Lika-liku PPM

CINANGKA/dn3.com – Kurang lebih satu jam setengah kami beserta rombongan peserta Praktek Pengabdian Masyarakat (PPM) Pondok Pesantren Al-Manshur Darunnajah 3 Serang Banten, tiba di desa yang nan jauh dari keramaian kota, mobil yang kami tumpangipun tidak tau a href=”http://darunnajah.com/wp-content/uploads/2011/01/penampilan-ppm-almanshur1.jpg”>img class=”alignleft size-medium wp-image-457″ title=”penampilan-ppm-almanshur” src=”http://darunnajah3.com/wp-content/uploads/2011/01/penampilan-ppm-almanshur1-300×164.jpg” alt=”” width=”300″ height=”164″ />/a>arah kemana jalan yang akan dilewati, kami hendak kehilangan arah, namun kami mencoba bertanya kepada penduduk sekitar. Mobilpun berbalik arah mengambil tikungan yang pertama yang telah kami lewati, cuaca yang tidak bersahabat dengan hujan deras membuat jalan yang kami lewati licin, mau tidak mau kami harus turun dari mobil, rela hujan-hujanan demi keselamatan kami semua.

Hingga akhirnya kami berhenti di depan Madrasah Diniyah dengan tiga lokal kelas yang telah dipenuhi puluhan warga yang menyambut kedatangan kami, gerimis air hujanpun seakan menyambut kami dengan penuh kedamaian, air hujan telah membasuhi baju kami, namun dengan penuh haru, kami merasakah kedamaian sampai di desa ini.
blockquote>gerimis air hujanpun seakan menyambut kami dengan penuh kedamaian/blockquote>
Seusai acara penyerahan peserta PPM kepada warga, kami bergegas menuju posko yang akan kami jadikan tempat istirahat dan evaluasi. Hari pertama aku dan kawan-kawanku kelas 6 TMI yang lain dibagi untuk mencari beberapa perkampungan yang letaknya ratusan, ribuah, bahkan kiloan meter dari posko kami. Tanpa alat transportasi sama sekali, hanya mengandalkan kaki yang telah kami balut dengan tekad bulat kami.a href=”http://darunnajah.com/wp-content/uploads/2011/01/ppm-almanshur-lagi.jpg”>img class=”alignleft size-medium wp-image-456″ title=”ppm-almanshur-lagi” src=”http://darunnajah3.com/wp-content/uploads/2011/01/ppm-almanshur-lagi-300×163.jpg” alt=”” width=”300″ height=”163″ />/a>

Waluapun perjalanan yang kami tempuh berupa tanjakan curam, dan hutan yang menemani kami sepanjang perjalanan, namun, kami tetap menjalankannya demi suksesnya kegiatan yang akan kami jalankan. Hari pertama kami hanya mengetahyi keadaan suatu kampong.

Hari kedua sampai kesepuluh, setiap hari kami harus naik turun bukit untuk sampai ke tempat kami mengajar di Madrasah Diniyah. Lelah, capek kami rasakan setiap kami hendak tidur pada malam hari. Tak ada sedikitpun waktu yang dibuang dengan sia-sia, ketika hendak tidur malampun, kami harus mengikuti evaluasi, meski dengan mata yang sudah hamper “5 watt” lagi, tapi kami harus mengikutinya.

Satu lagi, yang membuat kami semakin benar-benar merasa berjuang adalah fenomena alam yaitu abu vulkanik dari gunung anak Krakatau, yang dalam hati kami selalu berkata dan bertanya “apakah kami akan mati syahid atau mati dalam keadaan tidak beriman, kalaupun sampai gunung anak Krakatau itu meletus” walaupun begitu, tapi itu tideak menjadikan penghalan untuk berjuang mencari dan mengamalkan ilmu pengetahuan.

Setiap kegiatan kami harus mencatatanya dalam jurnal laporan kegiatan yang telah disediakan panitia, seakan kami seperti seorang pemain sinetron yaitu “madid musyawaroh” yang dalam peranannya di sinetro striping Islam KTP, dan kami harus meminta tanda tangan kepada warga yang menjadi sasaran kegiatan kami, ada warga yang tidak mau karena tidak bias membaca, ada yang malu dan lain sebagainya, padahal tandatangan itu sangat penting bagi kami, karena salah satu penilaian dari team monitoring adalah tandatangan itu.

Dihari kesebelas, kegiatan kami asalah mempersiapkan acara untuk panggung gembira dan perpisahan peserta ppm yang akan dilaksanakan pada tanggal 02 Januari 2011 tepatnya dua belas hari kami di desa ini. Hari itu, tepantya hari Sabtu, kegiatan kami adalah gladi bersih, namun saying pagi itu listrik mati, entah apa yang kami rasakan hari itu, kesal atau binging dan apalah yang membuat kami merasa agak ngeluh dan putus asa, kami takut acara dan perpisahan esok hari akan seperti hari ini.

Malam hari, setelah isya, kami semua peserta ppm dibantu oleh warga menyiapkan untuk persiapan esok hari, mulai dari membuat background panggung, menghias panggung, membuat taman, menata kursi untuk duduk para tamu undangan, mengecek sound system dan lain-lainnya.

Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 02.00 dinihari, padahal seharian kami tidak istirahat, rasanya kami capek dan lelah sekali. (iis sofiyanti)