Pesantren dan Konsep Ikigai yang Ternyata Sudah Dipraktikkan Jauh Sebelum Istilahnya Populer

Di Jepang, ada konsep yang disebut ikigai — alasan untuk bangun di pagi hari. Sesuatu yang memberikan makna pada kehidupan. Di luar sana, banyak orang menghabiskan bertahun-tahun mencari ikigai mereka. Di pesantren, banyak santri sudah menjalaninya setiap hari tanpa perlu memberi nama.

Apa hubungan antara pesantren dan konsep ikigai?

Ikigai terletak di perpotongan empat hal — apa yang kita cintai, apa yang kita kuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan apa yang bisa memberikan penghidupan. Di pesantren, keempat hal itu bertemu secara alami dalam kehidupan santri setiap hari.

Apa yang dicintai? Banyak santri yang perlahan jatuh cinta pada ibadah, pada ilmu, pada kebersamaan. Apa yang dikuasai? Bahasa asing, kemampuan memimpin, keterampilan sosial, fondasi ilmu agama dan umum. Apa yang dibutuhkan dunia? Orang-orang berkarakter kuat, berilmu, dan berakhlak mulia. Apa yang bisa memberikan penghidupan? Keterampilan dan pengetahuan yang menjadi bekal karir di berbagai bidang.

Di pesantren, semua itu bukan teori yang dibaca di buku self-help. Ia adalah kenyataan yang dijalani dari subuh sampai malam, setiap hari, selama bertahun-tahun.

Bagaimana pesantren menciptakan kehidupan yang bermakna setiap hari?

Kunci dari ikigai adalah rutinitas yang bermakna — dan pesantren adalah tempat di mana setiap momen punya tujuan. Bangun sebelum subuh untuk sholat berjamaah memberikan makna spiritual di awal hari. Belajar di kelas memberikan makna intelektual. Berinteraksi dengan ribuan teman memberikan makna sosial. Olahraga di sore hari memberikan makna fisik. Dan mengaji sebelum Maghrib memberikan ketenangan yang menutup hari dengan sempurna.

Tidak ada kekosongan. Tidak ada momen tanpa tujuan. Dan justru dari kepenuhan jadwal itu, santri menemukan sesuatu yang banyak orang dewasa masih cari — rasa bermakna.

Kita sering mendengar orang mengeluh tentang kehidupan yang terasa hampa meskipun sibuk. Di pesantren, kesibukan dan kebermaknaan berjalan bersamaan — karena setiap kegiatan punya tujuan yang jelas dan terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Kenapa banyak orang baru menemukan ikigai mereka di usia dewasa tapi alumni pesantren sudah mengenalnya sejak remaja?

Karena di pesantren, santri tidak hanya belajar tentang kehidupan — mereka menjalaninya secara utuh. Mereka tahu rasanya bangun dengan tujuan setiap pagi. Tahu rasanya menghabiskan hari dengan kegiatan yang bermakna. Tahu rasanya tidur dengan hati yang tenang karena merasa sudah melakukan yang terbaik.

Pengalaman itu tertanam sangat dalam dan menjadi referensi sepanjang hidup. Saat alumni pesantren memasuki dunia kerja atau membangun keluarga, mereka sudah punya standar tentang apa artinya hidup yang bermakna. Mereka tidak mudah terjebak dalam kesibukan tanpa makna karena sudah tahu bedanya.

Apa yang bisa kita pelajari dari pendekatan pesantren terhadap kehidupan bermakna?

Ikigai tidak harus dicari di tempat yang jauh atau lewat proses yang rumit. Kadang ia sudah ada di depan mata — dalam rutinitas yang dijalani dengan kesadaran, dalam hubungan yang dibangun dengan ketulusan, dalam ibadah yang dijalankan dengan keikhlasan.

Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining, dengan jadwal terstruktur dan kehidupan bermakna yang sudah berjalan selama lebih dari tiga dekade, adalah salah satu tempat di mana banyak santri menemukan ikigai mereka jauh sebelum istilah itu populer.

Hidup bermakna tidak perlu label mewah. Ia hanya perlu tujuan yang jelas dan lingkungan yang mendukung.

Kalau ingin mengetahui lebih lanjut tentang kehidupan di pesantren, silakan hubungi lewat WhatsApp 0812111180. Kadang makna yang selama ini dicari ternyata ada di tempat yang paling sederhana.