Dikisahkan disuatau Pesantren dari ribuan santri ada 3 santri baru yang memiliki motifasi unik hingga bisa masuk kedalam sebuah pesantren, sebuat saja namanya si A, si B dan si C mereka berasal dari tempat berbeda yang dengan izin Allah di pertemukan di salah santu tempat mulia di bumi yaitu Pesantren.
Lalu apa yang menjadikan ke 3 santri tersebut bisa masuk ke pesantren? si A adalah anak pendiam dia masuk ke pesantren karena paksaan dari orang tuanya, begitu buruknya pergaulan di masyarakat membuat orang tua si A memasukan ke pesantren agar terhindar dari pergaulan bebas yang berbahaya di lingkungannya.
Sedangkan si B orang yang simple atau biasa biasa aja masuk ke pesantren karena ikut ikutan, kebetulan temen kecilnya melanjutkan belajar ke pesantren hingga dia ikut. Dan si C seorang anak yang aktif masuk ke pesantren karena ingin menimba ilmu yang sudah Allah turunkan ia masuk peasntren karena Allah swt.
Berbekal dengan niat yang berbeda, semangat dan kesungguhan dalam berbagai kegiatanpun berbeda. Si A yang dipaksa oleh orang tua masuk kepesantren terlihat malas malasan enggan untuk mengikuti berbagai kegiatan, sering terlambat masuk kelas bahkan sesekali bolos sekolah.
Begitu dengan si B Karena foktor ikut ikutan, ketika di pesantrenpun terlihat hanya ikut ikutan dalam melakukan kegiatan, dia hanya ikut kegiatan yang dia sukai saja. Berbeda dengan si C yang mesuk pesantren karena Allah, dia terlihat semangat dan aktif dalam berbagai kegiatan, semua hal dia coba dan ingin selalu yang pertama, baik dengan sumua orang dan banyak temennya.
Hingga akhirnya di penghujung kelulusan, terlihatlah hasil dari niat dan apa yang mereka usahakan selama di pesantren. Si A yang dengan paksaan orang tuanya lulus dengan hasil dibawah standard. Si B karena ikut ikutan temennya, hasilnya sedikit lebih baik. Dan si C menjadi yang terbaik dari seluruh santri yang lulus.
Dari kisah di atas terdapat pelajaran berharga, segala sesuatu bergantung dari niatnya. Seperti dalam hadist mashur imam Buckari yang berbunyi, “ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى” yang artinya “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya”.
Dalam ilustrasi kisah di atas si A belajar ke pesantren karena bujukan orang tua tanpa ada keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang berharga maka ia keluar dari pesantren tanpa membawa apapun. Si B yang termotifasi karena temannya hanya mendapatkan sekedar apa yang ia usahakanya. Dan si C yang mempunyai niat untuk menggapai ilmunya Allah, maka Allah berikan apa yang ia inginkan.
Teman teman semua, sekarang belom terlambat untuk move on mari perbaiki niat kita, apa yang kita niatkan hingga kita sampai ada di pesantren ini, apakah karena paksaan orang tua? Apakah karena teman kita? Atau karena ingin mencari ilmunya Allah swt? Mari luruskan niat kita berada di pesantren untuk menimba ilmu Allah swt bukan karena lainnya.
Allah berfirman dalam Al Qur’an yang berbunyi, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ yang artinya “Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia supaya mereka beribadah kepadaKu”(QS. Ad Zariat: 45). Yang mana menuntut ilmu Allah adalah salah satu bentuk beribadah kepada Allah swt.
Teman teman yang berbahagia kita diciptakan kedunia sebagai hambaNya yang tidak lain untuk beribadah kepadaNya, maka sudah barang tentu dengan kesungguhan kita harus melaksanakan semua kewajibannya dan menjauhi semua laranganNya.
Semoga kisah diatas bermanfaat untuk kita semua Aamiin.
Dikutib dari taklim ba’da shalat isya’ oleh Bukhari santri kelas Akhir SMK Darunnajah Cipining.
Ahad, 30 Juli 2017 di Masjid Asrama Kampus 2.
(red/A.A)