Apa Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Al-Qur'an? Apa Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Al-Qur'an?

Apa Keutamaan Mempelajari dan Mengajarkan Al-Qur’an?

Mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an merupakan perbuatan yang sangat mulia. Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027)

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ juga memuji kemuliaan orang yang mempelajari dan mengajarkan kebaikan, termasuk Al-Qur’an:

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

“Keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi, sampai semut dalam lubangnya dan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Tirmidzi no. 2685, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Bagaimana Hukum Mengajarkan Al-Qur’an?

Mengajarkan Al-Qur’an hukumnya adalah fardhu kifayah. Artinya jika di suatu daerah sudah ada yang melakukannya, maka kewajiban tersebut gugur dari yang lain. Namun jika tidak ada sama sekali, maka semuanya berdosa.

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Mengajarkan Al-Qur’an dan ilmu syar’i adalah fardhu kifayah. Jika di suatu daerah tidak ada yang melakukannya, maka semua penduduknya berdosa sampai ada yang melakukannya. Ini tidak berarti setiap orang harus mengajar, tetapi yang wajib adalah memiliki kemampuan dan kesiapan untuk mengajar jika dibutuhkan.” (Al-Majmu’, 1/38)

Apa Saja Adab Penghafal Al-Qur’an?

Seorang penghafal Al-Qur’an hendaknya memiliki adab-adab mulia, di antaranya:

1. Ikhlas karena Allah dalam menghafal, membaca, dan mengajarkan Al-Qur’an.

2. Selalu berinteraksi dengan Al-Qur’an, membacanya secara rutin, dan mengulang hafalannya (muraja’ah).

3. Tidak menjadikan hafalan Al-Qur’an sebagai sarana mencari dunia, harta, kedudukan, dan sebagainya.

4. Semangat mengajarkan Al-Qur’an dan menyeru manusia untuk mempelajarinya.

5. Bersikap lembut dan menyambut hangat orang yang ingin belajar Al-Qur’an.

6. Mengamalkan Al-Qur’an dan tidak menyalahi syariatnya.

Mengapa Penghafal Al-Qur’an Harus Ikhlas?

Ikhlas merupakan syarat diterimanya amal. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Menghafal Al-Qur’an tanpa keikhlasan hanya akan menghasilkan kelelahan tanpa pahala. Nabi ﷺ pun memperingatkan:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ – يَعْنِي رِيحَهَا

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud no. 3664, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Bagaimana Cara Menjaga Hafalan Al-Qur’an?

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga hafalan Al-Qur’an antara lain:

1. Selalu membacanya secara rutin dalam shalat, baik shalat wajib maupun sunnah. Membaca Al-Qur’an dalam shalat lebih utama daripada di luar shalat.

2. Mengulang (muraja’ah) hafalan secara rutin. Misalnya setiap selesai shalat, sebelum tidur, atau waktu-waktu senggang lainnya. Nabi ﷺ bersabda:

تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا

“Jagalah Al-Qur`an ini. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat terlepas daripada unta dari ikatannya.” (HR. Bukhari no. 5033 dan Muslim no. 791)

3. Mendengarkan bacaan Al-Qur’an, baik langsung dari guru maupun rekaman murattal.

4. Sebisa mungkin berusaha untuk tidak menambah hafalan baru sebelum benar-benar menguasai hafalan lama.

5. Menjadikan Al-Qur’an sebagai wirid rutin, misalnya dengan membaca 1 juz setiap hari, sehingga dalam sebulan bisa khatam.

Apa Bahaya Menghafal Al-Qur’an demi Tujuan Duniawi?

Beberapa bahaya jika menghafal Al-Qur’an dengan tujuan duniawi, misalnya mencari popularitas, harta, kedudukan, dan sebagainya adalah:

1. Amal menjadi sia-sia dan tidak diterima Allah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang ikhlas dan mencari wajah-Nya.” (HR. Nasa’i no. 3140, dinilai shahih oleh Al-Albani)

2. Tidak akan mencium aroma surga, seperti dalam hadits sebelumnya.

3. Diancam masuk neraka, seperti hadits:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ يُمَارِيَ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

“Barangsiapa menuntut ilmu untuk berbangga-bangga dengan para ulama, merendahkan orang-orang bodoh, atau supaya pandangan manusia tertuju kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654, dinilai hasan shahih oleh Al-Albani)

4. Mendapat laknat. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ لِيَأْكُلَ بِهِ النَّاسَ أَكَلَ بِهِ النَّارَ

“Siapa yang belajar Al-Qur’an agar bisa ‘memakan’ manusia (mengambil keuntungan materi dari mereka), maka Allah akan ‘memberinya makan’ api neraka.” (Musnad Asy-Syihab 1/237, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Bagaimana Meneladani Rasulullah dalam Mengajarkan Al-Qur’an?

Beberapa cara meneladani Rasulullah ﷺ dalam mengajarkan Al-Qur’an:

1. Mengajarkan Al-Qur’an dengan lemah lembut dan kasih sayang. Diriwayatkan bahwa Nabi begitu lembut mengajari seorang badui membaca surah Al-Fatihah padahal dia sering melakukan kesalahan. (HR. Bukhari no. 6622)

2. Memotivasi para penghafal Al-Qur’an dengan keutamaannya. Beliau ﷺ bersabda:

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

“Akan dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: ‘Bacalah, naiklah, dan bacalah (Al-Qur’an) dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia. Sebab kedudukanmu di surga setingkat dengan ayat terakhir yang kau baca.” (HR. Tirmidzi no. 2914, dinilai shahih oleh Al-Albani)

3. Mengajarkan Al-Qur’an dengan sabar kepada pemula. Aisyah radhiyallahu ‘anha menggambarkan Nabi ﷺ:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 746)

Al-Qur’an memerintahkan kita untuk bersabar dalam menghadapi orang-orang yang membutuhkan bimbingan.

4. Memberi contoh mengamalkan Al-Qur’an, karena ‘Aisyah juga mengatakan bahwa Nabi ﷺ adalah Al-Qur’an yang berjalan.

Foto: Alumni angkatan ke-32 yang berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an 3 kali dan lebih (2024).

Bagaimana Bersikap kepada Orang yang Ingin Belajar Al-Qur’an?

Jika ada orang yang ingin belajar Al-Qur’an kepada kita, hendaknya disambut dengan gembira dan diperlakukan dengan baik, antara lain:

1. Menyambut mereka dengan ramah, senyum, dan wajah yang berseri-seri. Jangan bermuka masam atau bersikap sinis.

2. Menghargai niat baik dan antusiasme mereka untuk belajar. Jangan malah menyurutkan semangat dengan sikap yang tidak bersahabat.

3. Memulai dengan membaca ta’awwudz dan basmalah, lalu berdoa agar Allah memberi taufik dalam belajar mengajar.

4. Mengajari mereka sesuai kemampuan. Jangan terlalu membebani dengan materi yang sulit, tapi sesuaikan dengan level mereka.

5. Bersabar menghadapi kelemahan dan kesalahan mereka. Jika mereka keliru, betulkan dengan lembut tanpa mencela.

6. Memotivasi mereka untuk terus semangat belajar dan menghafal dengan menyebutkan keutamaan-keutamaannya.

7. Mendoakan mereka agar dimudahkan oleh Allah dalam belajar, menghafal, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur’an.

Mengapa Penghafal Al-Qur’an Harus Mengamalkan Isinya?

Al-Qur’an tidak sekadar untuk dihafal tapi juga untuk diamalkan. Tidak sempurna hafalan seseorang jika tidak dibarengi dengan pengamalan. Allah ﷻ berfirman:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ ۖ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ

“Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya. Mereka itulah yang beriman kepadanya.” (QS. Al-Baqarah: 121). Maksud “membaca dengan bacaan yang sebenarnya” adalah mengamalkannya.

Para ulama salaf sangat perhatian dalam mengamalkan Al-Qur’an. Diriwayatkan dalam Tafsir Ath-Thabari (1/80) dari Ibnu Mas’ud:

“Dulu jika seseorang dari kami mempelajari 10 ayat Al-Qur’an, dia tidak akan melampauinya sebelum mengetahui maknanya dan mengamalkannya.”

Abu Abdirrahman As-Sulami mengatakan: “Mereka (para sahabat) yang mengajarkan Al-Qur’an kepada kami menceritakan bahwa jika belajar 10 ayat dari Nabi ﷺ, mereka tidak akan menambah 10 ayat lagi sampai mereka paham dan mengamalkannya. Maka kami pun mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya.”

Nabi ﷺ juga memperingatkan orang yang hafal Al-Qur’an tapi tidak mengamalkannya:

وَيْلٌ لِأَقْوَامٍ يَحْمِلُونَ أَسْفَارًا، وَيْلٌ لِأَقْوَامٍ يَحْمِلُونَ أَسْفَارًا

“Celakalah suatu kaum yang membawa mushaf (hafal Al-Qur’an), celakalah suatu kaum yang membawa mushaf!” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Bagaimana Menjadikan Al-Qur’an sebagai Syafaat di Akhirat?

Al-Qur’an bisa menjadi pemberi syafaat di akhirat bagi orang yang membacanya, menghafalnya, dan mengamalkan isinya. Nabi ﷺ bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim no. 804)

Syafaat Al-Qur’an bukan hanya bagi yang menghafalnya, tapi juga yang rutin membacanya. Nabi ﷺ bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah ﷻ adalah yang paling kontinu meskipun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6464 dan Muslim no. 785)

Beberapa hal yang bisa kita lakukan agar Al-Qur’an menjadi syafaat bagi kita kelak:

1. Rutin membacanya, meskipun hanya beberapa ayat setiap hari, tapi konsisten.

2. Membacanya dengan tadabbur, yaitu merenungi maknanya dan berusaha mengamalkannya.

3. Membacanya dengan suara yang bagus dan tartil. Nabi ﷺ bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Bukan dari golongan kami orang yang tidak memperindah suaranya saat membaca Al-Qur’an.” (HR. Bukhari no. 7527 dan Abu Dawud no. 1469, dinilai shahih oleh Al-Albani)

4. Menjadikannya sebagai pedoman dan petunjuk hidup kita sehari-hari, bukan sekadar bacaan ceremonial atau penghias rak buku.

5. Berdoa kepada Allah agar menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hati kita, penawar kesedihan kita, dan penghapus dosa-dosa kita.

Penutup

Demikianlah pembahasan mengenai adab dan etika bagi penghafal Al-Qur’an atau orang yang berinteraksi dengan Al-Qur’an. Semoga Allah memudahkan kita untuk mempelajari, menghafal, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qur’an. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai sahabat setia dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mari kita perbanyak membaca Al-Qur’an, memahami isinya, mengamalkan tuntunannya, dan mengajarkannya kepada orang lain. Semoga kelak di akhirat, Al-Qur’an datang kepada kita sebagai pemberi syafaat dan cahaya yang menerangi jalan kita menuju surga. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Ayo Hidupkan Semangat Berinteraksi dengan Al-Qur’an!

Sebagai muslim, sudah selayaknya kita mencintai Al-Qur’an dan memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, baik dalam bentuk membaca, menghafal, memahami, mengamalkan, maupun mengajarkannya. Karena Al-Qur’an adalah sumber petunjuk dan pedoman hidup yang akan menuntun kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Meskipun kita mungkin belum bisa menghafal 30 juz, jangan menjadikannya sebagai alasan untuk tidak berinteraksi dengan Al-Qur’an. Mulailah dari hal yang sederhana dan sesuai kemampuan kita, seperti rutin membaca beberapa ayat setiap hari, berusaha memahami maknanya, dan mengamalkan tuntunannya. Sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit.

Bagi kita yang sudah diberi nikmat bisa menghafal Al-Qur’an, jangan lupa untuk terus mengulang dan memantapkan hafalan. Jangan sampai hafalan itu hilang karena tergerus oleh kesibukan dan urusan dunia. Berusahalah juga untuk mengajarkannya kepada orang lain, agar ilmu yang kita miliki bisa bermanfaat bagi sesama.

Mari kita hidupkan kembali semangat generasi terbaik umat ini dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan ahlul Qur’an, yaitu orang-orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, menghafalkannya, mengamalkan isinya, dan mengajarkannya kepada sesama. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.