
Salam diucapkan dengan senyum, gelas teman dikembalikan ke tempatnya, dan pintu dibuka untuk orang yang lebih tua. Di pesantren, akhlak Rasulullah SAW dipelajari lewat kebiasaan kecil sehari-hari. Santri putra mendengar kisah beliau, lalu mencoba menirunya dalam tindakan nyata.
Teladan Rasulullah SAW menjadi pusat pembinaan karakter di lingkungan Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Para guru dan pembina menyampaikan sirah, lalu mengajak santri mengamalkan nilai-nilainya di asrama, kelas, dan lapangan. Pendekatan ini menjadikan akhlak sebagai praktik, bukan hafalan.
Al-Qur’an menegaskan dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik. Surah Al-Qalam ayat 4 juga memuji beliau sebagai pribadi dengan akhlak yang agung. Dua ayat ini menjadi landasan mengapa meneladani Nabi adalah inti pendidikan karakter santri.
Kejujuran menjadi sifat pertama yang ditanamkan. Rasulullah dikenal sebagai Al-Amin, orang yang dipercaya. Santri dilatih jujur dalam hal-hal sederhana, seperti mengakui kesalahan, melaporkan barang temuan, dan tidak menyontek saat ujian. Kejujuran kecil membentuk kepercayaan besar.
Sifat lain yang dilatih adalah kasih sayang. Rasulullah menyayangi anak-anak, menghormati orang tua, dan membantu pekerjaan rumah keluarga. Di asrama, santri senior belajar menyayangi adik kelas, sementara santri junior belajar menghormati kakak kelasnya. Suasana saling menyayangi inilah yang menguatkan persaudaraan.
Beberapa akhlak yang dibiasakan santri dalam keseharian antara lain:
- Mengucapkan salam dan menyapa dengan ramah.
- Jujur dalam ucapan dan perbuatan.
- Menghormati guru, orang tua, dan teman.
- Menolong tanpa menunggu diminta.
- Memaafkan dan meminta maaf dengan tulus.
Tentu tidak semua santri langsung mudah menjalankannya. Ada yang masih mudah marah, ada pula yang sulit meminta maaf. Pembina menyikapinya dengan sabar, memberi nasihat, dan menjadi contoh. Proses meneladani Rasulullah memang panjang dan membutuhkan pengulangan yang konsisten.
Keteladanan juga diperlihatkan oleh para guru. Cara mereka berbicara, datang tepat waktu, dan memperlakukan santri menjadi pelajaran yang tidak tertulis. Santri belajar banyak dari apa yang mereka lihat, sehingga konsistensi antara ucapan dan perbuatan pendidik sangat menentukan.
Kegiatan harian menjadi sarana latihan akhlak. Saat makan, santri belajar membaca doa, mengambil secukupnya, dan tidak mencela makanan. Saat belajar, mereka membiasakan mendengarkan guru dengan tenang. Saat bermain, mereka berusaha menjaga ucapan. Setiap momen kecil memberi kesempatan untuk menirukan kebiasaan Rasulullah SAW dalam keseharian.
Beberapa santri menuturkan bahwa kisah-kisah Nabi terasa lebih hidup ketika dikaitkan dengan pengalaman mereka sendiri. Mereka membayangkan bagaimana Rasulullah menghadapi perbedaan atau kesulitan, lalu mencoba meneladaninya. Cara belajar semacam ini membuat nilai-nilai akhlak tidak terasa jauh, melainkan dekat dan dapat dipraktikkan hari ini juga.
Akhlak yang dibentuk di pesantren akan terbawa hingga santri dewasa. Para orang tua dapat melanjutkannya dengan menghidupkan sunnah di rumah, seperti salam, doa makan, dan sikap saling menghormati. Mari bersama-sama menjadikan teladan Rasulullah sebagai kebiasaan keluarga yang menumbuhkan generasi berakhlak mulia.
