
Aula Kampus 3 Putra berubah menjadi ruang belajar sejarah ketika film Pengkhianatan G30S/PKI diputar dalam kegiatan nonton bareng di Pesantren Darunnajah 2 Cipining. Para peserta duduk bersama, menyimak adegan demi adegan tentang peristiwa yang mengguncang Indonesia pada akhir September 1965. Kegiatan ini mengajak mereka memahami sejarah dengan mata dan perasaan, agar pelajaran dari masa lalu tersimpan lebih lama. Sebuah bangsa yang mengingat lukanya akan lebih berhati-hati menjaga persatuan.
Pemutaran film dipilih sebagai cara belajar karena gambar bergerak mampu menghadirkan suasana zaman yang sulit dijelaskan lewat buku. Aula Kampus 3 Putra menjadi tempat yang cukup luas untuk menampung peserta dalam satu ruangan. Dengan berkumpul di satu tempat, mereka menyaksikan cerita yang sama pada waktu yang sama. Suasana ini membuat diskusi sesudahnya lebih mudah dimulai.
Film yang diputar mengisahkan rangkaian peristiwa Gerakan 30 September yang berujung pada gugurnya sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Peristiwa itu tercatat sebagai salah satu babak paling kelam dalam perjalanan Republik. Film ini telah lama menjadi bahan tontonan dan pembicaraan publik di Indonesia. Karena itu, menontonnya bersama-sama memberi kesempatan bagi peserta untuk mengenal cerita yang juga dikenal luas oleh masyarakat.
Bagi generasi muda, peristiwa 1965 mungkin terasa jauh karena terjadi jauh sebelum mereka lahir. Nonton bareng menjembatani jarak itu dengan cara yang sederhana. Peserta tidak hanya membaca angka dan tanggal, tetapi juga melihat bagaimana ketegangan, kehilangan, dan keteguhan menjadi bagian dari sejarah. Dari sana muncul rasa ingin tahu untuk mempelajari lebih jauh, termasuk dari sumber-sumber sejarah lain yang lebih lengkap.


Dalam pandangan Islam, mengingat masa lalu adalah bagian dari proses belajar. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia mengambil pelajaran dari kisah umat terdahulu, agar tidak mengulangi kekeliruan yang sama. Semangat itu sejalan dengan tujuan kegiatan ini. Sejarah tidak dibaca untuk menumbuhkan kebencian, melainkan untuk menumbuhkan kewaspadaan dan kecintaan pada tanah air.
Nilai yang ingin dipetik dari peristiwa ini cukup terang. Persatuan tidak lahir dengan sendirinya, ia dijaga oleh kesadaran bersama bahwa perbedaan pandangan harus diselesaikan dengan cara yang beradab. Para pahlawan yang gugur menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dan stabilitas negara dibayar dengan pengorbanan. Santri, sebagai calon pemimpin masyarakat, diharapkan tumbuh dengan pemahaman itu.
Kegiatan seperti ini juga melatih kemampuan berpikir kritis. Peserta diajak menonton dengan tenang, mencatat hal-hal yang menarik, lalu membicarakannya bersama teman dan pembimbing. Cara belajar ini membiasakan mereka menimbang informasi sebelum mengambil kesimpulan. Kebiasaan itu penting di tengah derasnya arus informasi yang mereka temui setiap hari.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus diselenggarakan sebagai bagian dari pembinaan wawasan kebangsaan di lingkungan Pesantren. Orang tua, alumni, dan masyarakat sekitar dapat ikut mendukung dengan membuka ruang diskusi tentang sejarah bangsa di rumah dan lingkungan masing-masing. Bacalah juga buku-buku sejarah dari berbagai penulis agar pemahaman semakin utuh. Dengan begitu, ingatan tentang masa lalu menjadi bekal yang menguatkan langkah generasi hari ini.
