Tulisan berikut ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Mari Kita Meminta Kepada Allah”

Sebagai manusia, semakin banyak diminta kita pasti akan kesal. Tapi Allah Swt. tidak begitu, semakin kita banyak meminta, Allah akan semakin senang. Kalau kita semakin banyak diminta, kita akan semakin marah, karena kita memang punya sedikit, sedangkan Allah Maha Kaya, tidak ada kurangnya. Allah suka diminta. Allah senang terhadap orang yang banyak meminta kepada Allah. Firman Allah Swt.,

ادعوني أستجب لكم

“Mintalah kepada-Ku, Aku akan kabulkan apa yang kamu minta itu.”

Lalu mengapa tidak mau meminta kepada Allah Swt? Mari kita minta kepada Allah Swt. Kalau orang Islam, minta kepada Allah itu ibarat berjalan dengan dua kaki. Minta kepada Allah itu, satu dengan berdoa, satunya lagi dengan usaha. Kalau orang-orang non-muslim mintanya hanya dengan satu kaki, yaitu hanya dengan usaha saja. Yang namanya usaha, menurut pengalaman selama ini, kadang-kadang berhasil, kadang-kadang gagal (tidak berhasil).

Saat kita menanam di sawah, airnya sudah cukup, pupuknya juga sudah cukup, sudah lengkap semuanya, bibitnya juga katanya bibit unggul, ternyata pada waktu panen tidak keluar apa-apa; ada yang dimakan tikus, ada hama wereng, macam-macam. Itu namanya usaha. Tetapi kalau usaha kita berdoa, tidak ada gagalnya, tidak ada ruginya. Allah tahu kebutuhan kita.

Kalau kita adalah orang yang ahli ibadah, ketemu saja jalannya. Allah memberikan. Lagi-lagi kebutuhan kita di alam dunia ini memang tidak banyak. Dan itu sudah Allah tentukan, sudah Allah cukupi. Karena kebutuhan-kebutuhan kita tidak terlalu banyak, maka oleh Allah diberikan nanti, akan diberikan untuk masa yang kita hidup sudah tidak bisa lagi mencari.

Seluruh umat manusia tidak hanya hidup di alam dunia. Di alam kubur nanti kita akan hidup. Di alam akhirat juga kita akan hidup. Di alam kubur kita sudah tidak bisa mencari bekal lagi. Tapi masih untung bagi kita yang anak-anaknya menjadi anak shaleh/shalehah. Kalau anaknya hafidz al-Quran, orang tuanya nanti akan dimasukkan ke dalam surga gara-gara anaknya, akan diberikan mahkota gara-gara anaknya. Kalau anak-anaknya shaleh/shalehah, sekalipun sudah mati masih dapat kiriman. Bisa saja dosanya diampuni oleh Allah karena anaknya mendoakan terus setiap shalat. Bahkan kadang-kadang mengundang banyak orang untuk mendoakan almarhum/almarhumah agar diampuni dosanya. Ada juga yang anaknya ingat pada orang tuanya, “Saya akan kurban atas nama almarhumah. Saya tidak tahu dulu almarhumah sudah sempat kurban atau belum. Ini ada uang, ada kambing, saya mau kurban Idul Adha untuk almarhumah.” Almarhumah dapat pahala. Itu kalau anaknya benar. Kalau anaknya tidak benar, ia akan berkata, “Ngapain orang sudah mati dipikirin. Mendingan yang masih hidup saja. Kambing jual deh untuk apa gitu.” Itu kalau anaknya tidak benar. Tapi kalau anaknya benar, masih ingat.

Pada zaman Rasul Saw. ada sahabat yang ibunya sudah meninggal sedangkan ia punya harta. Ia bertanya kepada Rasul Saw., “Ibu saya belum pernah haji, ya Rasulullah, sampai meninggal, sedangkan saya mempunyai kemampuan untuk melakukan haji. Bolehkan saya melakukan haji untuk ibu saya?” “Oh iya boleh, lakukanlah.” Ada badal haji, kalau istilah orang kita biasanya. Nitip pada orang yang jama’ah haji, “Tolong nanti di sana carikan orang yang bisa melakukan ibadah haji. Ini dikasih bonus.” Masih lumayan seperti itu. Kadang-kadang ada juga yang mengajikan, melakukan kurban, dan lain sebagainya. Ini kalau anak-anaknya shaleh.

Tetapi kalau anak-anaknya tidak ada yang shaleh, sudah mati disiksa, pengurangan dosa tidak ada, kiriman pahala juga tidak dapat. Hidup di alam kubur masih lumayan, masih ada yang memohonkan ampunan, masih ada yang mendoakan, yang mengirimi pahala, dan sebagainya. Tapi hidup di akhirat sudah tidak ada lagi yang bisa membantu. Di harapkan dari mana? Dari anaknya? Anaknya sudah mati juga. Di hari Kiamat semuanya habis. Kalau alam kubur, ibu kita atau bapak kita sudah mati, kita masih hidup, masih bisa mendoakan. Mungkin kalau nanti kita sudah mati, cucu kita masih ada, masih mendoakan kakek dan neneknya. Di alam kubur masih lumayan. Tetapi di alam akhirat semuanya sudah tidak ada lagi. Semuanya sudah habis. Semuanya sudah mati.

Nah, tadi kita melakukan shalat Dhuha, melakukan shalat-shalat sunah yang lain, di situ Allah akan berikan ganjarannya untuk bekal nanti di akhirat. Ibadah itu tidak ada ruginya. Tetapi kalau yang dicari hanya sekedar upah duniawi, maka banyak ruginya; kadang-kadang kita bekerja di orang tidak dibayar. Kadang-kadang kita berdagang katanya orang beli, tahu-tahu tidak mau membayar. Banyak sekali kerugian-kerugiannya kalau hanya untuk duniawi. Kita tidak hanya hidup di sini. Kita tidak hanya hidup hari ini.

Sekarang masih begini-begini saja, coba nanti suatu saat Allah akan berikan juga. Harapan itu masih ada, masih panjang. Apalagi kita juga berharap untuk hidup yang lebih panjang lagi daripada yang sekarang ini. Jadi tidak ada ruginya. Mari kita tumpuk terus. Sekiranya hidup kita ini dicukupi, ya untuk kebutuhan kita nanti saat kita di alam kubur. Di alam kubur juga tidak lama. Nanti di alam akhirat yang kekal abadi. Tentunya bekal untuk akhirat lebih banyak daripada yang kita gunakan untuk alam dunia ini. Sebab di alam dunia ini kita tidak tahu tinggal berapa lama. Makanya kalau kita cuma mikir untuk kebutuhan makan saja, kita akan rugi. Kalau sehari-hari yang dipikir dari pagi bangun tidur sampai kembali tidur hanya makan saja atau kebutuhan-kebutuhan seperti itu, kita akan rugi.

Maka apa yang kita sudah bisa, mari terus menerus kita lakukan. Mari shalatnya, – qabliyah dan ba’diyahnya – kita lakukan, shalat malamnya kita lakukan. Sekiranya kita tidak bisa bangun malam, kata Rasulullah, kalau sekiranya kita tidak bisa bangun malam, kita boleh shalat Witir setelah shalat Isya’. Misalnya, kita merasa sepertinya tidak bisa bangun malam. Maka setelah shalat Isya’ dan shalat sunah ba’diyah, kita bisa melakukan shalat Witir. Daripada tidak sama sekali. Kita lakukan sebelum tidur. Tetapi sekiranya pada malam hari kita bangun padahal sudah shalat Witir, sayang juga kalau kita tidak shalat, mau shalat Tahajjud boleh atau tidak? Boleh saja. Terus Witirnya bagaimana, ustadz? Karena Witir sudah dilakukan, lakukan Tahajjud saja tanpa harus shalat Witir lagi. Ini pendapat jumhurul ‘ulama, kebanyakan ulama. Jumhurul ‘Ulama dalam bahasa kita yaitu mayoritas ulama atau kebanyakan pendapat ulama.

Ada pendapat lain, tetapi yang berpendapat seperti ini tidak banyak, yaitu, “Kalau sudah witir, kamu shalat lagi satu rakaat. Yang tadinya ganjil kalau ditambah satu menjadi genap, jadi tidak Witir lagi. Setelah itu baru silahkan lakukan shalat sunah semaunya, kemudian ditutup dengan shalat Witir.” Tapi yang mengatakan seperti ini tidak banyak. Kebanyakan mengatakan kalau sudah Witir, lakukan saja shalat tanpa harus menambahi satu rakaat. Seperti pada bulan puasa, misalnya, kita sudah melakukan shalat Witir bersama imam di masjid. Bagaimana qiyamullailnya? Qiyamullail tetap saja. Tetap lakukan qiyamullail tanpa harus mengulangi Witir lagi. Jadi kalau kira-kira kita merasa berat untuk melakukan shalat malam di malam hari, lakukan shalat Witir setelah shalat Isya’.

Ada yang berkesan dalam pikiran saya apa yang dilakukan oleh bapak almarhum. Bapak kalau selesai shalat Isya’ sebelum tidur mesti membaca al-Quran, kemudian beliau shalat kemudian tidur. Padahal pada malam hari beliau juga bangun. Sesudah membaca al-Quran kelihatannya bapak dulu wiridnya Dalailul Khairat. Itu memang harus dibaca terus, ketika sedang bepergian, dan sebagainya. Alhamdulillah, ketika beliau meninggal, dalam kondisi seperti itu. Beliau ke kamar mandi, pulang lagi masih membaca asmaul husna dan sebagainya, kemudian meninggal, cepat sekali prosesnya. Kita anak-anaknya gembira melihat beliau meninggal dalam kondisi seperti itu. Kita senang, kita bangga, kita ingin juga seperti itu nantinya, tidak merepotkan orang lain. Husnul khatimah.

Jadi mari kita biasakan shalat itu. Banyak shalat berarti permohonan kita kepada Allah itu banyak, berulang kali. Dan Allah semakin senang terhadap orang-orang yang terus menerus memohon. Kalau kita dimintai, kita justru tidak suka. Allah justru sebaliknya. Kalau orang minta terus, Allah semakin senang. Orang yang tidak pernah minta namanya orang takabur, orang sombong. Dia perlu kok tidak mau minta, itu namanya sombong. Allah tidak suka terhadap orang-orang yang takabur. Maka gunakanlah shalat itu sebagai sarana memohon kepada Allah Swt. Lakukanlah sebanyak-banyaknya.

Kalau kita sudah terbiasa shalat yang lama, maka ketika shalat biasa akan bertambah khusyu’. Kita bisa merasakan sendiri tadi, baru selesai shalat Tasbih kemudian shalat Dhuha terasa cepat sekali. Ini hikmah dari shalat-shalat yang lama. Kalau kita sudah terbiasa mengangkat beban 30 Kg., ketika mengangkat 5 kg., rasanya ringan. Kita melakukan shalat Tarawih 23 rakaat, sedangkan shalat Zuhur hanya empat rakaat. Itu akan terasa ringan. Shalat Zuhur dengan shalat sunahnya; qabliyahnya empat rakaat, shalat Zuhur empat rakaat, dan ba’diyahnya empat rakaat; hanya dua belas rakaat. Kita shalat tarawih 23 rakaat. Itu sebenarnya masih ringan juga. Apalagi ketika kita tidak sedang berpuasa.

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Mari Kita Meminta Kepada Allah”