Tidak banyak orang yang tahu bahwa di dalam lingkungan pesantren, ada santri yang diam-diam sedang menulis lagu. Bukan lagu untuk tugas. Bukan lagu untuk lomba. Tapi lagu yang muncul dari perasaan yang sedang mereka rasakan — rindu rumah, persahabatan yang baru terbentuk, atau sekadar rasa syukur atas hari yang baru saja dilalui.
Prosesnya selalu dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.
Seorang santri memetik gitar pinjaman di pojok ruang kegiatan setelah jam belajar malam selesai. Nada yang dimainkan belum berbentuk — hanya akor-akor dasar yang diulang-ulang. Teman yang duduk di sebelahnya mulai bergumam, mencoba mencocokkan kata-kata dengan melodi yang terdengar. Tidak ada rencana. Tidak ada target. Hanya dua atau tiga anak yang sedang mengisi waktu luang mereka dengan cara yang terasa paling natural.
Dari gumaman itu, baris pertama lahir.
Biasanya tentang sesuatu yang sangat personal. Tentang malam pertama di asrama ketika semuanya terasa asing. Tentang teman yang pertama kali mengulurkan tangan saat kita tidak kenal siapa pun. Tentang suara adzan subuh yang awalnya mengganggu tidur tapi lama-lama menjadi alarm paling ditunggu. Kata-katanya tidak sempurna. Tata bahasanya kadang berantakan. Tapi ada kejujuran di dalamnya yang tidak bisa dibuat-buat.
Malam-malam berikutnya, proses itu berlanjut.
Baris kedua ditambahkan. Reff mulai terbentuk. Santri lain yang mendengar dari luar ruangan mulai tertarik dan ikut masuk. Ada yang menawarkan ide untuk lirik. Ada yang mencoba menambahkan ketukan dari meja atau lantai. Kolaborasi itu terjadi tanpa ada yang memimpin secara resmi — semua orang berkontribusi sesuai kemampuannya, dan hasilnya menjadi milik bersama.
Tidak semua lagu yang dibuat di pesantren terdengar bagus. Justru kebanyakan terdengar sederhana dan jauh dari sempurna. Tapi kualitas musik bukan hal yang paling penting di sini. Yang penting adalah proses pembuatannya — momen ketika sekelompok anak muda duduk bersama dan mencoba mengubah perasaan menjadi sesuatu yang bisa didengar.
Kenapa momen seperti ini jarang terjadi di tempat lain?
Di luar pesantren, anak-anak punya terlalu banyak distraksi. Layar ponsel selalu menawarkan hiburan yang sudah jadi. Tidak ada dorongan untuk menciptakan sesuatu dari nol ketika semua sudah tersedia tinggal sentuh. Di pesantren, ketiadaan akses ke hiburan digital justru membuka ruang bagi kreativitas yang tidak terduga. Santri yang tidak bisa menonton video musik di layar akhirnya membuat musiknya sendiri.
Ada satu momen yang sering menjadi puncak dari proses ini.
Lagu yang sudah selesai dinyanyikan untuk pertama kalinya di depan seluruh asrama. Mungkin di acara malam keakraban, mungkin di pentas seni kecil yang diadakan antar kamar. Suaranya tidak selalu merdu. Gitarnya kadang fals. Tapi ketika lirik tentang kehidupan pesantren dinyanyikan oleh anak-anak yang sedang menjalaninya, ada resonansi yang membuat penonton diam.
Bukan diam karena bosan. Diam karena tersentuh.
Santri yang mendengar lirik tentang rindu rumah tiba-tiba teringat ibunya. Yang mendengar lirik tentang persahabatan melirik teman di sebelahnya dan tersenyum tanpa berkata apa-apa. Lagu itu menjadi cermin kolektif — memantulkan perasaan yang dirasakan semua orang tapi belum pernah diucapkan.
Di Darunnajah 2 Cipining, kegiatan seni dan musik menjadi salah satu wadah ekspresi yang diberikan kepada santri. Tidak semua dari mereka akan menjadi musisi profesional, tapi proses menciptakan sesuatu bersama-sama menanamkan sesuatu yang bertahan jauh lebih lama dari lagunya sendiri.
Ada hal-hal yang memang tidak bisa kita ajarkan lewat kurikulum — dan seni adalah salah satunya. Dia harus tumbuh sendiri, dari tempat yang paling jujur di dalam diri seseorang.
Kalau ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan dan kegiatan santri di pesantren, bisa langsung datang atau mengobrol lewat WhatsApp 0812111180.