Hidup di pesantren mengajarkan satu hal yang jarang diajarkan di tempat lain — bagaimana menghadapi hal-hal yang tidak bisa dikendalikan dengan hati yang tenang. Bukan pasrah tanpa usaha. Tapi menyerahkan hasil setelah melakukan yang terbaik. Itulah tawakkal.
Apa yang membuat tawakkal di pesantren terasa berbeda dari konsep yang biasa didengar?
Di luar pesantren, tawakkal sering dipahami sebagai pasrah. Tidak melakukan apa-apa lalu menyerahkan semuanya ke Tuhan. Di pesantren, pemahaman itu sangat berbeda. Tawakkal di pesantren dimulai dari usaha yang sungguh-sungguh, baru kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Santri yang bersiap menghadapi ujian tidak duduk diam menunggu keajaiban. Mereka belajar keras berhari-hari, mengulang materi sampai paham, bertanya kepada ustadz kalau ada yang belum dimengerti — lalu setelah semua usaha dilakukan, mereka berdoa dan menyerahkan hasilnya. Proses itu mengajarkan bahwa tawakkal bukan alasan untuk tidak berusaha. Tawakkal justru membuat usaha terasa lebih ringan, karena beban hasil bukan lagi tanggung jawab sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana santri mempraktikkan tawakkal?
Di pesantren, ketidakpastian hadir dalam berbagai bentuk. Santri yang mendaftar untuk menjadi pengurus organisasi tidak tahu apakah akan terpilih. Santri yang ikut lomba pidato tidak tahu apakah akan menang. Dan santri yang menunggu hasil evaluasi bulanan tidak tahu apakah nilainya akan memuaskan.
Di semua momen itu, yang diajarkan pesantren adalah satu hal — lakukan yang terbaik, lalu lepaskan. Bukan lepaskan dalam arti tidak peduli. Tapi lepaskan dalam arti percaya bahwa ada rencana yang lebih besar dari rencana kita sendiri.
Kita hidup di dunia yang semakin penuh kecemasan tentang masa depan. Anak-anak zaman sekarang tumbuh dengan tekanan yang luar biasa — tekanan akademik, tekanan sosial, tekanan untuk selalu tampil sempurna. Di pesantren, anak-anak belajar bahwa tidak semua hal perlu dikhawatirkan. Bahwa ada kekuatan dalam menyerahkan sebagian kendali kepada yang lebih berkuasa.
Apa dampak tawakkal dalam membentuk karakter anak?
Santri yang terbiasa bertawakkal tumbuh menjadi orang yang lebih tenang menghadapi tekanan. Mereka tidak mudah panik saat menghadapi situasi yang tidak terduga. Gagal dalam ujian tidak membuat mereka hancur — karena mereka tahu bahwa usaha mereka sudah dilihat oleh Tuhan, meskipun hasilnya belum sesuai harapan.
Kemampuan ini sangat berharga di dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Orang yang bisa menghadapi kegagalan dengan tenang dan bangkit kembali dengan kekuatan baru adalah orang yang langka. Ribuan alumni pesantren membawa kemampuan ini ke mana pun mereka pergi — dan banyak yang tidak menyadari bahwa fondasi itu terbentuk dari kebiasaan sederhana di pesantren.
Ada ketenangan khusus yang dimiliki orang yang pernah belajar tawakkal secara nyata. Bukan ketenangan karena tidak peduli. Tapi ketenangan karena sudah tahu bahwa ada yang mengatur segalanya di luar kemampuan manusia.
Bagaimana tawakkal diperkuat lewat ibadah harian di pesantren?
Sholat berjamaah lima waktu setiap hari menjadi pengingat konstan bahwa manusia punya batas. Doa yang dipanjatkan setelah sholat menjadi momen menyerahkan segala kekhawatiran. Mengaji setiap sore sebelum Maghrib menjadi cara merawat hubungan dengan Tuhan yang memberi ketenangan batin.
Di mana tawakkal masih dipraktikkan setiap hari?
Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, dengan tradisi ibadah harian yang sudah berlangsung selama lebih dari tiga dekade, adalah salah satu tempat di mana banyak santri belajar tawakkal secara nyata — bukan dari ceramah, tapi dari pengalaman hidup.
Tawakkal bukan berarti berhenti berusaha. Tawakkal berarti melakukan yang terbaik, lalu menitipkan hasilnya kepada yang Maha Tahu.
Kalau ingin mengetahui lebih lanjut tentang kehidupan spiritual santri di sana, silakan hubungi lewat WhatsApp 0812111180. Satu percakapan bisa membuka banyak pemahaman baru.