Mau Beasiswa IIUM Malaysia

 

Pondok Pesantren Nurul Ilmi

Serang/nurul-ilmi.com. Meraih beasiswa tentunya merupakan harapan semua santri. Karena denga begitu mereka mampu melanjutkan pendidikannya dengan biaya yang murah atau bahkan gratis sama sekali. Hanya saja banyak yang tidak  mengetahui bagaimana cara meraihnya.

Pondok Pesantren Nurul Ilmi sebagai sebuah lembaga pendidikan yang bertujuan untuk menyiapkan santri-santrinya agar memiliki keilmuan yang baik selalu mendorong santrinya untuk dapat meraih beasiswa-beasiswa yang ada. Salah satu bentuk dukungan dan dorongan tersebut adalah dengan mengadakan sosialisasi tips meraih beasiswa yang dilaksanakan pada hari Ahad tanggal 1 April 2012 kemarin di Masjid Jami’ Nurul Ilmi yang disampaikan oleh Ust. Berlianto Haris, salah seorang alumni Gontor yang meraih beasiswa S2 Bidang Ekonomi Syariah di Internasional Islamic University Malaysia. Beliau menceritakan pengalaman dan tips-tips beliau dalam belajar di Pesantren dan meraih beasiswa ke luar negeri. Menurut beliau cara sederhana meraih beasiswa di luar negeri adalah dengan membangun link/ hubungan yang baik dan pintar mencari informasi. “Beasiswa kuliah di luar negeri sebenarnya banyak, hanya kadang kala kita tidak tahu informasinya atau tidak memiliki link yang mengetahui secara baik tentang beasiswa yang tersedia tersebut”, ujar beliau ketika sharing dengan para santri.

Selain itu, beliau juga menyampaikan bahwa keinginan mendapatkan beasiswa harus disiapkan sejak masih belajar di Pesantren dengan cara belajar dengan tekun  dan baik. Salah satu tips belajar yang beliau sampaikan kepada para santri adalah dengan cara 3 K, yaitu : Konsentrasi, Kontinyu, dan Kontrol. Ketika belajar hendaknya kita harus konsentrasi, salah satu cerita yang beliau sampaikan kepada santri adalah cerita tentang Prof. Dr. Nurcholis Majid ketika belajar di Pesantren. Prof. Dr. Nurcholis Majid ketika belajar di kelas selalu memperhatikan guru/ustadznya dengan serius. Bahkan beliau selalu mencatat poin-poin hal penting yang disampaikan oleh gurunya dan ketika pergantiang jam pelajaran beliau selalu menyempatkan untuk mengulang dan me-review kembali poin-poin penting yang beliau catat agar tidak lupa dan langsung masuk ke otak.

Selanjutnya, belajar juga harus kontinyu, dalam artian kita harus tekun atau dalam bahasa arab diistilahkan dengan kata “itqon”. Karena lebih baik belajar sedikit tapi kontinyu daripada belajar banyak tapi tidak kontinyu.

Selain itu belajar juga harus kontrol. Kontrol artinya kita harus terus menjaga ritme belajar kita agar tidak terganggu. Belajar yang paling baik adalah waktu seusai sholat tahajud atau selesai subuh. Karena pada waktu itu otak kita masih dalam keadaan jernih dan belum terkontaminasi dengan masalah yang lain.

Beberapa hal lain yang beliau tekankan juga dalam meraih beasiswa ke luar negeri adalah penguasaan bahasa, baik Bahasa Inggris maupun Bahasa Arab. Hal itu menjadi bekal utama jika kita mau memperoleh beasiswa ke luar negeri. Karena kebanyakan universitas di luar negeri menjadi Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar pembelajaran disana.

Terakhir beliau juga berpesan kepada para santri agar terus menjaga impian-impian mereka dan mau memperjuangkannya dengan serius dan sekuat tenaga. Semoga para santri dapat mencapai semua cita-citanya.