Sebuah kesyukuran bahwa pada akhirnya Pemerintah merumuskan kurikulum yang lebih kurangnya “sejalan” dengan idealisme pendidikan Pondok Pesantren seperti Annur Darunnajah 8.

Dalam rapat Kurikulum Tahunan Pesantren Darunnajah di Cipanas, terungkap dari Nara Sumber Diknas, DR.Muhammad Hatta, bahwa sebenarnya lembaga pendidikan seperti Pesantren-lah yang paling siap menerapkan kurikulum 2013 ini. Bahkan Kiai Mad Rodja Sukarta, anggota Dewan Nadzir Darunnajah merespon pemaparan beliau bahwa Pesantren telah lama menerapkan kurikulum ini sebelum pemerintah menerapkannya.

Beberapa alasan adalah salah satunya karena kurikulum 2013 (K-13) adalah kurikulum yang mementingkan proses daripada hasil (process oriented) melalui sistem penilaian autentik (authentic assessment).  Konsep pendidikan proses dan bukan sekedar hasil inilah yang menjadi kekuatan utama dari pendidikan karakter di pesantren selama ini. Santri dilibatkan dan diberdayakan didalam setiap aktifitas dan pengelolaan pondok, termasuk di dalam sisi pengajaran. Hasil atau nilai akhir dianggap tidak sah jika dilakukan dengan cara yang salah (proses)nya.

Kedua adalah adanya penilaian terhadap beberapa Kompetensi Inti yang dinilai dan dituntut ada didalam diri siswa termasuk kompetensi religi (spiritual) dan sikap sosial, sebuah hal yang memang sudah lama menjadi titik berat pendidikan di dalam dunia pesantren didalam mendidik dan membentuk akhlak santri. Bahkan dalam pendidikan pondok yang dilaksanakan dikenal juga adanya “RAPORT MENTAL” yang melengkapi Raport Akademis. Diraport mental inilah Kompetensi-kompetensi inti yang dikenalkan oleh K13 ini dinilai.

Selain itu, disampaikan oleh Abdullah Alkaff-seorang ilmuwan dari ITS dan salah satu konseptor utama dari Kurikulum ini, bahwa  salah satu tujuan utama dari K-13 ini adalah mengembangkan kreativitas peserta didik. Hal ini sejalan dengan dunia pendidikan pesantren yang dengan konsep pendidikan berasrama dan ektrakurikuler yang beragamnya mampu memberi ruang peserta didik untuk mengembangkan salah satu kemampuan inti dari kreatifitas, yaitu problem solving atau kemampuan untuk memecahkan masalah.

Maka dengan beberapa kesamaan idealism tersebut, Pesantren Darunnajah justru bersyukur dengan adanya kurikulum 2013 ini dan berupaya memaksimalkannya demi meningkatkan kualitas pendidikan di lembaga pendidikan pesantren.