[Konsultasi] Menjaga Barang agar tidak hilang

Tanya   : Bagaimana agar barang – barang di Darunnajah tidak hilang?

Jawab   : Saudara akbar yang terhormat, terima kasih atas pertanyaan anda.

              Menyikapi masalah kehilangan memang sangat kompleks sekali. Banyak sekali kasus – kasus yang mengarah kepada kehilangan dan pencurian. Darunnajah sendiri untuk mengantisipasi kehilangan, khususnya di arena Darunnajah telah berkali – kali memberikan peringatan kepada warganya khususnya santri untuk tidak membawa barang berharga, baik uang, emas, atau barang – barang berharga lainnya. Karena pada praktenya semua itu jarang dipakai dikarenakan tujuan mereka ke Darunnajah sendiri adalah untuk menuntut ilmu dan bukan untuk pamer atau berfoya – foya dalam menghabiskan uang. Dalam beberapa pertemuan juga sangat sering sekali dibahas tentang larangan memegang uang diatas 20.000,- dan apabila lebih dari itu Darunnajah demi keamanan barang berharga khususnya uang telah bekerjasama dengan  Bank Mu’amalat Indonesia (BMI), atau dititipkan kepada musyrif/guru pembimbing asrama guna melayani penyimpanan uang diatas 20.000,-. Begitulah usaha Darunnajah untuk menghindari terjadinya masalah kehilangan barang.

Tapi inilah kehidupan, walaupun kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan sekuat – kuatnya, kita tidak bisa menjamin 100 % uang atau barang – barang tidak akan hilang. Karena itu sangat menyalahi hukum syariah, bahwasanya yang berkehendak adalah yang Maha Kuasa, Allah SWT dan kita hanyalah berusaha. Tapi dibalik itu semua kita harus tetap terus berusaha dan terus berusaha lagi untuk mengurangi angka kehilangan tersebut. Berikut kami sajikan penyebab kehilangan barang – barang dan pemecahannya, khususnya di kalangan santri. Kehilangan bisa disebabkan oleh diri sendiri dan karna orang lain, maka masalah ini dilihat dari 2 dimensi, si Pencuri dan si Pemilik barang.

I.   Si Pencuri. Diantara hal – hal yang menyebabkan si pencuri melakukan aksinya sedikitnya ada 2 penyebab, yaitu :

  1. Al-Jahlu ’Anis Syari’ah atau dalam bahasa Indonesianya Pemahaman tentang syari’ah yang kurang, sehingga untuk melakukan pencurian tidak ada rasa takut terhadap adzab yang akan ia terima di kemudian hari sebagai akibat dari ulahnya.
  2. Pendekatan spiritual yang kurang, sehingga hati nuraninya tertutup dari kebenaran dan kebaikan. Berapa banyak berita atau kejadian baik yang kita lihat langsung di tempat kejadian atau yang kita lihat di stasiun Televisi yang menyampaikan kejahatan – kejahatan yang seakan – akan telah menjadi begian dari kehidupan yang sudah sangat maklum. Sehingga hal – hal kekerasan ataupun kejahatan seolah – olah adalah hal yang biasa yang menjadi kebiasaan yang dapat dimaklumi dan pada akhirnya hati nurani sebagai naluri kebenaran tertutup untuk menerima kebaikan. Maka dari itu sangat perlu bagi seorang pencuri untuk di berikan pendekatan spiritual baik yang berbentuk seminar atau terapi dan lain sebagainya. Dan ini di harapkan bantuan dari orang – orang terdekatnya dan jangan pernah di kucilkan atau dijauhKAN.
  3. Kesempatan. Diantara penyebab yang paling sering dilakukan oleh sang pencuri adalah kesempatan. Sebagai contoh si Ahmad (nama samaran) adalah anak yang baik yang selalu barusaha untuk tidak melakukan kesalahan dan selalu berbuat baik. Tapi ketika dia dalam keadaan susah dan tidak punya uang padahal ia harus membeli buku dan pada suatu kesempatan ia melihat uang di atas lemari temannya, dengan berpikir panjang demi tercapainya kebutuhannya diambillah uang tersebut. Begitulah salah satu contoh bahwasanya kejahatan bukan saja karena keinginan tapi kadangkala juga karena kesempatan.

II.  Pemilik barang. Sebagai korban sedikitnya si pemilik barang harus melakukan pencegahan terhadap hilangnya barang   tersebut, diantara yang harus dilakukan oleh sang pemilik barang sedikitnya ada 3 cara, yaitu :

  1. Menyimpan barang di tempat yang tersembunyi atau dalam bahasa arabnya adalah Mahfuudzun dan tidak manyimpannya disembarang tempat atau tidak teledor.
  2. Tidak memamerkan barang yang berharga kepada orang lain, sehingga dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan memancing adanya kejahatan dan pencurian.
  3. Tawakal kepada Allah, kita kembalikan lagi semuanya kepada Alllah SWT. Karena pada dasarnya semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah SWT dan kita hanya dititipi untuk menjaganya dan apabila hilang kita ikhlaskan saja dan berharap agar Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Karena kalau kita ikhlas kita akan mendapatkan ganjaran pahala, tapi kalau sebaliknya da ditambah lagi dengan maki – makian dan kata jorok, sesungguhnya akan merugikan diri sendiri, baik secara spiritual, mental dan fisik.

Sekian saudara akbar penjabaran tentang Kehilangan barang. Jadi intinya semua itu kembali ke kita masing – masing lagi, tidak ada paksaan. Kalau ingin barang tidak hilang berarti harus disimpan dan dijaga dan kalau seandainya tidak mau menyimpan semuanya terserah kita. Hanya kepada Allahlah kita berserah. Wallahu a’lam Bis shawab.

Nara Sumber  : Ustadz Drs. H. Romly Djawahir, Lc