Mengenal Al-Khawarizmi: Sosok Muslim Penemu Al-Jabar dan Konsep Nol Mengenal Al-Khawarizmi: Sosok Muslim Penemu Al-Jabar dan Konsep Nol

Mengenal Al-Khawarizmi: Sosok Muslim Penemu Al-Jabar dan Konsep Nol

Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi lahir di Khwarazm, wilayah timur laut Persia, sekitar tahun 780 Masehi. Sejak kecil ia dikenal cerdas serta tertarik pada logika matematika dan fenomena alam. Ia hidup di tengah pesatnya pertumbuhan intelektual dunia pada masa Kekhalifahan Abbasiyah.

Al-Khawarizmi kemudian pindah dan menetap di Baghdad hingga akhir hayatnya, sekitar tahun 850 Masehi. Di bawah pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun, ia menjadi ilmuwan istana sekaligus salah satu tokoh terkemuka di perpustakaan agung Bayt al-Hikmah (House of Wisdom). Dari perpustakaan inilah berbagai teori baru berkembang.

Dengan memanfaatkan akses ke naskah-naskah kuno Yunani, India, dan Persia, ia mempelajarinya satu per satu, lalu menyempurnakan, menguji ulang, dan membangun teori matematika yang lebih maju.

Mengenal Al-Khawarizmi: Sosok Muslim Penemu Al-Jabar dan Konsep Nol
Uzbekistan. Khiva. Statue of Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi – famous scientist born in Khiva in 783. The term ‘algorithm’ still reminds us of him because his name was rendered as Algoritmi in Latin.

Karya tulisnya yang berjudul Al-Kitāb al-mukhtaṣar fī ḥisāb al-jabr wa-l-muqābala membahas penyelesaian masalah praktis masyarakat, seperti pembagian warisan, transaksi dagang, dan pengukuran tanah. Dari kata al-jabr dalam buku inilah istilah “aljabar” berasal.

Kata “algoritma” sendiri berasal dari nama beliau, Al-Khawarizmi, yang dilatinkan menjadi Algoritmi. Sistem angka Hindu-Arab, termasuk angka nol (0), dijelaskan dalam bukunya Kitāb al-Jamʿ wa-l-tafrīq bi-ḥisāb al-Hind.

Kontribusinya yang besar dalam dunia astronomi dan geografi menjadikan namanya terkenal tidak hanya sebagai matematikawan, tetapi juga sebagai ilmuwan yang memengaruhi perkembangan sains di Eropa. Dalam Zīj al-Sindhind, ia menjelaskan perhitungan pergerakan matahari, bulan, dan lima planet yang dikenal pada masa itu. Perhitungan semacam ini membantu penentuan arah kiblat, waktu salat, dan prediksi gerhana bagi umat Muslim.

Karya lainnya, Kitāb Ṣūrat al-Arḍ, menyempurnakan peta dunia milik Ptolemeus dengan mencantumkan garis lintang dan bujur sekitar 2.400 lokasi di berbagai belahan dunia.

Warisan Al-Khawarizmi tidak berhenti di lembaran naskah kuno. Aljabar yang kita pelajari saat sekolah, hingga angka nol (0) yang kita pakai sehari-hari, semuanya berasal dari pemikirannya. Lebih dari seribu tahun berlalu, namanya tetap hidup di setip kalkulasi dan setaip baris kode.