Kuliah Sambil Tetap Mondok — Jalan yang Membuat Anak Tidak Kehilangan Kebiasaan Baiknya
Ada satu hal yang paling rawan hilang pada tahun pertama kuliah, dan biasanya bukan kemampuan akademiknya. Bukan pula nilainya. Yang hilang justru hal yang dulu berjalan tanpa perlu diusahakan sama sekali.
Apa yang sebenarnya berubah setelah anak lulus dari asrama?
Tahun pertama kuliah jarang dibicarakan sebagai masa yang rawan, padahal di situlah banyak kebiasaan lama diuji untuk pertama kalinya tanpa penopang apa pun. Selama enam tahun anak bangun sebelum subuh karena semua orang di sekitarnya bangun. Ia salat berjamaah karena masjidnya berada beberapa langkah dari kamar, dan belajar pada jam belajar karena memang begitu jadwalnya.
Setelah lulus, seluruh penopang itu dilepas sekaligus. Kamar kos sepi, jadwal disusun sendiri, dan tidak ada satu pun orang yang mengetuk pintu ketika waktu subuh lewat.
Perubahan itu jarang terlihat dari luar. Nilai kuliahnya bisa tetap bagus, kabarnya tetap baik ketika ditelepon, dan tidak ada satu pun tanda yang mengkhawatirkan. Yang berubah biasanya hal-hal kecil yang tidak pernah dilaporkan siapa pun, seperti jam bangun yang bergeser satu jam, lalu dua jam, sampai akhirnya tidak lagi ada jam yang tetap.
Sebagian anak melewatinya tanpa persoalan berarti. Sebagian lagi membutuhkan waktu cukup panjang untuk membangun ulang apa yang dulu berjalan sendirinya, dan tidak sedikit orang tua yang baru menyadarinya setelah satu dua semester berlalu.
Ilmunya ikut pulang bersama anak. Lingkungan yang selama ini menjaganya tertinggal di sana.
Apakah ada pilihan yang tidak memutus lingkungannya?
Di lingkungan Darunnajah 2 Cipining terdapat Universitas Darunnajah Kampus Bogor yang menyelenggarakan program sarjana dan pascasarjana. Anak yang menempuh jalur ini melanjutkan kuliah tanpa harus meninggalkan lingkungan yang selama bertahun-tahun membentuk keseharian.
Seperti apa jalannya bila ditempuh?
Yang paling terasa berbeda adalah tidak adanya masa terputus. Anak berpindah jenjang, bukan berpindah dunia. Wajah-wajah di sekitarnya sebagian masih sama, masjidnya sama, dan jadwal ibadah harian tetap berjalan sebagaimana biasa.
Perubahan yang terjadi justru pada posisinya. Anak yang tadinya diatur mulai ikut mengatur, dan yang tadinya dibimbing mulai membimbing adik-adik kelasnya. Peralihan peran seperti ini biasanya lebih membentuk daripada peralihan tempat.
Bagi penerima beasiswa, jalur ini bahkan sudah menjadi bagian dari perjanjian sejak awal. Seluruh penerima beasiswa di Darunnajah diwajibkan mengabdi setelah lulus, dan pengabdian itu menjadi masa ketika ilmu yang diterima mulai dikembalikan. Banyak yang mengalami bahwa memahami sesuatu secara utuh baru terjadi ketika harus menjelaskannya kepada orang lain.
Lingkungannya sendiri berbeda jauh dari suasana kampus di tengah kota. Kampus berada di atas lahan wakaf seluas 220 hektar di ketinggian bukit Cigudeg, dengan danau, kebun, dan lahan terbuka yang luas. Untuk anak yang butuh ketenangan saat mengerjakan tugas panjang, suasana seperti ini punya nilainya sendiri.
Pilihan kuliah sambil mondok juga mengubah cara waktu dipakai. Jarak antara tempat tinggal, ruang kuliah, dan masjid hanya beberapa menit berjalan kaki, sehingga jam yang di kota besar habis di perjalanan di sini tersisa untuk hal lain. Sebagian mahasiswa memakainya untuk mengajar, sebagian untuk memperdalam hafalan, sebagian lagi untuk kegiatan yang memang tidak akan sempat dilakukan bila setiap hari harus menempuh perjalanan panjang.
Sisi biaya hidup juga jarang masuk hitungan awal padahal berpengaruh besar. Kuliah di kota besar berarti menambah sewa tempat tinggal, transportasi harian, dan pengeluaran sehari-hari yang jumlahnya sering melampaui biaya kuliahnya sendiri. Tinggal di lingkungan yang sama memangkas sebagian besar pos itu, dan untuk keluarga yang masih menyekolahkan adik-adiknya, selisih ini terasa nyata.
Untuk siapa jalur ini paling cocok, dan untuk siapa mungkin kurang?
Kejujuran diperlukan di bagian ini, karena tidak ada satu jalur yang cocok untuk semua anak.
Jalur ini biasanya paling terasa manfaatnya bagi anak yang ingin mendalami ilmu keislaman lebih jauh, yang berniat mengajar atau membina, dan yang menyadari sendiri bahwa dirinya lebih tumbuh di lingkungan yang berstruktur. Cocok pula bagi keluarga yang ingin masa peralihan anaknya berjalan bertahap, bukan mendadak.
Anak dengan cita-cita yang menuntut jurusan tertentu, seperti kedokteran atau teknik penerbangan, tentu perlu menempuh kampus yang menyelenggarakan program itu. Anak yang memang membutuhkan pengalaman hidup di lingkungan yang sama sekali baru juga punya alasannya sendiri, dan alasan itu sah.
Perlu disebut pula bahwa lingkungan yang sudah dikenal punya sisi yang menuntut. Anak yang tinggal di tempat yang sama selama sepuluh tahun akan menghadapi pertanyaan wajar tentang seberapa luas dunia yang sudah dilihatnya. Sebagian menjawabnya dengan mengambil kegiatan di luar, sebagian lagi dengan melanjutkan pascasarjana ke tempat yang berbeda. Yang penting pertanyaan itu tidak dihindari, melainkan dibicarakan sejak awal.
Pertimbangan seperti ini sebaiknya dibicarakan bersama anak, bukan diputuskan sendiri oleh orang tua. Anak yang sudah menempuh enam tahun asrama biasanya sudah punya penilaian yang cukup matang tentang lingkungan seperti apa yang membuatnya berkembang.
Apakah pintu lain tetap terbuka?
Memilih melanjutkan di lingkungan yang sama tidak berarti menutup jalur lain, dan hal ini sering disalahpahami.
Ijazah dari jenjang menengah di sini berlaku sah pada jalur Kementerian Agama maupun Kementerian Pendidikan, sehingga pendaftaran ke perguruan tinggi negeri maupun swasta mana pun tetap terbuka. Tidak sedikit lulusan pesantren modern yang menempuh pendidikan tinggi di Timur Tengah, termasuk Al-Azhar, serta di Asia, Eropa, Amerika, dan Australia. Kerja sama formal dengan sejumlah universitas di berbagai negara turut membuka jalan itu.
Sebagian keluarga bahkan menempuh keduanya secara berurutan. Anak menyelesaikan jenjang sarjana di lingkungan yang sudah dikenalnya, lalu melanjutkan pascasarjana ke kampus lain setelah kemandiriannya lebih matang. Urutan seperti ini membuat perpindahan ke lingkungan baru terjadi pada usia yang lebih siap.
Ada pertanyaan yang biasanya baru muncul bertahun-tahun kemudian, ketika anak sudah bekerja dan memiliki keluarganya sendiri. Bukan tentang kampus mana yang tertera di ijazahnya, melainkan tentang kebiasaan mana yang masih ia jalankan sampai hari ini. Pertanyaan itu jarang terpikirkan saat memilih, padahal justru itu yang paling lama bertahan.
Bagaimana mengetahui apakah ini cocok untuk anak sendiri?
Pilihan ini lebih mudah dinilai setelah melihat suasananya secara langsung, terutama bersama anak yang akan menjalaninya. Berjalan di lingkungan kampus dan melihat kegiatan hariannya biasanya menjawab lebih banyak daripada penjelasan tertulis.
Berjalan di lingkungan kampusnya bisa dilakukan kapan saja tanpa perlu membuat janji, dan keluarga yang menempuh perjalanan jauh dapat menginap di dalam lingkungannya. Untuk menanyakan jenjang, program yang tersedia, maupun jalur pengabdian bagi penerima beasiswa, sambungan WhatsApp di wa.me/62812111180 bisa dipakai lebih dulu.