Kegaduhan terjadi saat Shalat Shubuh di Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawaroh. Para Jamaah Histeris, seseorang telah menikam tubuh khalifah Umar bin Khatab RA saat menjadi Imam Shalat Shubuh. Khalifah Umar bin Khatab tersungkur akibat terluka parah. Tusukan inilah yang akhirnya membuat Khalifah Umar bin Khatab meninggal dunia.

Peristiwa ini benar-benar mengagetkan seluruh penduduk kota Madinah Al-Munawaroh, Siapakah orang yang berani melukai dan membunuh seorang Khalifah Adil, Umar bin Khatab yang dicintai seluruh kaum muslimin.

Saat itulah terungkap pelaku kriminal yang mengamuk di Masjid Nabawi adalah seorang Majusi dari Persia bernama Fairuz atau yang populer dengan sebutan Abu Lu’lu’ah. Lalu bagaimana mungkin seorang beragama majusi penyembah api bisa berada di Kota Madinah? Bukankah kota Madinah adalah kota suci yang diharamkan bagi siapapun kecuali kaum Muslimin?.

Semua ini berawal dari perintah Khalifah Umar bin Khatab kepada sahabat mulia Sa’ad bin Abi Waqas, untuk menaklukkan Persia. Pada tahun 16 H, 10 pasukan Persia yang dipimpin Rustum dan Hurmuzan dapat dihancurkan sekitar lebih dari 40.000 pasukan muslimin. Jendral Persia, Rustum, Tewas. Sementara Hurmuzan berhasil meloloskan diri.

Hurmuzan: “Kekalahan seperti ini tidak pernah dialami Persia sebelumnya”

Sa’ad bin Abi Waqas: “Kabar gembira, wahai Amirul Mukminin, Allah telah membuat kalah musuh Muslimin. Pasukan kita berhasil mengalahkan pasuka Persia.”

Kemenangan ini benar-benar membahagiakan Khalifah Umar bin Khatab RA di Madinah. Sementara pasukan muslimin pimpinan Sa’ad bin Abi Waqash tetap bertahan di Iraq menunggu perintah Khalifah Umar bin Khatab.

Saat itulah, salah satu pemimpin pasukan Persia, Hurmuzan, yang berhasil meloloskan diri dari perang Qodisiyah tidak terima dengan kekalahan Persia. Maka ia pun mulai menggalang pasukan khusus untuk aksi balas dendam.

Hurmuzan: “Kita akan membentuk pasukan rahasia”

Abu Lu’lu’ah: “Aku siap menjadi relawan”

Seorang diantaranya yang siap menjadi relawan pasukan khusus Persia adalah Abu Lu’lu’ah. Seorang pandai besi Persia yang mahir dan memiliki banyak keahlian kerajinan tangan.

Sebenarnya Abu Lu’lu’ah bukan orang dari kalangan biasa. Abu Lu’lu’ah pernah menjadi tahanan Romawi ketika perang Persia dan Romawi meletus, hingga ia menjadi seorang pandai besi yang handal, karena keadaan yang memaksa.

Kini kekalahan persia ditangan kaum Muslimin benar-benar membuat Abu Lu-luah terkesima. Dendam mulai menggelayuti dirinya. Maka wajar bila Abu Lu-luah menyambut seruan aksi balas dendam kepada Muslimin karena faktor Ras Persia. Mana mungkin negeri Persia yang telah malang melintang menguasai dunia dan menebarkan peradaban di dunia bisa di hancurkan oleh sebuah kaum dari padang pasir?.

Hurmuzan: “Alangkah menyedihkannya Persia… hampir saja aku tidak percaya. Setelah Persia mengalami kebesarannya, tiba-tiba saja datang orang Arab. Padahal sebelumnya kita meremehkan mereka. Ternyata sekarang mereka mampu mengalahkan kejayaan Persia.”

Abu Lu’lu’ah: “Kok bisa?”

Hurmuzan: “Itu karena Islam yang mereka anut.

Apalagi belakangan ia tahu, bahwa pemimpin Muslimin yang membuat bangsa Persia takluk adalah Umar bin Khatab.

Hurmuzan: “Dia punya pribadi kuat. namanya Umar bin Khattab.”

Abu u’luah: “Umar Bin Khattab. Jadi dia pemimpin yang menggulingkan tahta Persia.”

Hurmuzan: “Benar

Abu Lu’lu’ah: “Umar bin Khattab. Tidak akan aku lupakan nama ini…

Abu Lu’lu’ah pun beraksi bersama sekelompok pasukan khusus menyerang markas pasukan muslimin di Iraq. Sejumlah Muslimin terbunuh, namun aksi mereka berhasil dihentikan. Kelompok ini pun ditangkap dan di tawan pasukan Muslimin. Termasuk Abu Lu’lu’ah.

Abu Lu’lu’ah: “Pemimpin Muslimin, Umar bin Khattab, dia penyebab semua musibah ini. Bagaimana cara agar aku bisa membalasmu, wahai Umar. Kau telah menghancurkan hatiku, wahai Umar”.

Sementara pimpinan mereka Hurmuzan melarikan diri.

Muslimin: “Kenapa Hurmuzan tidak ada? Dia melarikan diri. Nanti pasti kita bisa menangkapnya.

Nasib Abu Lu’lu’ah kemudian diserahkan kepada Al-Mughiroh.

Muslimin: “Keahlian apa yang kau miliki?”

Abu Lu’lu’ah: “Memahat. Membuat saluran air. Membuat gilingan gandum”.

Muslimin: “Profesi yang bisa dimanfaatkan. Dia aku serahkan kepadamu, wahai Mughiroh.”

Ilustrasi

Ilustrasi

Beragam keahlian yang dimiliki Abu Lu’lu’ah menarik minat Al-Mughiroh sang majikan. Namun untuk dibawa ke Madinah tentu tidak di perbolehkan. Karena tanah suci Madinah tidak boleh dimasuki selain kaum Muslimin. Sementara Abu Lu’lu’ah memilih tetap pada agama nenek moyangnya yaitu agama Majusi.

Al Mughiroh: “Kenapa kau tidak masuk Islam saja?”

Abu Lu’lu’ah: “Tidak mau! Aku tetap pada agamaku.

Al Mughiroh: “Islam itu agama yang haq. Tidak kah kau menyadari semua yang menentangnya kalah?”

Abu Lu’lu’ah: “Aku tidak akan pindah agama sekalipun dibunuh!.”

Al Mughiroh: “Baiklah. Memang tidak ada paksaan dalam beragama. Sudahlah, yang penting aku akan minta izin ke Khalifah agar kau dan kawan seprofesimu bisa masuk dan tinggal di Madinah. Agar bermanfaat bagi orang Muslim”.

Maka Al-Mughiroh pun meminta izin pada kholifah Umar bin Khotob agar Abu Lu’lu’ah dan kawan-kawan seprofesinya diperbolehkan tinggal di Madinah. Dengan alasan keahlian mereka bisa dimanfaatkan kaum muslimin.

Masuk kota Madinah Al-Munawaroh, Abu Lu’lu’ah tertegun. Seolah tidak percaya, Kota Madinah yang menjadi pusat Kholifah Muslimin dan berhasil menaklukkan kekuasaan raja di raja Persia, ternyata sangat sederhana.

Abu Lu’lu’ah: “Beginikah kotanya pemimpin Muslimin yang menggulingkan Persia? ini seperti desa paling terbelakang milik Persia.

Maka sejak itu Abu Lu’lu’ah bersama kawan-kawan seprofesinya tinggal di Madinah menjadi pengrajin. Dan inilah yang justru mendekatkan Abu Lu’lu’ah pada terbukanya pintu balas dendam pada pemimpin kaum Muslimin, Umar bin Khattab. Sementara Hurmuzan yang lolos dari kejaran kaum Muslimin tiba-tiba muncul di Madinah bertemu dengan Abu Lu’lu’ah. Ternyata ia tengah melakoni sebuah rencana.

Abu Lu’lu’ah: “Tuanku Hurmuzan..”

Hurmuzan: “Jangan keras-keras! Disini tak seorang pun tahu identitasku. Aku datang untuk misi penting. Aku minta bantuanmu.

Abu Lu’lu’ah: “Aku sendiri juga ingin melakukan sesuatu.”

Hurmuzan: “Tujuan kita sama. Kau seorang Majusi, aku juga. Kita bekerja sama demi keagungan api Majusi.”

Abu Lu’lu’ah: “Tapi kita harus hati-hati.”

Hurmuzan: “Baiklah, aku akan menemui Umar.”

Hurmuzan datang menemui Umar bin Khattab, meminta perlindungan.

Hurmuzan: “Aku Hurmuzan.. Gubernur Ahwaz, Persia.”

Muslimin: “Hurmuzan?”

Hurmuzan: “Dimana Umar?”

Sebagai seorang berdarah biru Persia, Hurmuzan tercengang, Umar bin Khattab pemimpin Muslimin yang berkuasa hampir separuh dunia hidup tanpa pengawalan.

Hurmuzan: “Dimana pengawalnya?”

Muslimin: “Dia tidak pernah punya pengawal, juru tulis dan ruang kerja.”

Hurmuzan: “Kalau begitu pasti dia seorang Nabi?”

Muslimin “Dia cuma Pemimpin Kaum Muslimin. (Dia) mengikuti cara Nabinya”.

Umar bin Khattab: “Wahai Hurmuzan, apa maumu?”

Hurmuzan: “Aku datang minta perlindunganmu. Maka lindungilah aku.. “

Umar bin Khattab: “Aku berlindung dari Api Neraka. Aku tidak akan melindungi seorang pembunuh kecil sepertimu.”

Umar tidak mau memberikan perlindungan kepada Hurmuzan, bahkan akan menghukumnya dengan hukuman mati karena telah banyak kerusakan dan pembunuhan. Namun dengan tipu dayanya, Hurmuzan kemudian menyatakan diri masuk Islam, sehingga lolos dari kematian.

Hurmuzan: “Asyhadu an Laa ilaaha illallah, wa Asyhadu anna muhammadan Rasuulllah..”

Umar bin Khattab: “Kau telah membeli hidupmu dengan Islam. Berikan dia bekal yang cukup untuk penghidupannya. Ajarkan Islam, dan beri pakaian yang pantas. Lepaskanlah perhiasan yang dia kenakan.”

Itu sebabnya Abu Lu’lu’ah begitu marah, mendengar bekas pemimpinnya telah memeluk Islam. Padahal ia sendiri hingga kini masih tetap memilih agama lamanya.

Abu Lu’lu’ah: “Kenapa kau tinggalkan agama kita, lalu memeluk agama mereka?”

Hurmuzan: “Aku tidak tahan hinaan menjadi tawanan. Makanya aku memeluk agama Islam untuk menjaga harga diriku.”

Abu Lu’lu’ah: “Demi tuhan api…  mereka itu mencurangi kita.!”

Namun Abu Lu’lu’ah kembali tenang setelah Hurmuzan mengaku terpaksa memeluk Islam untuk memuluskan rencana lebih besar kedepan.

Dendamnya kepada Khalifah Umar semakin menjadi, saat ia melaporkan sesuatu yang menurutnya ketidakadilan menimpanya, namun Khalifah Umar justru tidak berpihak kepadanya.

Umar bin Khattab: “Segala sesuatu itu ada porsinya. Inilah yang dinamakan Keadilan”

Abu Lu’lu’ah: (dalam hati) “Adil Apa? Itu adil menurut kalian. Tapi bagiku, adil itu… nanti kalian akan tahu.”

Catatan:

“Penyebab Besar Abu Lu’lu’ah membunuh Khalifah Adil Umar bin Khattab RA adalah dendam. Dendam ini sifatnya ada dendam Pribadi, misalnya ada kepentingan pribadi yang tidak tersampaikan dan tidak disetujui. Yang kedua adalah dendam agama. Dendam ini adalah penyakit yang sangat besar dalam hati seseorang. Yang ia bisa berujung pada  perbuatan menghilangkan nyawa orang, merusak barang kekayaan orang, atau mengambilnya dan segala macamnya.

Karena itu masalah hasad, masalah dengki dan dendam, itu merupakan salah satu bagian dari penyakit hati yang harus dihilangkan dari hati orang yang beriman. Rasulullah SAW menyampaikan; ‘Jauhilah oleh kalian dendam, karena dendam itu memakan kebaikan-kebaikan kita. Sebagaimana api memakan kayu bakar’.

Karena Rasulullah mengajari kita untuk memaafkan, Berapa banyak perilaku orang-orang yang sangat tidak sopan kepada Nabi, sangat kasar kepada Rasul, Bahkan Nabi terancam nyawanya, tapi Nabi Muhammad SAW memaafkan mereka. Tidak menyimpan kebencian didalam hatinya, juga tidak menyimpan dendam didalam dirinya. Dendam itu membakar setipa kebaikan yang ada dalam diri kita. Bayangkan, semua kebaikan kita habis hanya oleh dendam yang ada dalam diri kita.”

Maka disinilah api dendam makin membara pada khalifah Umar. Abu Lu’lu’ah tidak sedikitpun bisa melihat kebaikan Khalifah Umar bin Khattab RA dimatanya. Padahal siapapun tahu betapa Khalifah Umar adalah Khalifah yang begitu dicintai oleh masyarakatnya. Dendam Abu Lu’lu’ah telah menutup mata hatinya.

Abu Lu’lu’ah: “Hatiku terbakar, kawan.. dan tidak akan bisa dingin kecuali dengan balas dendam.

Teman seprofesi Abu Lu’lu’ah: “Pada siapa kau lampiaskan dendam, wahai Abu Lu’lu’ah?

Abu Lu’lu’ah: “Pada Umar!

Teman seprofesi Abu Lu’lu’ah: “Jangan Sembrono!”

Abu Lu’lu’ah: “Biar saja! kita sudah muak berpura-pura mengikuti mereka. Kesetiaan kita hanya pada api suci Majusi”.

Maka Misinya kali ini dipersempit dengan menjadikan target utama Abu Lu’lu’ah adalah menghabisi nyawa Khalifah Umar bin Khattab, ia tidak peduli lagi terhadap umat Islam lainnya. Di Kota suci Madinah, Abu Lu’lu’ah dan kawan-kawannya beribadah menyembah api, mereka menetapkan untuk membunuh Umar bin Khattab.

Abu Lu’lu’ah: “Wahai tuhan.. berilah jalan untuk balas dendam kepada Umar.

Rapat sembunyi-sembunyi mereka sempat dilihat oleh Abdur Rahman bin Abu Bakar, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Karena tidak mendapatkan bukti yang jelas saat itu, bahwa Abu Lu’lu’ah dan teman-temannya berencana akan membunuh Khalifah Umar bin Khattab.

Hari Rabu, tanggal 25 Dzulhijjah 23 H. Abu Lu’lu’ah mengenakan pakaian layaknya kaum Muslimin. Sambil menyelipkan sebilah pisau bermata duri bintangnya pergi ke Masjid Nabawi untuk menunaikan Shalat Shubuh berjamaah.

Saat Khalifah Umar menjadi Imam Shalat, Abu Lu’lu’ah mulai melancarkan aksinya. Abu Lu’lu’ah lalu keluar barisan dan secara beringas menikam Khalifah Umar bin Khattab. Suasana Khusyuk seketika berubah menjadi Kacau. Khalifah Umar terjatuh dari tempat berdirinya dengan luka tusukan itu.

Setelah berhasil menikam Umar, Abu Lu’lu’ah sempat mengamuk dengan Pisaunya dan mengakibatkan 13 orang terluka dan 7 lainnya meninggal. Maka segera Abu Lu’lu’ah ditangkap, namun Abu Lu’lu’ah bunuh diri menggunakan pisau yang sama digunakan untuk menikam Umar. Masjid Nabawi gempar!

Umar segera dibawa ke rumahnya sementara darah mengalir deras dari luka-lukanya, hal itu terjadi sebelum matahari terbit. Umar berkali-kali jatuh pingsan dan sadar, orang-orang mengingatkannya Sholat, beliau sadar sambil berkata, “Ya, Aku akan Sholat dan tidak ada bagian dari Islam bagi orang yang meninggalkan Shalat. Kemudian beliau Shalat.

Setelah Shalat Umar bertanya, siapa yang menikamnya? para sahabat menjawab, Abu Lu’lu’ah budak Al-Mughiroh. Umar langsung mengucapkan, Alhamdulillah yang telah menentukan kematianku ditangan seseorang yang tidak beriman dan tidak pernah sujud kepada Allah sekalipun.

Catatan:

“Maka Umar kemudian mengatakan bahwa; ‘Siapa yang membunuh saya? Apakah Muslim atau kafir?’ ketika di jawab bahwa yang membunuh adalah orang Musyrik, Kafir seperti Abu Lu’lu’ah maka Umar mengatakan, Segala Puji Bagi Allah, bukan Muslim yang membunuh saya. Kalau seorang Muslim yang membunuh saya, jangan-jangan saya telah menyakiti hati Muslim.

Pelajaran mahal buat kita semuanya. Bahwa orang sebesar Umar pun tidak mudah. Dalam kaidah ilmu juga dikatakan; ‘Keredhoan, Kesenangan, Kerelaan manusia itu sesuatu yang tidak mungkin dicapai. Hati kita tidak bisa menyenangkan semua orang’. Walaupun pemimpin besar seperti Umar. Tetapi tetap saja dia (Umar) berusaha menyenangkan jangan sampai ada seorangpun Muslim yang kecewa karena tindakannya.”

Tiga hari kemudian Umar bin Khattab wafat dan dimakamkan di Kamar Umul Mukminin Aisyah RA disamping dua sahabat tercintanya Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Kota Madinah dirundung duka

Salah satu pewaris dari Umar, Ubaidullah, marah besar hingga hilang kendali. Inilah manusia, orang mulia dalam keadaan tertentu tetap berbuat kesalahan. Dia lalu membunuh beberapa orang yang disinyalir bahkan dalam sejarah Islam disebut sebagai perencana pembunuhan Umar. Hurmuzan dan Jufainah dibunuh. Bahkan Putri Abu Lu’lu’ah juga dibunuh Ubaidullah. Ubaidullah pun ditangkap. Namun belum bisa diadili karena belum ada Khalifah.

Setelah Utsman bin Affan di baiat menjadi Khalifah, masalah pertama yang diputuskan adalah masalah Ubaidullah, para sahabat menyarankan Khalifah Utsman agar Ubaidullah dihukum Qisos, karena telah menghilangkan nyawa dengan cara tidak benar. Akan tetapi Utsman memutuskan lain, Khalifah baru kaum Muslimin ini memaafkan Ubaidullah sambil mengatakan kepada para sahabat nabi yang lain; “Kemarin ayahnya dibunuh, apakah sekarang anaknya juga dibunuh?”

Masalahnya bukan membunuh atau tidak dibunuh, para ulama sepakat ada dua hal yang melandasi kenapa Khalifah Utsman memilih memaafkan ;

  1. Ada kerancuan dalam benak Ubaidullah, bahwa orang-orang yang dibunuh benar-benar pembunuh Umar. Tentu ini tidak benar, karena urusan membalas seseorang harus diserahkan kepada pengadilan Islam.
  2. Mereka yang dibunuh itu Putrinya Abu Lu’lu’ah, Hurmuzan, Jufainah sehingga ketika tidak ada ahli waris yang ditanyai maka ahli warisnya akan berpindah ke negara. Negara saat itu yang Khalifahnya Utsman bin Affan, maka Utsman punya hak untuk memaafkan. Inilah yang membuat Ubaidullah dibebaskan dari Qisos.

Abu Lu’lu’ah telah menjalani takdirnya, mati dengan cara bunuh diri, cara kematian yang amat paling sangat tercela dan dilarang dalam agama.

Catatan;

“Didalam Islam ada 5 hal yang dijaga oleh Islam; diantaranya adalah menjaga jiwa. Maka apapun yang membahayakan nyawa dengan jalan yang tidak benar dalam Islam akan diharamkan, apapun bentuknya. Termasuk bunuh diri.

Maka bunuh diri seperti yang dilakukan oleh Abu Lu’lu’ah bukan merupakan sifat terpuji, dan dalam islam ia diharamkan, bahkan diancam dengan neraka. “Siapa yang membunuh dirinya sendiri maka dia di neraka”  Rasulullah SAW juga menyampaikan bahwa; “Siapa yang membunuh dirinya sendiri maka dia akan disiksa oleh Allah SWT di neraka nanti dengan cara dia bunuh diri di Dunia.”

Umpamanya dia bunuh diri dengan cara minum racun, dan pasti sakit sampai kemudian dia mati, maka nanti di neraka ia akan terus melakukan minum racun itu sampai merasakan kesakitan, kalau langsung mati, selesai urusannya. Namun di akhirat, kehidupan abadi yang sudah tidak ada kematian lagi disana.

Memang ada kesamaan meninggalnya sosok mulia Umar bin Khattab dan sosok hina Abu Lu’lu’ah keduanya sama-sama meninggal dengan belati yang sama, namun di akhirat kelak kedudukan keduanya amat sangat jauh berbeda. Rahimahullah, Umar bin khattab. [WARDAN/Deni]

Transkrip dari Video Serial Khalifah Trans 7 ; Episode Abu Lu’lu’ah, Pembunuh Khalifah Umar