Pondok Pesantren Al-Harokah Darunnajah 12 Dumai melaksanakan kegiatan pembentukan pemimpin santri melalui LDK. Hari kedua Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSADN masa bakti 2026–2027 fokus pada pembangunan karakter operasional. Sebanyak 8 orang pengurus inti OSADN mengikuti serangkaian pelatihan intensif di Ruang BLK. Materi hari ini mengintegrasikan keterampilan teknis dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

Hari kedua membawa pendekatan yang lebih aplikatif. Para peserta tidak hanya belajar teori kepemimpinan. Mereka langsung mempraktikkan prinsip-prinsip tersebut dalam simulasi nyata. Setiap aktivitas dirancang untuk menguji konsistensi antara pengetahuan dan tindakan. Inilah ciri khas pendidikan kepemimpinan berbasis pesantren.
Sesi pertama membahas bagaimana membentuk tim yang kuat antar OSADN yang mana terkadang anatar oraganisasi kerap kali mendapatkan konflik dan selisih faham serta bagaimana cara menemukan solusi
Simulasi penyelesaian konflik menjadi highlight hari ini. Peserta dibagi dalam kelompok dan diberkan studi kasus riil. Kasusnya melibatkan perselisihan antar divisi dalam pelaksanaan program. Mereka harus menemukan solusi dengan merujuk pada prinsip *ishlah* (perbaikan). Solusi harus mengutamakan persatuan dan tujuan organisasi.
Ustaz Muhammad Shodiq hadir memberikan pencerahan khusus. “Pemimpin yang baik adalah pendamai, bukan provokator,” tegas Direktur Pengasuhan Santri ini. Ia menekankan bahwa konflik dalam organisasi adalah ujian. Ujian untuk mengaplikasikan nilai-nilai keislaman yang selama ini dipelajari. Bukan saatnya menunjukkan ego atau superioritas.
Hari kedua juga mengajarkan teknik pengambilan keputusan kolektif. Peserta diajak menerapkan konsep *syura* (musyawarah) secara praktis. Setiap usul harus disertai dengan argumentasi yang kuat dan data yang valid. Keputusan diambil dengan mempertimbangkan pandangan mayoritas. Tetapi tetap menjaga hak suara minoritas.
Pelatihan manajemen waktu berdasarkan prioritas ibadah juga diberikan. Para calon pemimpin belajar menyusun jadwal yang seimbang. Antara tugas organisasi, kewajiban belajar, dan ibadah mahdhah. Keseimbangan ini menjadi indikator kedewasaan seorang pemimpin santri. Mereka harus bisa menjadi teladan dalam pembagian waktu.
Evaluasi harian menunjukkan peningkatan signifikan. peserta telah mampu menerapkan nilai dalam simulasi. Mereka menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang tanggung jawab moral. Tidak hanya sekadar tanggung jawab struktural sebagai pengurus organisasi. Ini adalah kemajuan yang menggembirakan bagi para pelatih.
Hari kedua LDK OSADN menegaskan sebuah prinsip penting. Kepemimpinan yang efektif lahir dari karakter yang kokoh. Karakter yang dibangun dari internalisasi nilai-nilai Ilahi. Pesantren tidak hanya mencetak santri yang pandai memimpin. Tetapi mencetak pemimpin yang santri dalam setiap tindakannya.
Esok hari akan menjadi puncak dari seluruh proses pelatihan. Para peserta akan menyusun rencana strategis kepemimpinan mereka. Rencana yang tidak hanya visioner, tetapi juga aplikatif. Dan yang paling penting, sejalan dengan misi pendidikan pesantren. Mencetak generasi Qur’ani yang mampu memimpin dengan keteladanan.
