Beberapa tahun yang silam – ketika tersebar wabah penyakit, kefakiran dan kelaparan – ada seseorang anak kecil terkena pebyakit cacar ganas (herves) yang pada saat itu belum ditemukan obatnya. Maka keluarganya tidak ada pilihan lain kecuali harus bersabar dan hanya mengharapkan pahala dari Allah swt atas cobaan yang menimpa anak mereka.

Balita

Ilustrasi

Pada suatu hari, sang ibu memperhatikan anaknya yang sedang berjalan meraba berpegangan dinding kamar. Ia tahu bahwa penyakit tersebut telah mengakibatkan buta mata anaknya, penyakit mata dan buah hatinya. Namun, Alhamdulillah, sang ibu mempunyai akidah yang lurus dan iman yang kuat menghujam di hati. Sehingga ia tidak terlalu bersedih hati atau berteriak histeris. Akan tetapi, ia mentauhidkan Allah, memuji-Nya dengan pujian yang indah. Ia pergi berwudhu, kemudian menuju mushallanya dan shalat dua rakaat dengan sujud yang panjang. Ia berdoa dalam sujudnya, “Ya Rabb, kalau seandainya Engkau butakan mata anakku, maka janganlah Engkau butakan mata hatinya. Ya Allah, jadikan ia faqih dalam urusan agama dan jadikanlah ia termasuk orang-orang yang hafal kitab-Mu.”

Ia memperpanjang doanya sambil menangis di hadapan Allah. Dengan penuh kerendahan ia bertawasul dan berdoa kepada penguasa semesta alam yang Maha Pengasih agar tidak membiarkannya dan agar mengabulkan doanya.

Si kecil pun tumbuh dalam pemeliharaan ibunya yang penyabar dan pandai bersyukur. Ia pun berhasil menghafal Al-Quran dengan sempurna, sedang umurnya masih dibawah sepuluh tahun. Di samping itu, ia mulai menghafal kitab-kitab hadits, tafsir, serta matan-matan kitab fikih dan sirah. Ia menampakkan kecerdasan yang luar biasa. Sehingga anak kecil yang terkena penyakit cacar tersebut menjadi seorang ulama besar yang terkenal.

Bahkan, Allah swt menganugerahkan kepadanya empat anak yang hafal Al-Quran, yang salah satunya juga menjadi ulama besar seperti ayahnya yang bisa diacungkan jempol kepadanya. Sekarang ia masih hidup, sementara ayahnya telah wafat dengan meninggalkan perjalanan hidup yang sangat terpuji, keturunan yang shaleh, serta ilmu yang bermanfaat berkat karunia Allah. Kemudian berkat doa sang Ibu yang penyabar, ikhlas dan jujur, Allah mengabulkan permintaannya. Ia tidak pernah putus asa dari rahmat Allah, belas kasih, dan karunia-Nya. Sehingga berkat kesabarannya, Allah mengganti musibah yang menimpanya dengan kebaikan dan menjadikan anaknya yang buta lebih baik dari mereka yang bisa melihat, serta menganugerahkan kepadanya keturunan yang cinta ilmu, ahli fikih, dan para hafidz Al-Quran.

Segala puji bagi Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya. Dialah yang mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya. Sungguh, Allah Maha Mendengar, dekat dengan hamba-Nya dan Maha Menjawab doa mereka.

[WARDAN/@abuadara]____________

Disampaikan pada Talim Bakda Isya oleh santri Kelas 6 TMI di Masjid Jamik Pesantren Darunnajah Cipining Bogor, 20 Februari 2013.