max.6)
  1. 3. Penilaian Bidang Logika dan Organisasi Pesan (nilai total max. 30)

Indikator yang dinilai adalah:

  • Keteraturan Berfikir (max.8)
  • Mutu Berfikir (max.8)
  • Sistematika Gagasan (max.8)
  • Alur Tulisan (max.6)
  1. 4. Penilaian Bidang Presentasi (nilai total max. 20)

Indikator yang dinilai adalah:

  • Kualitas paparan (max.6)
  • Kualitas jawaban (max.10)
  • Etika presentasi dan kematangan emosi (max.4)

*Tulisan tersebut dibuat pada tahun 2012.

semoga dengan adanya berbagai informasi yang disampaikan mampu memberikan manfaat serta menjadi bekal agar mampu berkompetensi dan menjadi yang terbaik dalam perlombaan M2IQ.

(WARDAN/Annisa)

 

 

 

 

 

 

 

 

(WARDAN/Annisa)

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait