KISAH HIDUP IMAM SYAFI`I
Menu

KISAH HIDUP IMAM SYAFI`I

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Nama asli Imam Syafi’i adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i Bin Saib Bin Abdu Yazid Bin Hasyim Bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf.

Imam Syafi’i adalah berasal dari keturunan arab Quraisy. Nasabnya terkait dengan Nabi Muhammad saw.

Terlahir di Kota Gaza Palestina pada bulan Rajab 150 Hijrah. Ada yang mengatakan pada malam ia dilahirkan itu Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) meninggal dunia akibat diracun oleh Khalifah Abu Ja’far al-Mansur dari Bani Abbasiyah saat Imam Hanafi berada dalam penjara. Ia dipenjara, disiksa dan dirotan karena tidak mau bekerja sama kepada Khalifah Bani Abbasiyah yang lalim itu dengan menolak tawaran untuk menjadi Hakim kerajaannya.

Imam Syafi’i menghafal Al-Quran saat berumur 9 tahun.Beliau menghafal Kitab al-Muwatta ‘yang ditulis oleh Imam Malik (Mazhab Maliki) selama 10 tahun. Ia memiliki kecerdasan dan daya ingat yang sangat luar biasa.Dibenarkan memberikan fatwa sendiri oleh gurunya pada usia 15 tahun saat mengajar di Masjidil Haram.

Sebelum melahirkan dia, ibunya bermimpi melihat sebuah bintang keluar dari perutnya lalu naik ke langit.Lalu bintang itu pecah lalu jatuh berserakan jatuh ke bumi.Cahaya dari bintang pecah yang jatuh itu menerangi seluruh muka bumi.Ibunya terkejut bila mengetahui suaminya juga mengalami mimpi yang sama yaitu dia melihat ada sebuah bintang yang keluar dari perut istrinya.

Imam Syafi’i penentang praktek bid’ah. Dikatakannya, semua hal yang dilakukan melanggar Quran dan sunnah atau ijma ‘ulama adalah bid’ah yang keji dan sesat! Sedangkan setiap hal atau kebaikan yang tidak melanggar sedikit pun dari semua itu adalah bid’ah yang terpuji. Imam Syafi’i berpegang pada paham Ahli Sunnah Wal Jamaah seperti juga 3 orang Imam Mazhab lainnya yang terkenal seperti Imam Hanafi, Imam Maliki dan Iman Ahmad Bin Hambal (mazhab Hambali). Paham Ahli Sunnah Wal Jamaah ini dicetuskan oleh ulama sebelu mereka yaitu Syeikh Abu Hasan Asyaari dan Syeikh Abu Mansur al-Maturidi.

Imam Syafi’i juga melarang taklid, baik taklid kepada dirinya sendiri ataupun kepada siapa saja. Beliau selalu berpesan: “Janganlah mereka-reka dalam hal agama memakai pakai taklid saja pada kata maupun tindakan yang tidak disertai dengan keterangan ataupun alasan dari Quran dan hadis”. Beliau juga berpesan: “Setiap hal yang saya katakan padahal kata Rasulullah bertentangan dengan perkataan saya, Rasulullah itulah lebih utama harus dituruti”

NOTE: (Banyak yang tidak mencatat nama mursyid tarbiah ruhani bagi Imam As-Syafi’i karena nak membantah pendapat-pendapat yang memisahkan ilmu fiqih dgn tasawuf, guru beliau dalam bidang ini adalah Syuhbban Ar-Raie & Abu Hamzah As-Sufi. Untuk ma’aluman , ketiga Imam Mujtahid punya mursyid dlm ilmu tarbiyah ruhani.

Imam Abu Hanifah gurunya Imam Ja’far Shodiq. Imam Malik pula gurunya Imam Musa Kadzim & Maaruf Al-Khurki sedangkan untuk Imam Ahmad pula gurunya adalah Abu Hamzah As-Sufi & Bisyru Al-Hafi. Semua Imam-imam agung dari ke empat mazhab ada guru khusus mereka dalam tasawuf … hanya orang orang yg bodoh saja menganggap Tasawuf & Tarbiah Ruhani berasal dari Hindu-Buddha. ALLAHU ALIM! )

Antara pujian atau pandangan ulama-ulama lain kepada Imam Syafi’i adalah:

Imam Malik bekas gurunya pernah berkata:

“Tidak ada lagi keturunan Quraisy yang lebih pandai dari Imam Syafi’i”

Imam Ahmad Bin Hambal berkata:

“Wahai anakku, Imam Syafi’i itu seperti matahari bagi dunia dan seperti kesehatan bagi tubuh.”

Beliau juga berkata:

“Saya belum paham tentang ilmu hadits kecuali setelah belajar dengan Imam Syafi’i”.

Kata Imam Ahmad lagi:

“Setiap anggota hadis yang memegang tinta adalah berhutang budi kepada Imam Syafi’i”

Imam Muhammad al-Hakam berkata:

“Saya belum bertemu seorang yang lebih mengetahui, cerdik akalnya, lebih cerdas pikirannya, lebih cermat amalannya, lebih fasih lidahnya dari Imam Syafi’i”.

Beliau berkata lagi:

“Saya belum bertemu seorang yang lebih mengetahui mengenai usul Fiqah selain dari Imam Syafi’i”

Menyelusuri perjalanan hidup dan proses pembelajaran Imam Syafi’i sangat menarik sekali.Ayah beliau meninggal sewaktu Imam Syafi’i masih kecil, ada riwayat yang mengatakan saat ia masih dalam kandungan ibunya lagi. Gurunya yang pertama secara informal adalah ibunya sendiri. Ibunya mengajarkan dia mengenal huruf dan mengaji al-Qur’an. Setelah berumur 9 tahun ia sudah bisa menghafal Al-Quran.

Bila ibunya membawa Imam Syafi’i untuk berguru dengan Imam Ismail Kustantani, seorang guru ilmu Al-Quran yang terkenal waktu itu, Imam Ismail awalnya menolak karena Imam Syafi’i baru berusia 9 tahun sedangkan dia hanya menerima orang menjadi muridnya setelah berumur 12 tahun.Namun setelah dia menguji hafalan dan ingatan Imam Syafi’i tentang Al-Qur’an, ia sangat tertarik dengan ingatan dan suara Imam Syafi’i yang merdu lalu terus mengambil Imam Syafi’i menjadi muridnya.Apabila Imam Ismail ada urusan lain, Imam Syafi’i juga disuruh menggantikan tempatnya mengajar disitu!

Imam Syafi’i juga sangat meminati syair dan puisi, ia pernah berguru dengan Mas’ab bin Zubair seorang penyair terkenal.Dalam waktu 3 bulan saja, Imam syafie mampu menghafal 10.000 rangkap syair Bani Huzail. Pernah suatu kali Imam Syafi’i memasuki pertandingan syair atas desakan teman-temannya, lalu mengalahkan gurunya Mas’ab pula.

Imam Syafi’i berguru pula dengan Imam Sufyan Ainiah dalam ilmu hadis sehingga menjadi ahli dalam bidang hadis dan diberi kepercayaan oleh gurunya untuk mengajar menggantikannya saat ketiadaannya.

Setelah itu Imam Syafi’i berguru pula dengan Imam Muslim al-Zanji dalam bidang Feqah pula.Akhirnya dia diakui oleh gurunya dan diizinkan mengajar serta memberikan fatwa pula.Namun Imam Syafi’i masih merasakan kurang ilmunya lalu dalam diam ia mulai membaca dan menghafal kitab Muwatta ‘yang dikarang Imam Malik bin Anas pula.

Imam Syafi’i juga pernah belajar ilmu perang dan memainkan senjata dengan gurunya yaitu Amiruddin, seorang bekas tentera.Selepas itu Imam Syafi’i terkenal sebagai seorang pemanah yang handal.

Imam Syafi’i pernah bepergian ke Madinah yang berlangsung selama 8 hari dengan naik unta sambil sempat mengkhatamkan Al-Quran sebanyak 16 kali untuk menemukan dan berguru dengan Imam Malik yang saat itu menjabat Mufti Kota Madinah.Imam Syafi’i belajar dari Malik selama 8 bulan.

Setelah itu Imam Syafi’i merantau pula ke Iraq untuk belajar dengan anak murid Imam Hanafi yaitu Imam Muhammad al-Hassan dan Imam Abu Yusof.Beliau telah menghafal Kitab al-Awsat karangan Imam Hanafi dalam 3 hari saja telah mengejutkan kedua orang gurunya itu karena biasanya murid -murid mereka yang lain membutuhkan waktu paling kurang 1 tahun untuk menghafalnya.

Imam Syafi’i juga belajar ilmu firasat dengan Maulana Arif di Yaman. Di Yaman ia menikah dengan wanita bernama Hamidah dari keturunan Khalifah Utsman bin Affan. Mereka dikaruniai 3 orang anak.

Saat di Najran, Imam Syafi’i difitnah oleh Gubernur as-Saud yaitu Gubernur Najran kononnya Imam Syafi’i sedang menghasut rakyat untuk memusuhi dan menjatuhi pemerintah Bani Abbasiyah yang diperintah oleh Khalifah Harun ar-Rashid. Akibat dari fitnah tersebut Imam Syafi’i dan anak muridnya telah ditangkap, tangan dan kaki mereka dirantai. Mereka juga dipaksa berjalan kaki dari Najran ke Kota Kufah.

Namun dengan izin Allah Imam Syafi’i terlepas dari hukuman oleh Khalifah dan orang yang memfitnah mendapat hukuman yang setimpal. Diantara ayat Al-Quran yang dibacakan oleh Imam Syafi’i, yang membuat hati dan jiwa raga Khalifah Harun ar-Rashid terpesona adalah Firman ALLAH swt dari Surah al-Hujurat, ayat 6 yang berarti:

“Hai orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”

Itulah diantara liku-liku perjalanan yang ditempuh oleh Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu. Banyak guru dan tempat beliau belajar yang tidak disebutkan disini. Ia sangat mencintai ilmu. Pernah suatu masa Imam Malik memuji beliau dengan berkata:

“Jika ada orang yang bahagia karena ilmunya, inilah orangnya!”

sambil merujuk kepada Imam Syafi’i. Terkait dengan penggunaan ilmu pula Imam Syafi’i pernah mengatakan:

“Siapa yang mempelajari Quran, besar harga dirinya.Siapa yang mempelajari hadis, tinggi martabatnya.Siapa yang mempelajari bahasa, lembut hatinya.Siapa yang mempelajari ilmu hisab, tajam pandangannya dan siapa yang tidak memelihara dirinya, tidak berarti ilmunya”.

Karena kecintaan beliau yang begitu mendalam terhadap ilmu, jadi tidak heran jika Imam Syafi’i telah menulis 142 buah kitab selama hayatnya.

Imam Syafi’i meninggal dunia setelah waktu isyak, malam jumaat 28 Rajab tahun 204 Hijrah (tahun 820 M) di rumah Abdullah bin Hakam saat berumur 54 tahun di bumi Mesir. Jenazahnya dikuburkan di kuburan Bani Zaharah.

Saat Abu Ali al-Hasan menjadi perdana menteri Irak, ia memerintahkan kepala tentara Mesir Badr bin Abdullah menggali dan memindahkan kuburan Imam Syafi’i ke Baghdad. Setelah digali mereka menemukan batu bata yang tersusun membentengi liang lahat Imam Syafi’i. Setelah mereka memecahkan batu-bata itu, mereka terkejut karena tercium bau yang sangat harum dari dalam liang lahat itu malah ada beberapa orang dari mereka yang pingsan. Bila hal ini diketahui oleh perdana menteri Irak itu, maka ia pun membatalkan terus usaha memindahkan kuburan itu. Pada tahun 608 Hijriyah, sebuah Kubah telah dibangun. Tidak lama kemudian sebuah masjid didirikan disitu dengan nama Masjid Imam Syafi’i. Makam Ulama ini terus dikunjungi orang sampai kini.

Antara kata-kata menarik Imam Syafi’i:

1.Tuntutlah ilmu sebanyak mungkin karena ia dapat menjaga dan membuat kamu cemerlang di dunia dan akhirat.Ia juga praktek para Nabi, Rasul dan orang
saleh.

2.Marah adalah salah satu antara panah-panah setan yang mengandung racun. Jadi hindari ia supaya kamu dapat mengalahkan setan dan bala tentaranya.

3.Hati adalah Raja dalam diri. Jadi, lurus dan betulkan ia agar kekaisaran pemerintah dirimu tegak di atas al-haq yang tidak disertai oleh iringan-iringan pasukan kebathilan.

[Artikel diatas saya sunting dari buku: Imam Syafi’i Pejuang Kebenaran; ditulis oleh Abdul Latip Talib]

Dibawah ini saya siarkan 10 pesanan Imam Syafi’i untuk renungan kita bersama:

Sebelum Imam Shafie meninggal, ia sempat mengajak sahabat-sahabatnya agar membuat perubahan jiwa ke arah yang lebih baik. Ia menyebut bahwa barangsiapa yang ingin meninggalkan dunia dalam kondisi aman, maka lakukanlah 10 hal:

1. Hak kepada diri, yaitu dengan mengurangi tidur, mengurangi makan, mengurangi percakapan dan berpada-pada dengan rezeki yang ada.

2. Hak kepada Malaikat maut, yaitu menqada’kan segala kewajiban yang tertinggal, yaitu dengan meminta maaf dari orang yang dizalimi, membuat persiapan untuk mati dan merasa cinta kepada ALLAH SWT

3. Hak ke kubur yaitu membuang tabiat suka menabur fitnah, jangan suka kencing merata, memperbanyak shalat tahajjud dan membantu orang yang dizalimi.

4. Hak kepada Malaikat Munkar dan Nakir, yaitu jangan berkata dusta, sering berkata benar, meninggalkan maksiat dan memberi nasihat.

5. Hak kepada Mizan, yaitu menahan kemarahan, banyakkan berzikir, ikhlas dalam praktek dan sanggup menanggung kesulitan.

6. Hak kepada titian sirat, yaitu buang tabiat suka mengumpat, wara ‘, bantu orang beriman dan hidup dalam suasana berjamaah.

7. Hak kepada Malaikat Malik, yaitu menangis lantaran takut kepada Allah swt, memperbanyak sedekah, membuat kebaikan kepada orang tua dan memperbaiki akhlak.

8. Hak kepada Malaikat Ridwan, penjaga surga, yaitu ridha kepada qadha ‘Allah SWT, sabar menerima bala’ dan bertobat.

9. Hak kepada Rasulullah saw, yaitu dengan sering bersalawat kepada beliau, berpegang kepada sunnahnya dan bersaing mencari keuntungan dalam beribadah.

10. Hak kepada ALLAH, yaitu mengajak manusia kepada kebaikan, mencegah manusia dari melakukan kemungkaran, membenci apapun maksiat dan tidak melakukan kejahatan.

Subscribe & Dapatkan Update Terbaru

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Rapat Koordinasi Musyrif Kamar Pengasuhan Santri

Ahad (09/08/2020) Biro Pengasuhan Santri melakukan rapat bersama dengan para musyrif kamar seluruh rayon untuk menyampaikan beberapa poin mengenai peran musyrif sebagai pembimbing kamar setiap

blank
Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta

Tadabbur Al Qur’an, Memetik makna hikmah yang sesungguhnya

يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ “Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.