Untuk memahami serta mendalami Islam, Darunnajah Cipining tidak selalu melulu mengaji atau belajar dengan ta’lim dan kajian lainnya. DIC atau Darunnajah Islamic Competition misalnya, kegiatan yang dialokasikan bertepatan dengan kesibukan kelas IX mengikuti UN ini (22/4), ditendensikan agar para santri mengerti Islam namun melalui sebuah event. Acara yang digelar diantaranya adalah simulasi manasik haji, tata cara berwudhu, dan tata cara pengobatan ala nabi yang kerap disebut thibunnabawi.
Agar mendidik santri untuk khidmat dan formal, acara dibuka secara resmi melalui grand opening. Pembuatan pangdung denagn penataan yang cukup berkesan dihiasi taman-taman berasesoriskan air mancur, tentu pemandangan ini tampak kian indah dan mengumbar pesona.
Ketua pelaksana DIC, Muhammad Faris (santri kelas 5 TMI/XI MA) berkesempatan mengungkapkan perasaan gembira atas dukungan dewan asatidz atas kegiatan ini. Kepada jajaran panitia, ia pun mengaku bangga. Begitu pula kepada para santri, harapannya, kegiatan ini dapat diikuti dengan baik agar event berjalan dengan sukses.
Senada dengan itu, penanggung jawab kegiatan, Ustadz Faqih Ulumi pun turut memberikan sambutan. Ia menegaskan bahwa kegiatan DIC dapat menjadi kegiatan rekreatif edukatif yang bernilai relejius. DIC merupakan gabungan dari kegiatan outdoor karena berupa simulasi-simulasi ibadah yang diharapkan menambah pemahaman akan ibadah itu sendiri.
Sementara itu, biro pengasuhan santri yang diwakili oleh kepala asrama putra, Ustadz Muhlisin Muhtarom, dalam kesempatan sambutannya ia lebih memotivasi santri untuk serius dalam kegiatan ini. DIC adalah wadah dan sarana santri untuk melakukan praktikum ibadah. Karena ibadah bisa jadi terdapat yang berupa rutinitas seperti sholat, namun terdapat juga ibadah yang dilakukannya hanya sekali-sekali seperti misalnya ibadah haji.
menambah meriahnya grand opening, panitia melalui MC, yaitu Meidy Risyandi dan Luciano Hayatul Fauzi, mengalokasikan penampilan grup marawis untuk menghibur santri. Kemudian untuk petugas pembacaan kalam ilahi, panitia menunjuk Muhamad Nasuha. Pada acara inti, yaitu peresmian kegiatan, perwakilan dari tim pelatih, Ustadz H. Mustajab Anwar menandainya melalui pemotongan pita serta permecahan balon.
Simulasi Ibadah
Kegiatan manasik haji putra dipandu oleh H. Mustajab. Sedangkan untuk santriwati dibimbing oleh Hj. Rahmah (Istri pengasuh pesantren) didampingi oleh Hj. Rimah (istri dari Ustadz H. Mustajab). Manasik dipusatkan di lapangan futsal kampus 1.
Dalam event ini, panitia membuat miniature ka’bah sebagai symbol tanah suci. Dengan tertib dan melalui penjelasan secukupnya, para tutor mengajarkan pengalaman mereka berhaji. Meskipun baru simulasi, namun para santri merasakan seakan-akan mereka tengah berada dalam tanah haram. Hal ini memicu semangat santri untuk melaksanakan ibadah haji ke Mekkah.
Praktikum selanjutnya adalah tata cara berwudhu. Salah satu tutor, Ustadzah Upi Nurjannah, Lc menjelaskan dan menerangkan bagaimana wudhu yang benar dan syah di depan para santriwati. Kemudian disusul kemudian sesi pengobatan ala nabi yang dinamai dengan Thibunnabawi. Sesi ini dibawakan oleh Ustadz Deni Rusman. Ustadz Deni menegaskan, bahwa ilmu kesehatan tidak saja dimiliki oleh para tabib atau dokter, tapi ternyata para nabi pun memiliki tips dan cara pengobatan yang lebih baik dan alami. Sehingga, diharapkan para santri lebih bisa meniru hidup sehat ala nabi. Jauh dari itu, agar mereka dapat mengobati segala penyakit dengan obat-obatan yang lebih aman. (red_Aprilyana Zein)