1. Kecerdasan seringkali dikaitkan dengan IQ (Intellectual Quotient) sebagai satu-satunya tolok ukur kecerdasan. mereka yang memiliki IQ tinggi dianggap berpeluang besar untuk menjadi orang sukses dan kaya raya. Ini adalah paradigma lama yang sudah tidak relevan lagi untuk dianut. Karena betapa banyak bukti bahwa mereka yang meraih prestasi sekolah kurang bagus ternyata bisa menjadi orang sukses dan kaya raya.

      Secara umum, kecerdasan bisa di kembangkan.baik institusi pendidikan formal maupun non formal. Demikian juga dengan kecerdasan mengelola uang yang kita kenal dengan Kecerdasan Finansial. Pendidikan Finansial ini sangat penting bagi semua orang, tak terkecuali kaum menengah ke bawah agar mereka mampu meninggalkan jurang kemiskinan.

      Sebelum kita lebih jauh mengasah kecerdasan financial, perhatikanlah beberapa hal dibawah ini;
      1. Persepsi Mengenai Uang
      Perbaharuilah persepsi mengenai uang. Uang bukanlah segalanya. Uang bukanlah tujuan. Tetapi uang adalah sarana mencapai tujuan.

      2. Persepsi Mengenai Bekerja
      Persepsi mengenai bekerja juga harus dirubah. Bekerja bukan untuk mencari uang. Tetapi bekerja adalah menciptakan nilai tambah yang bermanfaat bagi semua pihak. Bekerja adalah belajar, dimana ada sistem uang diciptakan.

      3. Antusiasme
      Jangan pernah kehilangan gairah. Peliharalah antusiasme dalam jangka panjang. Karena hanya dengan ketertarikan tinggi, dan rasa ingin tahu yang besar, kita bisa menemukan suatu cara akumulasi asset yang efektif.

      4. Kesenangan Belajar
      Mengasah kecerdasan financial membutuhkan kesenangan belajar yang terus menerus. Jagalah agar kesenangan itu tidak menguap. Teruslah berpikir mengenai ‘cara kita berpikir’.

      Banyak buku-buku yang berbicara tentang kecerdasan finansial, namun setelah dicerna ternyata buku-buku tersebut mengungkapkan hal yang kurang lebih sama, bahwa kecerdasan financial adalah kemampuan untuk mengenali, menciptakan dan mempraktekkan sistem atau cara untuk mengakumulasi aset. Berikut ini intisari dari formula kecerdasan finansial;

      1. Memilah tujuan Produktif dan Konsumtif.
      Tindakan kita sehari-hari yang bersifat mengeluarkan uang, dapat dikategorikan ke dalam dua jenis; Produktif dan Konsumtif. Setelah dipilih ternyata 90% item kegiatan kita adalah aktifitas konsumtif. Untuk itu layaknya kita pertimbangkan apakah uang tersebut memang benar-benar layak dikeluarkan?

      2. Membedakan Aset dengan Liabilitas
      Pelajaran terpenting dari seorang pakar kecerdasan finansial seperti Kiyosaki adalah teorinya untuk memisahkan antara Aset dengan Liabilitas. Aset adalah harta yang dapat mendatangkan in come, sementara Liabilitas adalah harta yang menguras in come. Banyak Liabilitas yang tampak seolah-olah sebagai Aset, sehingga kita merasa kaya, walau sebenarnya miskin.

      3. Memahami Aliran Uang
      Orang yang cerdas secara finansial, mampu melihat apa yang tidak dapat dilihat orang awam. Banyak pemain bisnis propersi yang mencari emas tersembunyi. Mereka mencari lahan yang tidak ada nilainya bagi orang lain. Mereka menciptakan lingkungan dan menjualnya dengan mudah.

      4. Memiliki Daya Ungkit
      Daya ungkit adalah sesuatu yang membuat aset kita akan tumbuh berlipat ganda mengikuti deret waktu. Seorang tukang bakso yang ingin melipat gandakan omzet nya menjadi 200%, ia bisa membuka cabang, termasuk melatih karyawan dan stafnya, menstandarisasi resep dan membuat tampilan outlet dengan cirri khas tertentu. Tak kalah penting, lokasi-lokasi yang dipilih pun harus tepat.

      5. Biarkan Uang Bekerja
      Kalau sistem sudah bekerja dengan baik, kini waktunya untuk beternak uang. Uang hasil jerihh lelah selama ini, sudah waktunya menjadi aset utama yang memberikan uang tunai. Caranya, sebarkan uang tersebut keberbagai instrument investasi. Sebarkan menurut skala risiko yang di inginkan, guna menghindari total loss. Kita akan memperoleh keuntungan pada saat membeli, bukan pada saat menjual.

      6. Ciptakan Aset yang Tidak Bisa Dicuri Orang
      Perlu bagi kita untuk menciptakan aset yang tidak bisa dicuri, hilang atau dirampok. Yaitu cara berpikir dan cara bertindak. Boleh saja kita bangkrut total, namun jika kita masih mempertahankan cara berpikir dan bertindak cerdas secara finansial, maka semua yang hilang bisa kembali.

      7. Pahami Tanda-tanda Makro Perekonomian.
      Mulailah mengamati apa yang terjadi dengan perekonomian makro kita. Indicator-indikator yang harus diamati setiap saat adalah tingkat pertumbuhan ekonomi, kurs rupiah terhadap mata uang asing, laju inflasi, suku bunga perbankan, indeks saham dan tingkat pengangguran.

      Tingginya pertumbuhan ekonomi dapat membukam peluang banyak bidang, apalagi bila suku bunga cukup rendah, sehingga uang tunai mengalir keseluruh bidang bisnis. Masyarakat relative lebih gampang mengeluarkan uangnya. Indeks saham akan meningkat, yang menandai dunia bisnis memasuki masa booming. Inilah satnya berinvestasi!.
      Cermati bagaimana uang diciptakan, amati bagaimana aset berpindah tangan. Seperti Ilmu mengenai kecerdasan financial, menyerap ilmu sang guru atau membaca buku dan masih banyak lagi cara untuk mengasah kecerdasan financial kita
      Semoga tulisan ini bermanfaat buat kita semua, khususnya seluruh alumni Pondok Pesantren Darunnajah Cipining di seluruh Nusantara. Selanjutnya langkah yang harus kita ambil adalah, DO IT NOW! Lakukan Sekarang!

      Note:
      Tulisan ini di angkat berdasarkan sebuah buku William Tanuwidjaja, yang berjudul 8 Intisari Kecerdasan Finansial, Penerbit MedPress, Yogyakarta. Dengan beberapa penambahan.

      money-dollar-pound-borrowing-debt.jpg (17 KB)