Idul Adha atau Hari Raya Qurban dimaksudkan guna mengingat pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim bersama sang putra tercintanya Nabi Ismail. Hal ini hendaklah menjadi contoh, teladan, dan wujud dari nilai-nilai ketakwaan oleh orang-orang yang
beriman.
Nilai (ajaran) Qurban tergambar di dalam penyembelihan hewan qurban yang berpondasi pada; (1) niatnya karena Allah SWT, (2) yang sampai kepada Allah bukanlah darah atau daging qurban tetapi keimanan dan ketakwaan orang berqurban,(3) daging qurban itu sendiri didistribusikan secara adil dan merata terutama kepada mereka yang benar-benar membutuhkan sebagai kepedulian kepada lingkungan dan upaya meningkatkan kebersamaan dalam lingkungan solidaritas sosial, (4) pendistribusian secara adil dan merata, dilakukan sebagai pengamalan perintah syukur atas nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah.
Nabi Ibrahim adalah seorang yang kaya dan dermawan. Ia banyak mengorbankan harta kekayaannya untuk kepentingan sosial. Suatu waktu ia diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih sejumlah kambing dan sejumlah unta sebagai qurban dan santunan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Pujian pun banyak berdatangan tertuju kepadanya. Waktu itu, ia belum dikarunia anak. Pada waktu itulah ia berkata; bahwa anak sendiri pun akan dikorbankan apabila hal itu diperintahkan oleh Allah. Maka tatkala anak itu benar-benar telah lahir, bahkan telah dapat membantu pekerjaannya dan tentu merupakan anak yang sangat didambakan dan dicintai oleh Ibrahim dan isterinya Siti Hajar. Maka datanglah tuntutan Allah agar Ibarahim membuktikan tekad dan kesetiaannya kepada Allah.
Ketaatan Ibarahim dan Ismail dalam berqurban, Allah ganti dengan seekor kambing yang besar yang dagingnya diperintahkan untuk didistribusikan secara adil dan merata terutama kepada mereka yang membutuhkannya. Peristiwa ini menjadi dasar syariat Qurban yang dilakukan setiap tahun dalam rangkaian Hari Raya dan Ibadah Haji.
Tujuan berqurban adalah taqarrub kepada Allah, yaitu mendekatkan diri sedekat mungkin kepada-Nya untuk memperoleh rahmat, maghfirah, dan ridha-Nya. Upaya mendekatkan diri kepada adalah proses yang terus menerus bergerak tanpa henti. Keadaan masyarakat dan lingkungan orang yang taqarrub kepada Allah juga terus menerus bergerak menuju kebahagiaan dan kesejahteraan yang diridhai oleh Allah SWT. Dari diri orang yang taqarrub kepada Allah akan memancar cahaya, yaitu cahaya dalam bentuk amaliyah-amaliyah salihah yang dapat menghilangkan kepekatan-kepekatan sosial dan kesemerawutan tatanan kehidupan dan lingkungan, sehingga apa yang disebut di dalam Al-Qur’an dengan baldatun tayyibatun warabbun ghafur dapat terwujud menjadi kenyataan.
Pesantren Darunnajah Cipining dalam menyambut dan menyelenggarakan kegiatan terkait Idul Qurban membentuk kepanitiaan yang bertugas dalam membantu serta memfasilitasi kaum muslimin yang juga turut ingin berqurban di pesantren. Kegiatan pesantren di antaranya adalah melaksanakan puasa Tarwiyah dan Arafah padatanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Malam 10 Dzulhijjah, dilanjutkan dengan takbiran.
Pada pagi harinya, keluarga besar Darunnajah bersama masyarakat sekitar menyelenggarakan Sholat Idul Adha di Masjid Jami’ pesantren. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban yang diikuti dengan pendistribusian ke masyarakat.
Dengan adanya kegiatan Idul Adha tersebut, panitia membuka kesempatan bagi kaum muslimin untuk turut serta berqurban di pesantren. Panitia menerima hewan qurban, baik berupa hewan langsung seperti kambing dan kerbau. Atau dapat juga dalam bentuk dana, karena panitia juga menyediakan hewan qurban, baik kambing dan sapi/kerbau.
Bagi yang hendak berqurban di pesantren dapat menghubungi panitia atas namaUstadz Hamdani di nomor kontak 085718372184 (Indosat-M3). Bisa juga datang ke pesantren dan menemui panitia secara langsung atau menghubungi pihak TU keuangan. (Wardan/Billah)