Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Keutamaan Bulan Dzulhijjah (Bulan Haji)”

Pada sepuluh awal di bulan haji ini (Dzulhijjah) ada amalan yang istimewa, yang lebih baik daripada hari-hari selain sepuluh hari di awal bulan haji (Dzulhijjah) ini. Di sepuluh hari yang awal bulan Dzulhijjah – satu bulan ada 30 hari; ada sepuluh hari yang pertama, ada sepuluh hari yang kedua, dan ada sepuluh hari yang ketiga. Di sepuluh hari yang pertama ini amal shaleh yang kita lakukan itu lebih dicintai oleh Allah dibandingkan dengan sepuluh hari yang kedua atau sepuluh hari yang ketiga. Amal shaleh memang sama-sama dicintai, tetapi Allah lebih mencintai ini. Semua amal shaleh dicintai oleh Allah SWT., dibalas dan dilipatgandakan balasannya, tetapi pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah yang pertama ini lebih disukai. Allah lebih mencintai orang yang beramal shaleh pada sepuluh hari yang pertama. Nah, karena inilah maka kita manfaatkan ini.

Sekarang tanggal 8. Di Makkah hari ini tanggal 9, jadi mereka sedang berada di Arafah pagi ini. Sekarang jam 10, jadi di sana jam 6 pagi. Mereka sedang melihat-lihat kanan kiri. Kita di sini masih tanggal 8. Memang begitu, memang berbeda. Di Surabaya sudah shalat Maghrib, di sini belum shalat. Memang ada perbedaan.

Bulan ini ketika dilihat dari Indonesia, diamati, diteropong, oleh para ahli, baik yang mempunyai alat, maupun yang tidak mempunyai alat, yang mempunyai keahlian di bidangnya, di mana-mana, oleh Departeman Agama disebarkan untuk melihat bulan. Tetapi bulan itu belum tampak. Sedangkan tanggalnya baru tanggal 29 bulan Dzulqa’dah. Kalau tanggal itu baru tanggal 29, masih ada kemungkinan tanggal 30. Dalam bulan-bulan Islam itu hanya ada 29 dan 30 hari saja. Kalau tidak 29 hari berarti 30 hari. Kalau tanggal 31, tidak ada. Yang ada tanggal 31 itu bulan Kristen. Januari, Februari, Maret, April, Mei, itu bulan-bulan Kristen, Masehi, Isa al-Masih. Masehi itu Kristen.

Bulan Islam awalnya Muharram. Setelah Muharram Safar. Setelah Safar Rabi’ul Awal. Karena Nabi dilahirkan pada bulan ini, orang Indonesia bilang bulan Maulud. Setelah Rabi’ul Awal Rabi’u Tsani. Setelah Rabi’uts Tsani Jumadal Ula, kemudian Jumadal Tsaniyah/Jumadal Akhirah, kemudian Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dhulqa’dah, Dzulhijjah. Kita tidak hafal bulan-bulan Islam, tetapi bulan-bulan Kristen hafal. Karena Indonesia dulu dijajah oleh orang Belanda yang agamanya Kristen.

Sekolah zaman dulu juga diajari seperti itu, kita hafalnya Januari, Februari, Maret, April, Mei. Sedangkan Muharram, Safar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Tsani, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, kita tidak hafal. Karena yang mengajarkan nama-nama bulan Islam seperti itu adalah ustadz-ustadz madrasah. Kita hanya mendengar saja ada Syawal, Apit. Di Jawa bukan Apit, tapi macam-macam. Ada Apit, ada Legeno. Nama bulan itu berbeda-beda. Kalau bulan haji atau Dzulhijjah itu bulan Besar. Kemudian Suro, padahal Muharram. Sapar, Mulud, Ba’da Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Puasa, Syawal.

Di bulan Dzhulhijjah ini pada sepuluh hari yang pertama amal shaleh yang kita lakukan lebih disukai oleh Allah SWT., maka mari kita isi. Amal shaleh itu apa? Contohnya kita mengaji seperti ini juga amal shaleh. Tadi juga sudah disampaikan, sekalipun kelihatannya perbuatan-perbuatan duniawi, tapi kalau diniati ikhlas semata-mata mengharapkan balasan dari Allah, itu juga bisa menjadi amal shaleh yang mendapatkan balasan dan pahala dari Allah SWT, seperti ibu masak nasi diniati supaya mendapatkan ridha Allah, “Saya memasak nasi untuk anak-anak, untuk bapaknya, untuk keluarga semuanya, mudah-mudahan mereka sehat semuanya. Mudah-mudahan Allah meridhai kita semuanya.” Itu dapat pahala sebagai amal shaleh.

Amal shaleh di awal bulan Dzulhijjah ini sangat disukai oleh Allah SWT. Maka mari kita coba tingkatkan perbuatan baik. Kalau dalam bulan-bulan biasa kita jarang shalat Dhuha, coba kali ini ditingkatkan. Kalau dalam bulan-bulan biasa kita tidak banyak membaca Al-Quran, sekarang kita coba itu amal shaleh. Kita di dalam sedekah juga, selagi kita masih berada di hari-hari yang amal shaleh begitu dicintai oleh Allah SWT, maka kita tingkatkan sedekahnya. Kita jangan takut menjadi miskin dengan sedekah. Justru dengan sedekah itu kita akan menjadi kaya. Kalau kita ingin menjadi orang kaya, tingkatkan terus sedekah kita. Karena Allah akan membalas minimal sepuluh kali lipat. Tetapi bisa juga berlipat ganda. Misalnya, fi sabilillah (di jalan Allah) untuk pembangunan masjid. Ini tujuh ratus kali lipat. Untuk pembangunan pesantren atau madrasah. Bisa juga berlipat ganda, lebih dari itu.

الله يضاعف لمن يشاء

“Allah akan melipatgandakan terhadap siapa yang Allah kehendaki.”

Maka mari kita tingkatkan amal shaleh ini. Hari Arafah kita berpuasa. Puasa ini juga termasuk amal shaleh.

Hari Raya Idul Adha kita puasa atau tidak? Tidak. Karena puasa pada hari raya hukumnya haram. Kalau sekarang di tempat lain sudah hari raya sedangkan kita belum, maka kita tetap boleh berpuasa. Lalu kenapa hari raya kita tidak disamakan saja dengan yang di tempat lain?

Karena hilal ketika dilihat saat Maghrib di Indonesia tidak tampak. Sedangkan kita diperintahkan, “Kalau kamu sudah menyaksikan hilal, puasa.” Proses untuk melihat hilal ini sudah dilakukan dengan alat-alat yang canggih, disebar di mana-mana di seluruh Indonesia. Di Departemen Agama berkumpul para ulama, baik itu yang dari Muhammadiyah, dari NU, dari Persis, dan para ulama lainnya yang berasal dari mana-mana semuanya berkumpul. Di sana mereka mengadakan musyawarah. Hasil musyawarah hari ini adalah: Karena hilal belum bisa dilihat, maka belum masuk bulan. Berarti sempurnakan bulan sebelumnya (Dzulqa’dah) menjadi 30 hari. Karena belum ada yang melihat.

Karena haditsnya, puasalah kamu kalau sudah melihat, dan bukalah kamu – untuk hari raya Idul Fitri, misalnya, berarti tanggal satu Syawal – kalau memang sudah melihat hilal. Jadi apakah kita besok puasa Arafah itu puasa pada hari raya? Tidak. Kecuali bagi yang menganggap bahwa besok itu hari raya. Karena puasa pada hari raya itu tidak boleh. Persoalannya seperti itu.

Kita Darunnajah mengikuti keputusan pemerintah (Departemen Agama), karena pemerintah sudah menunjuk orang-orang yang ahli dengan dilengkapi peralatan dan sebagainya.

Kalau di tempat lain sudah hari raya ya kita hormati, silahkan. Kita tidak boleh menjelek-jelekkan. Kalau kita di Makkah, kita mengikuti keputusan pemerintah sana. Dan kalau kita di Indonesia maka kita mengikuti keputusan pemerintah Indonesia.

Hari ini disana wukuf di Arafah. Sedangkan kita baru besok puasa Arafah. Kok bukan hari ini? Hari ini kan di sana sedang wukuf Arafah? Ya, puasa Arafah itu tanggal 9. Tanggal 9-nya di sana itu hari ini. Tanggal 9-nya kita adalah besok. Jadi puasa hari Arafah itu bukan karena di sana sedang melakukan wukuf, kemudian kita berpuasa, bukan begitu. Orang-orang yang di Makah, di Saudi Arabia, sekalipun tidak haji, tidak mengikuti wukuf di Arafah, mereka puasa juga karena memang di sana kelihatan hilalnya.

Jamaah haji di Makkah saat ini, yang menjadi pikiran mereka sehari-hari hanya ibadah saja. Suara sampai habis karena membaca tahmid, takbir, tahlil, tasbih, dan lain-lain. Membaca ‘labbaikallahumma labbaik. Labbaika la syarika laka. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk. La syarika laka.’ Di jalan-jalan, di mobil-mobil, di pesawat, di bus, di pasar, suaranya seperti itu semua, gemuruh. Ada rombongan lima orang, mereka membaca talbiyah. Ada tiga orang, membaca talbiyah. Ada satu orang juga membaca talbiyah. Semuanya komat-kamit menghabiskan waktu dengan ibadah, menggunakan organ-organ tubuh ini untuk yang namanya ibadah itu.

Lalu apa saja yang bisa kita lakukan? Mari kita tingkatkan amal shaleh dari segala sisinya. Menyapu juga termasuk ibadah. Jangankan menyapu, yang besar, membuang sampah pada tempatnya juga ibadah, amal shaleh. Kata Rasulullah,

كل معروف صدقة

“Segala sesuatu yang baik adalah shadaqah.”

Shadaqah itu adalah ibadah, dan diberikan pahala oleh Allah SWT sepuluh kali lipat. Maka itu harus ditingkatkan. Kita yang mau berkurban, silahkan berkurban. Yang tidak berkurban karena belum mampu kurban, ya shadaqah. Itu sama juga diterima pahalanya. Tidak ada shadaqah yang tidak dibalas oleh Allah. Itu akan dibalas oleh Allah seberapa pun besarnya. Banyak akan dibalas dengan lebih banyak, sedikit juga akan dibalas dengan banyak.

Maka kita lakukan kebaikan apa saja, termasuk puasa ini. Puasa Arafah itu kata Rasulullah SAW, bisa menghapuskan dosa dua tahun; satu tahun sebelum puasa dan satu tahun setelah puasa. Luar biasa. Rugi kalau kita tidak puasa. Usahakan satu rumah kita puasa semua seperti halnya puasa Ramadhan. Anak kita siapa yang akan menyuruh puasa kalau bukan kita? Saya di sini anak-anak murid saya ajarkan untuk puasa. Siapa yang mau menyuruh mereka puasa kalau bukan kita. Saya bilang, “Puasa. Kalau perlu, bapak ibumu di rumah diajak berpuasa, kamu dapat pahala double; dapat pahala sebesar pahala puasa ibumu dan dapat pahala sebesar pahala yang diterima oleh bapakmu kalau kamu berhasil mengajak bapak dan ibumu puasa. Ajak juga kakak dan adikmu untuk berpuasa.”

Puasa Arafah ini ganjarannya luar biasa, dosa dua tahun diampuni! Sayang sekali kalau tidak dilakukan. Lalu anak kita siapa yang disuruh mengajak kalau bukan kita yang mengajak?

Amal shaleh yang paling dicintai adalah yang dilakukan pada sepuluh hari pada bulan Dzulhijjah ini. Jama’ah haji pun luar biasa. Thawaf tidak hanya sekali waktu datang, tetapi setiap hari dia melakukan thawaf. Bahkan, pagi thawaf, siang thawaf, malam juga thawaf. Bahkan malam pun kadang-kadang bukan hanya sekali; ba’da Maghrib sudah thawaf, ba’da Isya’ thawaf, nanti tengah malam juga thawaf. Banyak sekali yang dilakukan. Di Arafah setelah Zuhur baru wukuf. Apa yang mereka lakukan? Mereka shalat sunah; ya shalat wajib, shalat sunah, zikir, juga berdoa. Karena doa yang dikabulkan oleh Allah antara lain adalah doa di Arafah ini. Kita minta apa saja akan diberikan oleh Allah SWT.

Kita juga hendaknya berkurban. Tapi kalau belum mampu tidak apa-apa, kita bisa shadaqah. Para santri mengumpulkan uang untuk membeli kambing, lalu dipotong dan dibagi-bagikan, Shadaqah. Ya, memang belum mampu sampai kurban, tidak apa-apa. Beli makanan, bagi-bagi juga dengan yang lain. Tapi itu belum dinamakan kurban. Kalau kurban, sekurang-kurangnya harus satu ekor kambing. Kalau memotong ayam bagaimana? Itu belum berkurban, itu shadaqah. Tapi, dapat pahala atau tidak? Ya, dapat pahala. Pahalanya tentu tidak seperti pahala orang yang berkurban. Tapi dapat sepuluh kali lipat. Jadi, silahkan saja, tidak bisa berkurban, jangan sedih hati, masih bisa juga shadaqah, yang penting amal shaleh.

Tulisan ini adalah transkrip dari ceramah yang disampaikan oleh KH. Jamhari Abdul Jalal, Lc di Pondok Pesantren Darunnajah Cipining Bogor Jawa Barat. Dengan tema “Keutamaan Bulan Dzulhijjah (Bulan Haji)”