Tetap Dekat dengan Anak yang Mondok Meski Ponsel Tidak Ada di Tangannya
Kedekatan ternyata tidak selalu sebanding dengan jumlah pesan yang terkirim setiap harinya.
Bagaimana kami tahu kabarnya kalau tidak bisa menghubungi kapan saja?
Kekhawatiran ini biasanya muncul paling akhir, setelah semua pertanyaan tentang kurikulum dan biaya sudah terjawab. Bentuknya sederhana dan sangat manusiawi, yaitu bagaimana rasanya tidak bisa mengirim pesan pada pukul sembilan malam hanya untuk memastikan anak sudah makan.
Bagi keluarga yang terbiasa saling berkabar sepanjang hari, bayangan itu terasa berat. Ponsel sudah lama berfungsi bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga penenang bagi orang tua yang ingin tahu anaknya baik-baik saja.
Yang jarang terpikirkan adalah bahwa kabar setiap jam belum tentu sama dengan mengetahui keadaan anak. Banyak percakapan harian yang isinya hanya memastikan, bukan bercerita. Anak menjawab seadanya karena memang sedang tidak ada yang ingin disampaikan, dan orang tua merasa cukup karena pesannya dibalas.
Yang berkurang di pesantren jumlah percakapannya, bukan kedekatannya.
Saluran apa saja yang sebenarnya tersedia?
Komunikasi orang tua dengan santri di Darunnajah 2 Cipining berjalan melalui beberapa saluran sekaligus. Tersedia wartel untuk menelepon maupun melakukan panggilan video, dan orang tua boleh datang pada hari apa pun sepanjang jam kunjungnya masih berlaku. Pemantauan keuangan santri dapat dilihat kapan saja melalui portal resmi, sementara wali kamar yang tinggal di lingkungan pesantren mendampingi santri sehari-hari.
Apa yang berubah dari cara anak bercerita?
Perubahan pertama biasanya terasa pada isi percakapannya. Anak yang hanya memiliki waktu terbatas untuk menelepon cenderung memilih apa yang benar-benar ingin disampaikan. Kabar basa-basi menghilang dengan sendirinya, dan yang tersisa adalah hal yang menurutnya layak diceritakan.
Kemampuan menahan cerita juga tumbuh perlahan, dan ini bagian yang sering luput dihargai. Anak yang belum bisa langsung mengadu ketika ada hal kecil yang mengganggu akan mencoba menyelesaikannya sendiri lebih dulu, atau menyampaikannya kepada wali kamar. Sebagian persoalan selesai sebelum sempat diceritakan, dan anak menemukan bahwa dirinya mampu menanganinya.
Cara anak mendengarkan pun berubah. Ketika sambungan telepon terbatas, suara orang tua diperhatikan dengan cara yang berbeda dari mendengarkan sambil menatap layar. Nasihat yang sama, yang di rumah sering terlewat karena diucapkan sambil lalu, terdengar lebih utuh lewat telepon yang durasinya terbatas.
Yang paling sering mengejutkan orang tua adalah munculnya kembali kebiasaan bercerita panjang. Anak seusia sekolah menengah di rumah biasanya menjawab pendek dan segera kembali ke kamarnya. Anak yang sama, setelah beberapa bulan di asrama, sering kali berbicara jauh lebih banyak ketika bertemu, karena yang ingin disampaikan memang sudah menumpuk.
Bagaimana memanfaatkan waktu bicara yang terbatas?
Waktu yang terbatas membuat cara bertanya menjadi lebih menentukan daripada sebelumnya.
Pertanyaan yang terlalu umum biasanya menghasilkan jawaban yang juga umum. Tanya kabar dijawab baik, tanya betah dijawab betah, dan percakapan selesai dalam dua menit. Pertanyaan tentang hal yang konkret membuka lebih banyak, seperti pelajaran apa yang paling menyita waktu pekan ini, kegiatan sore apa yang sedang diikuti, atau siapa teman sekamar yang paling sering diajak berbicara.
Menahan diri untuk tidak memeriksa juga membantu. Anak yang merasa setiap percakapan berisi pemeriksaan cenderung menjawab dengan hati-hati, dan lama-lama menyimpan hal yang justru perlu diketahui orang tuanya. Percakapan yang terasa aman biasanya menghasilkan informasi jauh lebih banyak daripada percakapan yang terasa seperti pemeriksaan.
Menyampaikan kabar dari rumah sering terlupakan padahal berpengaruh besar. Anak yang tinggal jauh ingin tetap merasa menjadi bagian dari rumahnya, sehingga cerita tentang adiknya yang baru masuk sekolah atau kebun di belakang rumah yang mulai berbuah punya arti tersendiri. Percakapan dua arah membuat anak merasa tidak sedang ditinggal di luar keluarga.
Menyepakati waktu menelepon sejak awal juga meringankan kedua pihak. Anak yang tahu kapan giliran keluarganya berbicara tidak menghabiskan hari dengan menunggu, dan orang tua tidak menghabiskan malam dengan menduga-duga. Kepastian kecil semacam ini biasanya lebih menenangkan daripada sambungan yang tersedia kapan saja tetapi tidak pernah benar-benar dipakai untuk bercerita.
Menitipkan surat pendek saat berkunjung juga masih berfungsi, meski terdengar kuno. Tulisan tangan bisa dibaca berulang kali pada malam-malam yang berat, dan itu hal yang tidak bisa dilakukan terhadap panggilan telepon yang sudah berakhir.
Apa yang didapat anak dari hari-hari tanpa layar?
Bagian ini biasanya baru disyukuri setelah setahun berjalan, dan bukan hal yang direncanakan siapa pun.
Perlu disampaikan apa adanya, tidak semua anak melewati masa awal ini dengan mulus. Ada yang pada pekan-pekan pertama menangis di telepon dan meminta pulang, dan itu bagian yang wajar dari perpisahan pertama. Yang membantu pada masa seperti itu biasanya bukan menambah frekuensi telepon, melainkan kehadiran orang dewasa di tempat anak berada. Wali kamar yang mendampingi setiap hari berada pada posisi yang paling memungkinkan untuk itu.
Perhatian yang utuh adalah yang paling terasa. Anak yang belajar tanpa pemberitahuan yang masuk setiap beberapa menit mampu bertahan lebih lama pada satu bacaan. Kemampuan bertahan itu terbawa ke banyak hal lain, termasuk ke bangku kuliah bertahun-tahun kemudian.
Waktu tidurnya juga lebih teratur karena tidak ada layar yang menahan mata sampai larut. Anak yang tidur cukup lebih mudah menerima pelajaran keesokan harinya, dan hubungan sederhana antara keduanya sering baru terlihat setelah beberapa bulan.
Pergaulan yang berlangsung berhadapan langsung memberi pengaruh tersendiri. Perselisihan kecil di kamar harus diselesaikan dengan berbicara, bukan dengan mendiamkan lewat pesan. Kemampuan menyelesaikan perbedaan secara langsung terbentuk karena memang tidak ada jalan lain.
Ada satu hal yang jarang diakui orang tua, bahkan kepada diri sendiri. Sebagian dari kegelisahan pada bulan-bulan pertama sebenarnya bukan tentang anak yang tidak bisa dihubungi, melainkan tentang diri sendiri yang kehilangan kebiasaan menengok layar untuk memastikan. Perasaan itu wajar dan biasanya mereda seiring waktu, ketika anak mulai bercerita tanpa diminta.
Bagaimana memastikan sendiri seperti apa jalannya?
Aturan komunikasi di setiap pesantren berbeda, dan perbedaan itu berpengaruh besar pada keseharian sebuah keluarga selama bertahun-tahun. Karena itu wajar bila hal ini ditanyakan sejak awal, bersama pertanyaan tentang jam berkunjung dan pendampingan hariannya.
Hal seperti ini bisa ditanyakan lebih dulu ke nomor WhatsApp pendaftaran, wa.me/62812111180. Datang melihat sendiri juga bisa kapan saja tanpa membuat janji, dan suasana sore di lingkungan pesantren biasanya menjawab lebih banyak daripada penjelasan tertulis mana pun.