Menu

Keutamaan Mempelajari Agama

Bagikan

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, sanak-keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga datang hari Pembalasan. Amma Ba’du: Sesungguhnya mempelajari agama termasuk di antara perbuatan-perbutan yang paling utama. Mempelajari agama adalah kunci untuk mendapatkan kebaikan.

Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan, maka Dia jadikan dia paham agama…”[1] Karena dengan mempelajari agama ilmu yang bermanfaat dapat didapatkan, ilmu yang dijadikan sebagai asas dalam beramal shalih. Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak.” (Qs. Al-Fath: 28) yang dimaksud petunjuk adalah ilmu yang bermanfaat, sedangkan yang dimaksud dengan agama yang benar adalah amal yang shalih.

Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk memohon kepada-Nya tambahan ilmu: Allah berfirman:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي

“Dan katakanlah, Wahai Tuhanku tambahkanlah ilmu kepadaku.” (Qs. Thaha: 114)

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Firman Allah, “Dan katakanlah, “Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku ilmu” ini adalah dalil yang jelas tentang keutamaan ilmu; karena Allah tidak memerintahkan Nabi-Nya untuk meminta tambahan sesuatupun keculai tambahan ilmu.”[2]

Nabi menjuluki tempat-tempat yang dijadikan untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat “Taman-taman surga” dan beliau memberitahukan bahwa para ulama’ adalah pewaris para Nabi.

Tidak diragukan lagi bahwa ketika seseorang ingin melakukan amalan apa saja, dia harus mengetahui cara yang benar untuk melaksanakan amalan itu; hingga amalannya dikatakan absyah, dan dia melakukan amalan yang ada manfaat dibaliknya, lalu bagaimana seseorang berani melakukan peribadahan kepada Tuhannya, yang mana peribadahan itu adalah kunci keselamatannya dari api neraka, dan kunci masuknya dia kedalam surga, bagaimana dia berani beribadah kepada Allah dengan tanpa ilmu?!

Oleh karena itu, manusia dalam menanggapi ilmu terbagi menjadi tiga golongan: Golongan pertama: Orang-orang yang mengumpulkan antara ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Mereka itu adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah, Allah memberikan petunjuk kepada mereka untuk meniti jalan yang lurus, jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, dari kalangan para Nabi, orang-orang yang benar, para syuhada’, dan orang-orang yang shalih, mereka itu adalah teman-teman yang paling baik. Golongan kedua: Orang-orang yang mempelajari ilmu yang bermanfaat, tapi tidak mau mengamalkannya. Mereka itu adalah orang yang mendapatkan kemurkaan Allah, mereka itu adalah orang-orang dari kalangan Yahudi, dan orang-orang yang sejalan dengan mereka. Golongan ketiga adalah: Orang-orang yang beramal tanpa ilmu. Mereka itu adalah orang-orang yang sesat, dari kalangan orang-orang Nasrani, dan orang-orang yang sepaham dengan mereka. Ketiga golongan ini termaktub dalam surat al-Fatihah yang selalu kita baca dalam rakaat shalat kita, Allah berfirman:

اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Qs. Al-Fatihah: 67)

Imam Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Adapun firman Allah, “Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat,” adapun orang-orang yang dimurkai adalah para ulama’ yang tidak mengamalkan ilmu mereka, sedangkan orang-orang yang sesat adalah orang-orang yang beramal tanpa ilmu. Golongan yang pertama adalah sifat orang-orang Yahudi, dan golongan yang kedua adalah sifat orang-orang Nasrani.

Mayoritas orang jika melihat dalam penafsiran ayat ini adalah orang-orang Yahudi, orang-orang yang dimurkai oleh Allah, dan orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang sesat, orang  yang bodoh mengira sifat itu adalah khusus buat mereka, sementara dia tahu Allah mewajibkan dia berdo’a dengan do’a ini, dan berlindung dari jalan orang-orang yang perangai mereka seperti ini!!

Maha Suci Allah! Bagaimana Allah mengajarkan, memilihkan, dan mewajibkan dia untuk berdoa’ kepada-Nya dengan do’a ini, lalu Allah tidak memperingatkannya dari sifat-sifat in?! Tidak bisa dielakkan perbuatannya ini adalah prasangka buruk kepada Allah.”[3] selesai perkataan Syaikh semoga Allah merahmatinya.

Allah menjelaskan hikmah dibalik kewajiban membaca surat yang agung ini (surat al-Fatihah) di setiap rakaat dari shalat yang kita kerjakan (shalat yang wajib maupun shalat yang sunnah), karena surat ini mengandung rahasia-rahasia yang agung. Termasuk diantara rahasia-rahasia yang agung itu adalah Allah memberikan kita taufiq untuk meniti jalannya orang-orang yang memeliki ilmu yang bermanfaat dan mengamalkan amalan yang shalih, jalan itu adalah jalan keselamatan di dunia dan di akhirat. Supaya Allah menjauhkan kita dari jalan orang-orang yang celaka, jalan orang-orang yang menyepelekan amal shalih dan melalaikan ilmu yang bermanfaat.

Kemudian ketauhilah wahai pembaca yang mulia; sesungguhnya ilmu yang bermanfaat hanya diambil dari Al Qur’an dan As-Sunnah, dengan pemahaman dan pentadaburan, dengan meminta bantuan kepada para pengajar yang handal, kitab-kitab tafsir, kitab-kitab fiqh, kitab-kitab nahwu, dan bahasa Arab, bahasa yang dengannya Al Qur’an yang mulia diturunkan. Sesungguhnya buku-buku ini adalah jalan untuk memahami Al Qur’an dan As-Sunnah.

Wahai saudaraku, engkau wajib menjadikan amalanmu benar:

Hendaknya engkau belajar semua pelajaran yang menjadikan agamamu tegak: shalatmu, puasamu, dan hajimu, hendaknya engakau belajar hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat, dan juga hendaknya engkau belajar hukum-hukum yang berkaitan dengan muamalat, hukum-hukum yang kau rasa membutuhkannya; supaya kamu dapat mengambil apa yang dihalalkan Allah untukmu, dan agar kamu dapat menjauhi segala apa yang diharamkan Allah kepadamu, supaya penghasilanmu menjadi halal, makananmu menjadi halal, dan supaya do’amu diijabahi. Semua itu sangat penting sekali untuk kamu pelajari, itu mudah untuk dilakukan dengan izin Allah, selama kemauanmu kuat dan niatmu tepat.

Sungguh-sungguhlah membaca buku-buku yang bermanfaat, selalulah berhubungan dengan para ulama’; agar kamu dapat bertanya kepada mereka mengenai permasalahan yang kamu anggap pelik, dan supaya kamu dapat belajar hukum-hukum agama dari mereka.

Demikian juga kamu harus memperhatikan dan menghadiri pertemuan-pertemuan dan ceramah-ceramah agama yang diadakan di masjid-masjid, dan di tempat-tempat lainnya. Kamu  juga harus memperhatikan dan mendengarkan program-program keagamaan yang ada disiaran, kamu juga harus membaca majalah-majalah dan selembaran-selembaran yang berkaitan dengan masalah-masalah agama, jika kamu sungguh-sungguh dan telaten dalam mengambil manfaat dari semua ini, maka pengetahuanmu akan berkembang, dan ilmumu akan bertambah.

Wahai saudaraku, jangan lupa: sesungguhnya ilmu itu akan bertambah dan berkembang dengan amal, jika kamu mengamalkan apa yang sudah kamu ketahui, maka Allah akan menambahkan ilmu yang lain kepadamu, sebagaiman dikatakan orang-orang bijak, “Barangsiapa yang beramal dengan ilmu yang dia ketahui, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang belum dia ketahui,” ini berdasarkan firman Allah:

وَاتَّقُواْ اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Al-Baqarah[2]: 282)

Ilmu adalah sesuatu yang paling berhak waktu dihabiskan untuk mencarinya, dan orang-orang yang berakal lebih pantas untuk berlomba-lomba menggapainya, dengan ilmu hati akan menjadi suci dan dengan ilmu semua perbuatan menjadi murni. Sesungguhnya Allah memuji para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan mengangkat derajat mereka dalam Kitab yang jelas (Al-Quran). Allah  berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الأَلْبَابِ

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Qs. Az-Zumar: 9)

Allah berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Mujadalah: 11)

Allah menjelaskan keistimewaan orang-orang yang berilmu dan beriman, kemudian Allah mengabarkan Bahwa Dia Maha Mengetahui apa saja yang kita kerjakan; agar Dia tunjukkan kepada kita, kita harus mencari ilmu dan mengamalkan ilmu secara bersamaan, dan itu semua dilakukan dengan iman dan muraqabah kepada Allah.

Dalam rangka tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, Kami hendak mempersembahkan kepada kalian – dengan pertolongan Allah- melalui buku ini sebagian pengetahuan-pengetahuan dari ilmu fiqh, ilmu yang para ulama’ ringkas dan tulis untuk kita dalam buku-buku mereka, kami akan mempersembahkan kepada anda apa yang dianggap mudah dari ilmu fiqh itu, mudah-mudahkan mendorong kamu untuk mengambil faidah, dan mencari tambahan ilmu yang bermanfaat.

Kita memohon kepada Allah, mudah-mudahan Dia memberikan kita ilmu yang bermanfaat, dan memberikan kita taufiq untuk melaksanakan amal shalih, kita memohon kepada-Nya diperlihatkan kepada kita kebenaran dan diberi rizqi untuk mengikuti kebenaran itu, kita memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepada kita kebatilan sehingga kita diberi rizqi untuk menjauhinya, sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan do’a.  Bersambung


[1] Muttafaq Alaih, dari Hadits Muawiyah semoga Allah meridhainya: Bukhari (71)[1/216) Kitabul Ilmi 13, dan Fathul Bari, muslim (2386)[4/128) Kitabuz Zakah 33 dengan penjelasan Imam An-Nawawi.

[2] Lihat “Fathul Bari” [1/187)

[3] Lihat “Tarikh Najd karya Ibnu Ghanam” hal. 491.

Subscribe & Dapatkan Info Lainnya

Pondok Pesantren Darunnajah

Berita Terkait

Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang Banten

Presentasi Peserta PPM Santri Akhir Kelas 6 TMI

Nurul Ilmi 12 Desember 2019. Salah satu kegiatan akhir santri kelas 6 TMI di Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 adalah Praktik Pengabdian Masyarakat (PPM). Kegiatan

Pondok Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 Serang Banten

Perdana! Upacara Disiplin Di Semester Genap

Pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14 melaksanakan upacara disiplin mingguan nya yang pertama di tahun ajaran baru 2018/2019. dalam kesempatan kali ini pimpinan Pondok Ust Fajar