Semenjak memimpin pesantren Darunnajah Cipining pada tahun 1988 silam, KH Jamhari Abdul Jalal, Lc telah memberikan tauladan dalam melakukan sholat fardhu 5 waktu secara berjamaah. Bila berada di pesantren, beliau tidak pernah absen untuk menjadi imam sholat. Beliau selalu mengatakan dengan mengutip sabda Nabi bahwa sholat secara berjamaah lebih besar pahalanya 27 derajat dibanding sholat sendirian (HR Muttafaqun ‘alaih).
Semangat itulah yang ingin beliau tularkan kepada seluruh anshor ma’had (penghuni pesantren), dari para santri hingga dewan guru. Maka, sholat berjamaah kemudian menjadi wajib dilakukan di pesantren. Kewajiban melaksanakan sholat berjamaah menjadi motivasi para santri guna menjadikan sholat berjamaah sebuah tradisi pesantren Darunnajah Cipining.
Jika sholat berjamah telah bergulir menjadi sebuah tradisi pesantren, maka seiring dengan itu, pesantren telah berhasil menciptakan sebuah situasi dan kondisi. Bagaimanapun juga, sebuah tradisi akan lahir dari sebuah kebiasaan yang diupayakan selalu secara kontinu. Meskipun sebenarnya, kewajiban sholat berjamaah sangatlah kuat dituturkan oleh Baginda Rasulullah dalam beberapa hadits, seperti contohnya hadits dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw bersabda, Siapa yang mendengar azan tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada lagi shalat untuknya, kecuali karena ada uzur.
Lebih jauh, pesantren ingin mengembangkan tradisi-tradisi yang positif guna mendukung kemaslahatan bersama, baik terkait tentang memaknai (ritual) ibadah maupun program yang lain. Seperti contohnya tradisi yang tengah dilakukan pesantren adalah membangun tradisi belajar bersama. Tradisi belajar bersama ini, seperti diungkapkan Bapak Kyai, adalah kegiatan yang musti mulai dilakukan sebagai khazanah tradasi pesantren, terutama Darunnajah Cipining. Hal demikian disampaikan oleh beliau pada rapat Jum’at (8/4) kemarin.
Belajar bersama, bila di tempat lain bernama muwajjah, di pesantren Darunnajah Cipining dilakukan sedikit berbeda karena tempat dipusatkan di masjid. Waktu yang dilokasikan ialah selepas sholat Isya berjamaah. Maka, tidak ada satupun kegiatan di waktu selepas sholat Isya kecuali belajar malam.
Belajar malam ini diawasi oleh dewan guru yang bertugas secara terjadwal di bawah tanggung jawab biro pendidikan. Kepada guru yang bertugas berkewajiban untuk memeimpin do’a pembuka belajar. “Do’a pembuka belajar sifatnya adalah wajib. Selain sebagai amalan ibadah, berdo’a juga diharapkan mampu mengisi energy santri, bisa diistilahkan dengan penggugah semangat. Apalagi jika do’a ini dilafazhkan bersama-sama, maka santri akan siapa belajar dengan semangat yang baik” tutur Pimpinan Pesantren.
Begitupun saat belajar telah usai, pengawas berkewajiban untuk memimpin do’a penutup. Terpimpinnya belajar termasuk dengan do’anya menandakan bahwa belajar santri di pesantren Darunnajah Cipining terbimbing dan terawasi oleh dewan guru. Nah, inilah tradisi yang baru saja digulirkan oleh pesantren, meskipun sebenarnya tradisi seperti ini telah dilakukan meskipun hanya saat ujian berlangsung. (Wardan/Billah)